Minggu, 13 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Menjaga Sebangau, Menjaga Masa Depan: Langkah Faaiz Naufal Syahputra dari Pariwisata Menuju Aksi Konservasi

Foto Faaiz sedang memadamkan api. (Dok. Faaiz)

Laporan redaksi SAN

PALANGKA RAYA, INDONESIA — SUARA ANAK NEGERI| Api dapat mengubah wajah hutan dalam waktu singkat. Namun, mencegahnya membutuhkan proses yang jauh lebih panjang: pengetahuan, kesiapsiagaan, kepedulian, dan keterlibatan banyak orang. Pesan itulah yang dibawa Faaiz Naufal Syahputra setelah menghabiskan lima hari di salah satu bentang hutan rawa gambut penting di Kalimantan, Taman Nasional Sebangau.

Baca juga: ORYOIN MEMANAS: KELUARGA WATUNGLAWAR–MALIRMASELE TEGASKAN PENOLAKAN, “JANGAN BANGUN DI ATAS HAK YANG BELUM SELESAI” Groundbreaking Tetap Berjalan, Keluarga Soroti Sejarah Penguasaan, Sweri, Doa Adat dan Dorong Pemerintah Beralih ke Sumber Air Lain

Pada 8–12 September 2026, Faaiz terlibat sebagai relawan dalam Jelajah Taman Nasional Peduli Karhut di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Di kawasan tersebut, perjalanan yang semula mempertemukannya dengan lanskap alam berkembang menjadi pengalaman yang mempertemukan tiga hal sekaligus: pariwisata, konservasi, dan tanggung jawab generasi muda terhadap lingkungan.

Keterlibatan Faaiz memiliki latar belakang yang erat dengan perjalanan akademik dan profesionalnya. Sebagai mahasiswa bidang Pariwisata, ia tengah menjalani magang di Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, pada lingkup Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan, Subdirektorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam.

Namun Sebangau memberikan sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat ditemukan dari meja kerja maupun ruang kuliah: pengalaman melihat secara langsung bahwa di balik sebuah destinasi wisata alam terdapat sistem kehidupan yang harus terus dipertahankan.

Baca juga: Pembunuh Senyap di Ketinggian Jelajah: Mengapa Debu Vulkanik Sangat Ditakuti Pilot?

Taman nasional sering kali diperkenalkan melalui keindahannya. Hutan yang luas, sungai, satwa liar, serta bentang alam yang masih terjaga menjadi alasan orang ingin datang. Tetapi bagi kawasan konservasi, daya tarik tersebut hanyalah bagian yang terlihat dari sebuah cerita yang jauh lebih besar.

Ada ekosistem yang harus dipertahankan. Ada keanekaragaman hayati yang harus dilindungi. Ada masyarakat dan petugas yang hidup serta bekerja di sekitar kawasan. Dan ada berbagai ancaman yang dapat mengubah semuanya.

Di Sebangau, salah satu ancaman tersebut adalah kebakaran hutan dan lahan.

Karakter ekosistem rawa gambut membuat persoalan kebakaran memiliki dimensi yang tidak sederhana. Karena itu, berbicara mengenai perlindungan Sebangau bukan hanya berbicara mengenai bagaimana memadamkan api ketika kebakaran terjadi. Jauh sebelum itu, terdapat pekerjaan yang lebih penting: mencegah api memiliki kesempatan untuk muncul dan berkembang.

Di sinilah makna “Peduli Karhut” menjadi lebih luas.

Kepedulian tidak dimulai ketika asap telah memenuhi udara. Ia dimulai dari edukasi, kewaspadaan, perubahan perilaku, komunikasi lingkungan, keterlibatan masyarakat, hingga keberanian generasi muda untuk mengambil bagian dalam percakapan mengenai masa depan hutan.

Bagi Faaiz, pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap wisata alam.

“Selama berada di Sebangau, saya semakin memahami bahwa taman nasional bukan hanya tempat yang indah untuk kita kunjungi. Ada kehidupan dan ekosistem yang harus dijaga di dalamnya. Kita boleh datang untuk menikmati alam, tetapi kita juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan kehadiran kita tidak menjadi bagian dari ancaman terhadap alam itu sendiri,” kata Faaiz.

Pengalaman itu memunculkan pertanyaan yang semakin relevan bagi masa depan pariwisata: apa arti sebuah destinasi yang berhasil menarik banyak wisatawan apabila lingkungan yang menjadi daya tarik utamanya perlahan kehilangan kualitasnya?

Pertanyaan tersebut membawa pariwisata kembali kepada fondasi yang paling mendasar.

Wisata alam bergantung pada alam.

Ketika hutan terdegradasi, keanekaragaman hayati menurun, atau lanskap kehilangan integritas ekologisnya, pariwisata pada akhirnya juga kehilangan sesuatu yang tidak mudah digantikan.

Karena itu, konservasi bukan sekadar agenda tambahan dalam pengembangan wisata alam. Konservasi adalah prasyarat agar wisata alam memiliki masa depan.

Bagi mahasiswa Pariwisata seperti Faaiz, perspektif tersebut memberikan makna baru terhadap konsep pariwisata berkelanjutan. Keberhasilan destinasi tidak cukup dinilai dari seberapa banyak wisatawan datang, berapa lama mereka tinggal, atau seberapa besar manfaat ekonomi yang tercipta.

Ada pertanyaan lain yang harus menyertainya: apa yang tersisa setelah wisatawan pulang?

Jika jawabannya adalah ekosistem yang tetap sehat, masyarakat yang memperoleh manfaat, satwa liar yang tetap memiliki habitat, dan pengunjung yang pulang dengan kesadaran lingkungan yang lebih tinggi, maka pariwisata telah bergerak lebih dekat kepada keberlanjutan.

Pengalaman Jelajah Taman Nasional Peduli Karhut juga menunjukkan bahwa generasi muda memiliki ruang besar dalam proses tersebut.

Mereka mungkin tidak semuanya bekerja sebagai petugas konservasi. Mereka mungkin tidak setiap hari berada di dalam hutan. Namun generasi muda memiliki kekuatan lain: kemampuan untuk membawa cerita dari kawasan konservasi menuju ruang publik.

Sebuah perjalanan yang dahulu hanya menjadi pengalaman pribadi kini dapat berubah menjadi percakapan yang menjangkau ribuan orang melalui tulisan, fotografi, video, dan media sosial.

Di titik inilah perjalanan seorang relawan dapat menghasilkan dampak yang lebih panjang daripada durasi kegiatan itu sendiri.

Seseorang yang melihat keindahan Sebangau melalui foto mungkin tertarik untuk datang. Namun seseorang yang memahami cerita di balik Sebangau dapat datang dengan cara yang berbeda—dengan pengetahuan, rasa hormat, dan kesadaran bahwa ia sedang memasuki sebuah kawasan yang memiliki nilai jauh melampaui pengalaman wisatanya.

Bagi Faaiz, pengalaman magang di Kementerian Kehutanan dan keterlibatannya di Sebangau kemudian bertemu pada satu pemahaman yang sama.

Pemanfaatan dan perlindungan tidak harus menjadi dua pilihan yang saling bertentangan.

Wisata alam dapat membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal kawasan konservasi. Pengalaman tersebut dapat membangun apresiasi terhadap alam. Apresiasi dapat berkembang menjadi kepedulian. Dan kepedulian, apabila terus dipelihara, dapat menjadi kekuatan sosial untuk mendukung konservasi.

Namun hubungan tersebut hanya dapat tercipta apabila wisata tidak berhenti pada aktivitas melihat dan menikmati.

Ia harus memberi ruang untuk belajar dan memahami.

Ketika rangkaian Jelajah Taman Nasional Peduli Karhut berakhir pada 12 September 2026, Faaiz meninggalkan Sebangau bukan hanya dengan dokumentasi perjalanan.

Ia membawa pulang pertanyaan yang jauh lebih penting: apa yang dapat dilakukan setelah mengetahui bahwa kawasan seperti Sebangau membutuhkan lebih banyak orang untuk peduli?

Jawabannya tidak selalu harus berupa tindakan besar.

Bagi sebagian orang, kontribusi dapat dimulai dengan tidak melakukan aktivitas yang meningkatkan risiko kebakaran. Bagi yang lain, dengan membagikan pengetahuan mengenai pentingnya ekosistem gambut. Bagi mahasiswa, kontribusi dapat hadir melalui penelitian dan pengabdian. Sementara bagi wisatawan, langkah paling sederhana adalah memastikan setiap perjalanan meninggalkan jejak seminimal mungkin terhadap alam.

Faaiz memilih membawa pengalaman Sebangau kembali ke dunia yang selama ini ia tekuni: pariwisata.

Perjalanan tersebut memperkuat satu keyakinan bahwa generasi baru pelaku pariwisata tidak cukup hanya mampu menciptakan destinasi yang menarik. Mereka juga harus mampu mempertanyakan apakah destinasi tersebut akan tetap memiliki alam yang layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena pada akhirnya, tantangan terbesar wisata alam bukanlah membuat lebih banyak orang datang.

Tantangan terbesarnya adalah memastikan bahwa ketika mereka datang bertahun-tahun dari sekarang, hutan itu masih berdiri, satwa liar masih memiliki rumah, dan generasi berikutnya masih dapat menemukan Sebangau sebagaimana kita mengenalnya hari ini.

Kategori:
Tags:

Terkini