Minggu, 23 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Rayakan HUT Ke-52 YPPK, Keuskupan Agung Merauke Berkomitmen Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Laporan: Dr. Frits H. Pangeman, M.Sc.

MERAUKESUARA ANAK NEGERI| Dirgahayu Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Papua dan Keuskupan Agung Merauke pada usianya yang ke-52.

Baca juga: Dosen UNP Dorong Transformasi Digital Guru SMAN 2 Kinali - Sumbar Melalui AI dan Penguatan Kompetensi Akademik

Ucapan syukur atas ulang tahun ke-52 ini dirayakan dengan meriah oleh para guru dan pengelola YPPK, para siswa, serta umat Keuskupan Agung Merauke (KAMe) dalam Misa Syukur yang dipimpin oleh Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, di Gereja Katedral St. Fransiskus Xaverius, Merauke, Sabtu (22 Agustus 2026).

Dalam khotbahnya pada momen peringatan ulang tahun YPPK, Uskup Mandagi mendorong agar peristiwa ulang tahun YPPK ini menjadi momentum refleksi bagi para pelaku pendidikan, mulai dari jenjang pendidikan dasar dan menengah hingga pendidikan tinggi di Papua, untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan di Papua Selatan.

Baca juga: SECANGKIR KOPI 9

Komitmen peningkatan kualitas pendidikan tersebut juga ditegaskan oleh Ketua YPPK, RD. Alowisius Kelbulan, dalam acara syukuran yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, baik dari Provinsi Papua Selatan maupun Kabupaten Merauke, bersama Uskup Agung Merauke, Mgr. Mandagi, serta umat Keuskupan.

“Komitmen kami untuk peningkatan itu berjalan sesuai Visi YPPK Merauke, yakni mewujudkan komunitas pendidikan Kristiani yang cerdas, unggul, profesional dan penuh kepedulian, serta siap menghidupi budaya setempat,” ujar Pastor Kelbulan.

“Itu juga sesuai dengan Moto YPPK kami, yakni Kasih yang Mencerdaskan,” ungkapnya di sela-sela acara pembukaan perayaan di Gereja Katedral.

Penghargaan bagi Guru Berprestasi

Momen historis HUT ke-52 YPPK juga diisi dengan penganugerahan penghargaan kepada para guru yang berprestasi dalam menulis “naskah refleksi pribadi” maupun “naskah kelompok” yang direncanakan akan dipublikasikan dalam jurnal YPPK.

Program penulisan naskah tersebut merupakan bagian dari seminar artificial intelligence (kecerdasan buatan) dan penguatan nilai pendidikan yang dilaksanakan bulan lalu di Rumah Bina Pankat, Kelapa Lima, pada 27 Juli–1 Agustus 2026.

Kegiatan YPPK Keuskupan Agung Merauke dalam pelatihan Koding, AI, dan Penguatan Nilai Pendidikan bagi para guru & kepala sekolah TK-SMA di Kelapa Lima akhir Juli (YPPK Merauke)

Untuk kategori penulisan pribadi, penghargaan pertama diberikan kepada Guru Yonas Bato’ Rinding, S.Pd., Gr., dari SMA YPPK Yohanes XXIII Merauke. Penghargaan kedua diberikan kepada Ibu Guru Alfonsa Puspa Resubun, S.Pd., dari SMP YPPK Yohanes XXIII Merauke. Sementara penghargaan ketiga diberikan kepada Ibu Guru Agnes Ujoto, S.Pd., dari SMA YPPK Yohanes XXIII Merauke.

Sementara itu, untuk kategori penulisan kelompok, penghargaan pertama diraih oleh kelompok guru SMA YPPK Yohanes XXIII Merauke. Penghargaan kedua diraih oleh para guru SD YPPK St. Fransiskus Xaverius Yanggandur, sedangkan penghargaan ketiga diberikan kepada para guru SD YPPK St. Agustinus Bambu Pemali Merauke.

Kilasan Sejarah YPPK

Lahirnya lembaga pendidikan Katolik di Papua berawal dari komitmen Gereja untuk memajukan pendidikan di Tanah Papua. Pada tahun 1974, Gereja Katolik di wilayah Papua mendirikan apa yang kemudian dikenal sebagai Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) dengan Akta Notaris Nomor 64 Tahun 1974 dan berkedudukan di Jayapura.

Langkah awal karya YPPK adalah mengembangkan pendidikan melalui pendirian sekolah-sekolah di tingkat provinsi hingga daerah-daerah kabupaten, distrik, dan kampung-kampung di pelosok Papua dalam lingkup Gereja di wilayah keuskupan-keuskupan.

Ketua YPPK Keuskupan Agung Merauke RD Alowisius Kelbulan (File: FHP)

Luasnya pengembangan pendidikan tersebut membutuhkan kerja sama dengan pemerintah dan masyarakat setempat. Menurut Pastor Kelbulan, hal itu dilakukan karena pendidikan merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat.

Seiring dengan adanya otonomi daerah dan pemekaran wilayah-wilayah kabupaten, para uskup se-Papua dalam rapat akhir tahun 2001 mencapai kesepakatan untuk melakukan pemekaran YPPK menurut keuskupan-keuskupan yang ada.

Keuskupan Agung Merauke disepakati untuk mencakup Keuskupan Agats dalam urusan YPPK, lanjut Pastor asal Kepulauan Tanimbar tersebut.

Pada tahun 2001, lahir UU Yayasan yang baru dengan Nomor 16 Tahun 2001 yang mendorong berdirinya YPPK wilayah Merauke. Atas mandat tersebut, didirikanlah YPPK Merauke terhitung 23 Mei 2002 dengan Akta Notaris Nomor 09 Tahun 2002.

Munculnya pemekaran YPPK ini, menurut Pastor Kelbulan, dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan Gereja kepada masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan.

Dengan pendirian tersebut, pemerintah daerah memberikan wewenang kepada YPPK Merauke untuk mengelola dan menyelenggarakan pendidikan di wilayah Kabupaten Merauke dalam yurisdiksi Provinsi Papua Selatan.

Pengelolaan pendidikan tersebut didukung oleh pemerintah dan masyarakat, mengingat pendidikan adalah kunci peradaban manusia dan kemajuan bangsa, terutama kemajuan masyarakat Papua Selatan.

YPPK Merauke kemudian menyelenggarakan pendidikan dengan mengikuti skema sederhana yang diperkenalkan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), yakni mendampingi subjek didik dalam proses belajar.

Pendampingan tersebut mencakup pembelajaran moral dan intelektual, seperti mengetahui dan memahami (learning to know), belajar melakukan sesuatu (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be oneself), dan terutama belajar menjalani kehidupan bersama (learning to live together).

Dalam proses belajar yang bergradasi, anak-anak bertumbuh menjadi individu dan anggota masyarakat yang sehat dan cerdas, religius, berkesadaran moral dan hukum, serta berkomitmen hidup bermasyarakat dengan sejahtera, jelas Ketua YPPK tersebut.

YPPK Merauke sebagai lembaga swasta yang bertanggung jawab atas pengembangan generasi muda meneruskan warisan yang telah ada sebelumnya.

“Jauh sebelum ada YPPK, reksa pastoral pendidikan telah lama ada di Papua yang diemban para misionaris MSC (Misionaris Hati Kudus Yesus) yang datang ke Merauke sejak tahun 1905,” lanjut Pastor Kelbulan.

Para misionaris asal Belanda tersebut telah berperan sangat besar dalam melahirkan dan menumbuhkembangkan pendidikan dan persekolahan Katolik di Papua Selatan, dengan cara sederhana menuju model persekolahan yang semakin modern.

“Mereka telah mengangkat harkat dan martabat manusia Papua berdasarkan nilai-nilai Injili,” imbuhnya.

Enam Periode Pendidikan Katolik di Papua Selatan

Sekadar meringkas lintasan sejarah tersebut, skema pendidikan Katolik di Tanah Papua, khususnya di wilayah Selatan, dibagi dalam enam periode, lanjut Pastor Kelbulan.

Periode pertama berlangsung antara tahun 1905–1920, yang ditandai dengan awal penanaman iman Kristiani melalui pewartaan Injil sekaligus pengenalan peradaban dan integrasi budaya.

Periode kedua berlangsung sekitar tahun 1921–1950 dan melahirkan apa yang disebut sebagai “Sekolah Peradaban”. Pada era tersebut, pendidikan Katolik telah tumbuh dan menyebar luas di seluruh Keuskupan Agung Merauke melalui hadirnya sekolah-sekolah rakyat.

Periode ketiga terjadi sekitar tahun 1951–1962, yang menyaksikan adanya era peralihan dari sekolah peradaban menjadi sekolah formal dengan sistem kurikulum yang merata di banyak sekolah.

Menyusul periode keempat antara tahun 1963 dan 1973, yang diikuti oleh sejumlah peralihan dan penyesuaian sistem pendidikan di banyak wilayah Indonesia, termasuk di Papua.

Pada tahun-tahun tersebut, Keuskupan Agung Merauke menyaksikan lahirnya SMA pertama yang ada di seluruh Papua Selatan, yakni SMA YPPK Yoanes XXIII, pada 1 Agustus 1963.

Sekolah tersebut lahir dua tahun setelah wilayah Vikariat Apostolik Merauke—nama lama Keuskupan Agung Merauke—berubah status menjadi Keuskupan Agung Merauke pada 15 November 1961 di era kepemimpinan Mgr. Herman Tillemans, MSC (1902–1975).

Periode kelima berlangsung sekitar tahun 1974–2003, yang menyaksikan lahirnya Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Merauke.

Pada era tersebut, banyak sekolah, baik swasta maupun negeri, muncul di berbagai wilayah Papua Selatan dan wilayah-wilayah Papua lainnya.

Masa modern ini kemudian diikuti periode keenam, yang terhitung sejak 23 Mei 2003 hingga sekarang. Seperempat abad terakhir dari era pendidikan ini, persekolahan telah berkembang pesat di berbagai tempat, bersamaan dengan meluasnya kiprah YPPK Merauke di banyak pelosok Papua Selatan.

Perkembangan di Milenium Baru

Di milenium baru tahun 2000, banyak hal penting terjadi. Pada awal-awal era baru tersebut, beberapa kongregasi religius, wadah-wadah paroki, maupun kaum awam di Merauke merasa terpanggil untuk membantu menyelenggarakan dan memperkuat wadah pendidikan yang ada di Keuskupan Agung Merauke, ujar Pastor Kelbulan berkisah.

Hal tersebut berlanjut pada kesepakatan antara para pemerhati pendidikan dan Uskup Keuskupan Agung Merauke untuk mulai membangun sekolah-sekolah Katolik, baik berbasis kongregasi maupun berbasis paroki dan inisiatif lainnya dari kaum awam di Merauke.

Momen Pelantikan MPK Keuskupan Agung Merauke tahun 2022 oleh Uskup Agung Merauke Mgr. P.C. Mandagi, MSC (File: YPPK Merauke)

Keprihatinan mereka beralasan karena wilayah Papua kala itu dipandang sebagai wilayah yang belum cukup maju dalam banyak hal, terutama dalam bidang pendidikan.

“Kesepakatan itu ternyata melahirkan lebih banyak sekolah, baik di tingkat dasar maupun pendidikan lanjutan. Hingga kini, sekolah-sekolah ini tetap eksis berdiri sekalipun melewati banyak tantangan,” tutur Ketua YPPK tersebut.

Dalam dua dekade, YPPK Merauke telah memberikan andil sangat penting dalam pembangunan manusia Papua melalui pendidikan.

Pada tahun 2019, para ketua Yayasan Pendidikan Katolik yang tersebar di Keuskupan Agung Merauke mencapai kesepakatan untuk membentuk satu perkumpulan.

“Tujuannya untuk bisa berbagi bersama, sepenanggungan, dan saling menguatkan dalam menangani urusan-urusan pendidikan. Mereka lalu memutuskan mendirikan wadah bernama MPK Merauke (Majelis Pendidikan Katolik). Sejak itu mereka eksis dan berswadaya, meski wadah dan keanggotaannya belum dilantik secara resmi,” ujar Pastor tersebut, mengingat sejarahnya.

Upaya tersebut ternyata tidak sia-sia. Atas inisiatif mereka, diadakan musyawarah pembentukan MPK resmi pada 27 Oktober 2022. Hal ini merupakan tindak lanjut keputusan tahun 2019.

“Hal yang menarik, rapat itu menyepakati pembentukan badan pengurus MPK final untuk beroperasi pada periode 2022–2025. Sekaligus, rapat itu memberi mandat untuk menyusun program kerja MPK untuk periode 2022–2025,” kenangnya.

Pada 5 November 2022, upaya besar tersebut akhirnya mendapat legitimasi dengan pelantikan resmi wadah MPK yang diketuai oleh YPPK Merauke. Sampai saat ini, badan pengurus tersebut masih tetap aktif bertugas.

“Hal yang menggembirakan adalah semua Yayasan Katolik yang ada di Keuskupan Agung Merauke kala itu terlibat aktif menjadi anggota MPK, tidak terkecuali YPPK Merauke,” ujarnya lagi.

Wadah MPK ini membawahi yayasan-yayasan pendidikan Katolik di lingkungan Keuskupan Agung Merauke yang mencakup:

Yayasan St. Fransiskus Asisi — 1 sekolah SMA.

Yayasan St. Yoseph — 1 sekolah SMA.

Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik Keuskupan Agung Merauke — 169 sekolah dari TK hingga SMA.

Yayasan Chevalier Amam Bekai — 3 sekolah SMA.

Yayasan St. Laurensius — 2 sekolah TK.

Yayasan Mgr. Gariel Manek — 1 sekolah TK dan 1 sekolah SD.

Yayasan Bakti Luhur — 1 sekolah SLB.

Yayasan St. Antonius — 1 sekolah SMK.

Yayasan Bunda Hati Kudus — 5 sekolah TK.

Yayasan Maria Mediatrix — 1 sekolah SMP.

Pendidikan Katolik melalui Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) maupun wadah MPK di Tanah Papua telah menunjukkan rekam jejak historis yang sangat berarti, baik sebagai pionir maupun sebagai pelanjut pendidikan yang telah ada.

Semuanya memiliki komitmen yang sama, yakni meningkatkan kecerdasan dan memajukan peradaban manusia Papua secara luas.

 

Kategori:
Tags:

Terkini