Laporan: Leni Marlina
–
Pasaman Barat, Agustus 2026. SAN Media Group – Perubahan di dunia pendidikan tidak selalu datang lewat kebijakan baru atau perangkat yang lebih canggih. Kadang, ia hadir melalui pertanyaan sederhana di ruang guru: bagaimana mengajar dengan lebih baik ketika teknologi bergerak jauh lebih cepat daripada kebiasaan kita?
Baca juga: PENYELIDIKAN KANONIK DAN IBADAH TOBAT (DAVID FASAK DAN FIKTORIA TITIRLOLOBI) PAROKI HKY OLBA
Pertanyaan semacam itu mengemuka dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dosen Universitas Negeri Padang (UNP) di SMAN 2 Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Sabtu (8/8/2026).
SMAN 2 Kinali berada di Jorong VI Koto Utara, Lubuk Talang, Nagari Kinali, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Data resmi Kemendikdasmen mencatat posisi sekolah pada sekitar 0,0477° LS dan 99,9479° BT, dengan luas lahan sekitar 14.750 meter persegi. Sekolah ini berstatus negeri dan berada pada jenjang pendidikan menengah atas.

Secara kewilayahan, Kinali merupakan salah satu kawasan penting di Pasaman Barat. Karena sekolah berada di lingkungan masyarakat Kinali, keberadaan SMAN 2 Kinali tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan pendidikan masyarakat setempat. Bahkan, sejarah pendiriannya berangkat dari persoalan nyata: jumlah lulusan SMP/MTs di Kinali yang membutuhkan akses pendidikan menengah atas semakin besar, sementara sekolah yang telah ada belum mampu menampung seluruh calon peserta didik.
SMAN 2 Kinali sendiri relatif muda. Data resmi mencatat SK pendiriannya bertanggal 22 Agustus 2016, sementara sejarah sekolah menyebut sekolah mulai berkembang untuk menjawab kebutuhan pendidikan masyarakat Kinali dan kemudian menempati gedung barunya pada semester kedua tahun pelajaran 2016/2017.
Dari sisi pendidikan, SMAN 2 Kinali merupakan sekolah negeri dengan akreditasi B. Data Kemendikdasmen yang diperbarui pada 2026 mencatat 106 peserta didik, sedangkan laman resmi sekolah menunjukkan bahwa sekolah terus menjalankan kegiatan akademik, termasuk penerimaan peserta didik baru dan proses kelulusan.
Sekolah juga memiliki lahan yang cukup luas, sekitar 1,475 hektare, serta tercatat memiliki akses internet melalui fibre optic/shared dan sumber listrik PLN. Kondisi ini penting dicatat karena menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai transformasi digital di sekolah bukan berlangsung di ruang yang sepenuhnya terputus dari teknologi. Infrastruktur dasar digital telah tersedia, sementara tantangan berikutnya adalah bagaimana infrastruktur tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi praktik pembelajaran dan produktivitas akademik guru.
Yang menarik, sejarah SMAN 2 Kinali memperlihatkan bahwa sekolah ini tumbuh dari kebutuhan masyarakat terhadap akses pendidikan. Dengan demikian, penguatan kompetensi guru di sekolah tersebut memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar peningkatan kemampuan individual. Ketika guru semakin mampu memanfaatkan teknologi, menghasilkan karya ilmiah, dan mengembangkan pembelajaran, dampaknya berpotensi kembali kepada peserta didik dan masyarakat yang dilayani sekolah.
Di titik inilah pelatihan yang diberikan dosen UNP memperoleh konteksnya. AI, publikasi ilmiah, dan growth mindset bukan sekadar tiga materi pelatihan, melainkan bagian dari kebutuhan sekolah untuk memastikan bahwa perubahan teknologi juga diikuti perubahan cara guru belajar, bekerja, dan mengembangkan pembelajaran.
Sebanyak 30 guru di SMAN 2 Kinali mengikuti pelatihan dan pendampingan bertema “Digitalisasi Pembelajaran melalui Pelatihan dan Pendampingan untuk Meningkatkan Produktivitas Akademik Guru SMAN 2 Kinali Pasaman Barat.”
Namun, kegiatan tersebut tidak berhenti pada pembicaraan tentang perangkat digital. Ada tiga hal yang menjadi perhatian: bagaimana guru menghasilkan pengetahuan melalui publikasi ilmiah, bagaimana AI digunakan secara cermat untuk mendukung pekerjaan akademik dan pembelajaran, serta bagaimana guru mempertahankan kemauan untuk terus belajar ketika dunia pendidikan berubah.
Dr. Rino, S.Pd., M.Pd., M.M., mengawali sesi dengan pembahasan mengenai publikasi ilmiah. Guru diajak melihat pengalaman mengajar dari sudut yang berbeda. Persoalan yang berulang di kelas, strategi yang pernah dicoba, atau perubahan yang terjadi pada peserta didik dapat menjadi bahan untuk penelitian dan tulisan ilmiah.
Dengan cara pandang itu, publikasi bukan sekadar urusan menambah daftar karya atau memenuhi tuntutan profesional. Ia dapat menjadi ruang bagi guru untuk mencatat apa yang mereka temukan di kelas, mengujinya secara akademik, lalu membagikannya kepada orang lain.
Peserta juga mendapatkan penguatan mengenai pemilihan topik penelitian, penyusunan karya ilmiah, penulisan artikel, serta peluang publikasi pada jurnal yang relevan.
Pembahasan kemudian bergerak ke wilayah yang sedang mengubah banyak pekerjaan, termasuk pekerjaan guru: Artificial Intelligence (AI).
Dr. Zul Afdal, M.Pd., memperkenalkan berbagai kemungkinan pemanfaatan AI dalam pembelajaran dan aktivitas akademik. Teknologi tersebut dapat membantu guru mencari dan mengembangkan gagasan, menyiapkan bahan pembelajaran, serta mendukung pekerjaan akademik.
Tetapi ada satu batas yang tidak boleh kabur: teknologi membantu pekerjaan guru, bukan mengambil alih pertimbangan guru.
AI mungkin dapat menghasilkan teks dalam hitungan detik. Ia mungkin dapat menawarkan banyak alternatif. Namun, ia tidak berada di ruang kelas ketika seorang guru melihat seorang siswa tiba-tiba diam, kehilangan minat, atau justru menemukan keberanian untuk bertanya.
Karena itu, pembicaraan mengenai AI dalam kegiatan tersebut ditempatkan dalam konteks yang lebih luas: bagaimana teknologi digunakan secara produktif tanpa menghilangkan peran manusia dalam pendidikan.
Antusiasme peserta tampak terutama ketika sesi berlanjut pada diskusi dan pendampingan. Bagi guru, teknologi yang semula terasa jauh menjadi sesuatu yang dapat disentuh, dicoba, dipertanyakan, dan dipelajari.
Sementara itu, Dra. Armida S., M.Si., membawa peserta pada persoalan yang tidak kalah penting: kesiapan manusia yang menggunakan teknologi tersebut.
Melalui materi growth mindset, guru diajak melihat kemampuan bukan sebagai sesuatu yang berhenti pada satu titik. Kemampuan dapat bertambah melalui latihan, pengalaman, kesalahan, refleksi, dan kemauan untuk mencoba kembali.
Pesannya sederhana, tetapi relevan dengan perubahan yang sedang berlangsung. Guru tidak harus mengetahui semuanya sejak awal. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk belajar ketika sesuatu yang baru datang.
Di titik ini, digitalisasi pendidikan ternyata bukan semata-mata persoalan teknologi. Ia juga menyangkut keberanian untuk mengubah kebiasaan.
Pelatihan di SMAN 2 Kinali diharapkan menjadi awal dari proses yang lebih panjang. Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang pertemuan, tetapi diteruskan dalam bentuk praktik pembelajaran, karya ilmiah, pemanfaatan AI yang bertanggung jawab, dan inovasi yang lahir dari kebutuhan nyata di sekolah.
Bagi Universitas Negeri Padang, pengabdian seperti ini sekaligus membuka ruang perjumpaan antara pengetahuan perguruan tinggi dan pengalaman guru di lapangan. Keduanya memiliki bahasa yang berbeda, tetapi bertemu pada satu kepentingan: membuat pembelajaran menjadi lebih baik.
Sebab pada akhirnya, ukuran transformasi pendidikan bukan terletak pada seberapa banyak aplikasi yang dikuasai seorang guru.
Ukurannya jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: apakah guru menjadi lebih siap menghadapi perubahan, apakah pekerjaannya menjadi lebih bermakna, dan apakah peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih baik.
Di sanalah teknologi menemukan batas sekaligus gunanya, bukan menggantikan guru, melainkan memberi guru lebih banyak ruang untuk melakukan pekerjaan yang paling manusiawi: mengajar, memahami, dan menumbuhkan manusia lain. (LM-SAN)


