/1/
SENDOK YANG MENELAN MALAM
Karya: Leni Marlina
Baca juga: MENGOREKSI ADAB KEMANUSIAAN KITA
–
Malam patah di dasar mangkuk.
Sendok menjilat porselen seperti bulan kurus
mencari sisa cahayanya sendiri.
Tidak ada roti atau nasi di sini.
Hanya lingkar putih yang menganga,
sebuah mulut tanpa makanan.
Ibu datang membawa api kelelahan.
Ia membuka panci.
Uap meloncat seperti jiwa-jiwa kecil baru dibebaskan dari air.
Mereka naik ke langit-langit,
menjadi awan di rumah kami.
Tetapi awan itu tidak menurunkan hujan.
Anak pertama menggeser mangkuk.
Anak kedua menggeser mata.
Anak ketiga menggeser rasa lapar ke dalam diam.
Sendok bergetar.
Ia tahu.
Benda-benda dapur lebih pandai membaca perut manusia daripada statistik.
Perut keroncongan menjadi lubang terbuka di tengah malam.
Baca juga: AMARDINO
Engkau menyebut kami rakyat.
Kata itu terlalu sering dipakai tanpa dicuci.
Di dapur kami, ia berbau minyak goreng, asap, keringat, dan nasi yang dibagi sedemikian tipis.
Kami tak berkata lapar.
Sebab lapar terlalu telanjang untuk dibawa ke podium.
Kami biarkan sendok mengatakannya.
Engkau menghitung pertumbuhan.
Kami menghitung: satu telur, empat piring, tiga anak, dua belas hari sebelum upah berikutnya.
Angka-angka merayap di meja seperti semut mencari gula.
Tetapi tubuh kami adalah matematika berdarah.
Malam semakin dalam.
Sendok tertidur di dalam mangkuk.
Namun dasar porselen tetap terjaga.
Ia menunggu bunyi terakhir.
“Ting”.
Dan negeri yang besar ini ternyata dapat mengecil menjadi sebuah suara yang jatuh ke dasar mangkuk.
–
Padang, Sumbar, 2026
—
/2/
BERAS DENGAN JANTUNG HUJAN
Puisi: Leni Marlina
–
Jangan telan sebutir beras sebelum mendengarnya.
Ia masih menyimpan suara sawah.
Di dalam putihnya ada hujan yang belum menjadi sungai.
Ada matahari yang pernah menggigit punggungnya hingga kuning.
Ada lumpur yang tidur di sekitar akar.
Ada tangan petani yang setiap pagi menyentuh bumi seperti menyentuh kening anak sendiri.
Sebutir beras, kecil sekali.
Namun lihat: langit telah mengecilkan dirinya menjadi bulir.
Awan menjadi air.
Air menjadi akar.
Akar menjadi batang.
Batang menggendong bulir-bulir kecil seperti ibu menggendong anak-anaknya.
Kemudian sabit datang.
“Krek”.
Leher padi diputus dari musim.
Kami makan apa yang telah melewati begitu banyak kematian kecil.
Benih mati untuk menjadi tanaman.
Bunga mati untuk menjadi buah.
Padi mati untuk menjadi nasi.
Kehidupan ini terus melahirkan dengan cara mengorbankan bentuknya sendiri.
Petani menunduk.
Langit tinggi.
Di antara keduanya tubuh manusia menjadi jembatan bagi makanan.
Tetapi ketika beras masuk pasar,
angka datang mengganti nama: hujan, harga, permintaan, pasokan, distribusi.
Kata-kata kering yang tidak pernah berlumpur.
Maka ketika anak mengangkat sendok, jangan katakan:
“Ini hanya nasi.”
Tidak!
Di sana sepotong langit telah menyerahkan tubuhnya.
Dan kita,
hanya meminta agar langit kecil itu tidak menjadi terlalu mahal bagi mulut yang menanamnya.
–
Padang, Sumbar, 2026
—
/3/
SEPATU YANG MENELAN JEJAK BUMI
Puisi: Leni Marlina
–
Balikkan sepatu itu!
Jangan lihat talinya.
Lihat bagian telapak kakinya.
Di sana jalan telah berubah menjadi kulit.
Lumpur mengendap di alurnya.
Pasir tidur di jahitan.
Kerikil kecil menjadi gigi yang terselip di antara langkah.
Sepatu itu tidak memiliki peta.
Ia lebih tua daripada peta.
Ia tahu: di mana tanah mengkhianati kaki, di mana hujan memakan jalan, di mana jembatan berhenti menjadi jembatan, di mana seorang anak harus mengangkat celananya agar sungai tidak masuk ke sekolah bersamanya.
Setiap pagi anak itu memakainya.
Sepatu menjadi kaki kedua.
Kaki menjadi kompas.
Kompas menjadi doa.
Ia berjalan.
Dan setiap langkah mengupas sedikit geografi dari bumi.
Ketika sampai sekolah, sebagian jalan masih menempel di tubuhnya.
Guru membuka buku.
Anak membuka sepatu.
Dua konsep geografi saling menatap.
Yang satu dicetak di kertas.
Yang satu berdarah di telapak kaki.
Orang-orang berkata:
“Dekat.”
Tetapi dekat adalah kata yang diciptakan oleh mereka yang tidak berjalan.
Tanyakan kepada kaki.
Tanyakan kepada lumpur.
Tanyakan kepada sol sepatu yang setiap pagi menelan kilometer tanpa pernah diberi nama.
Malam.
Sepatu diletakkan di depan pintu.
Ia tampak kosong.
Jangan percaya.
Jalan masih tidur di dalamnya.
Dan besok pagi, ia akan bangun lagi dan membawa anak itu melewati dunia yang membuat jalan untuk semua orang.
–
Padang, Sumbar, 2026
—
/4/
KAIN YANG MENGHAFAL BAHU
Puisi: Leni Marlina
–
Kain tua tidak punya mata.
Tetapi ia tahu bentuk seseorang lebih dalam daripada cermin.
Ia menghafal bahu, lekuk leher dan tekanan siku.
Keringat yang pernah menggarami serat-seratnya.
Angin datang,
Kain terangkat.
Untuk sesaat ia menjadi tubuh yang kehilangan tulang.
Ia berkibar, bukan seperti bendera,
melainkan seperti seseorang yang masih mencari rumah setelah rumahnya kehilangan alamat.
Kain itu menyimpan bau:
minyak rambut, asap dapur, hujan, susu, obat,
dan sesuatu yang tidak mempunyai nama dalam kamus:
bau seseorang yang pernah ada.
Engkau dapat menghapus nama dari batu.
Kau dapat mengecat ulang dinding.
Kau dapat mengganti kunci.
Tetapi serat kain adalah saksi yang tidak pandai berbohong.
Ia menyimpan tubuh dalam bentuk yang paling kecil:
kelembapan.
Maka ketika seseorang pergi,
jangan buru-buru mengatakan ia telah hilang.
Mungkin tubuhnya sedang bersembunyi di kain.
Di bantal, gagang pintu,
udara yang pernah disentuh napasnya.
Rumah tidak pernah benar-benar kosong.
Ia hanya belajar menyimpan manusia dalam benda-benda yang tidak bisa berbicara.
–
Padang, Sumbar, 2026
—
/5/
TANAH YANG MENOLAK DICUCI
Puisi: Leni Marlina
–
Kami mencuci tangan.
Tanah tertawa di bawah kuku.
Sabun datang membawa busa.
Air datang membawa sungai.
Sikat datang membawa kemarahan.
Tanah tetap tinggal: sedikit, hitam, kecil.
Seperti bumi telah menyelipkan sebuah surat ke dalam tubuh kami.
Kami membawanya ke pasar, pabrik, sekolah, rumahmu.
Bumi ikut.
Di tangan petani tanah menjadi peta.
Di tangan buruh ia menjadi debu logam.
Di tangan tukang ia menjadi serbuk semen.
Di lutut anak ia menjadi warna permainan.
Kami tak perlu mengibarkan tanah.
Tubuh kami sudah menjadi bendera bumi.
Akar tahu rahasia itu.
Ia bekerja di bawah gelap.
Tidak mengeluh kepada langit.
Tidak meminta tepuk tangan dari daun.
Ia hanya mencari.
Membelah.
Meraba.
Menembus.
Begitulah kehidupan menolak bentuk yang terlalu sempit.
Engkau mungkin mencuci kami berkali-kali.
Tetapi bagaimana kau mencuci sejarah dari tubuh?
Bagaimana kau mencuci keringat dari batu?
Bagaimana kau mencuci telapak petani dari tanah?
Bumi bukan noda.
Ia asal yang menolak dilupakan.
–
Padang, Sumbar, 2026
—
/6/
SUNGAI YANG MENGUBAH TATA BAHASANYA
Puisi: Leni Marlina
–
Sungai tidak berkata:
“aku sakit”.
Ia menghapus ikan dari kalimatnya.
Burung mengubah alamat.
Rumput kehilangan warna.
Air kehilangan kejernihan seperti seseorang yang perlahan kehilangan ingatan.
Limbah datang.
Tidak mengetuk.
Ia masuk ke tubuh sungai seperti kebohongan ke dalam darah.
Sungai menerimanya.
Apa lagi yang dapat dilakukan air kepada sesuatu yang lebih kuat daripada arusnya?
Kemudian anak-anak berhenti berenang.
Jala pulang dengan mulut kosong.
Ibu menutup kendi.
Desa membeli air dalam plastik.
Sungai tetap mengalir.
Tetapi ia telah berganti bahasa.
Dulu: ikan.
Sekarang: botol.
Dulu: berenang.
Sekarang: membeli.
Dulu: sumber.
Sekarang: harga.
Kami mendengar perubahan itu.
Sebab kami tahu: tidak semua jeritan menghasilkan bunyi.
Ada jeritan yang berubah menjadi penyakit.
Menjadi jarak.
Menjadi pintu tertutup.
Menjadi anak yang tidak lagi mengenal sungai sebagai tempat bermain.
Sungai tidak menuntut.
Ia hanya pergi sedikit demi sedikit dari dirinya sendiri.
Dan mungkin itulah peringatan paling tajam:
ketika sesuatu terlalu lama dipaksa diam,
ia tidak selalu meledak.
Kadang
ia berhenti menjadi dirinya.
–
Padang, Sumbar, 2026
—
/7/
PASIR YANG MEMINDAHKAN BATAS
Puisi: Leni Marlina
–
Satu butir pasir.
Angin mengangkatnya.
Laut menelannya.
Selesai.
Tak ada sejarah.
Tak ada berita.
Tak ada tepuk tangan.
Hanya satu butir yang berpindah.
Kemudian satu lagi.
Waktu duduk di antara mereka seperti pemulung yang sabar.
Ia mengumpulkan yang dianggap remeh.
Sampai pantai mempunyai tubuh baru.
Sampai laut menggeser bibirnya.
Sampai garis yang dahulu dianggap abadi mulai gemetar.
Kami tahu pekerjaan itu.
Kami adalah pasir.
Bukan batu.
Bukan gunung.
Bukan suara yang dapat mengguncang gedung dalam satu malam.
Kami kecil.
Tetapi kami banyak.
Dan kami tahu satu rahasia yang tidak disukai kekuasaan:
yang kecil, jika berkumpul, dapat mengubah batas.
Satu ibu berkata:
tidak.
Satu guru berkata:
cukup.
Satu petani bertanya:
mengapa?
Satu anak tidak mau berhenti bertanya.
Pertanyaan kecil jatuh.
Seperti pasir.
Jangan remehkan butir yang jatuh.
Pantai dibangun oleh sesuatu yang terus-menerus dianggap tidak berarti.
–
Padang, Sumbar, 2026
—
/8/
HUJAN YANG TAK MENGENAL SERTIFIKAT
Puisi: Leni Marlina
–
Hujan turun.
Ia tidak membaca nama di pagar.
Tidak memeriksa sertifikat.
Tidak bertanya berapa harga rumah.
Air hanya jatuh.
Di genting.
Di seng.
Di daun.
Di tanah.
Tubuhnya satu.
Tetapi rumah tidak satu.
Ada rumah yang membuka jendela menyambut hujan seperti tamu.
Ada rumah yang menaruh ember di bawah bocor.
Ada rumah yang mengangkat kasur.
Ada rumah yang memeluk anak di atas meja karena lantai telah berubah menjadi sungai.
Hujan tidak memilih.
Tetapi mereka yang berkuasa membuat air mempunyai kelas.
Ada sungai yang diberi ruang.
Ada sungai yang dicekik beton.
Ada pohon yang dibiarkan meneguk hujan.
Ada tanah yang dipaksa menelannya tanpa akar.
Kemudian ketika air mencari jalan pulang,
kita menyebutnya bencana.
Tidak.
Dengarkan lebih dekat.
Mungkin air sedang membaca arsitektur kita.
Mungkin banjir adalah kalimat yang ditulis tanah ketika manusia menghapus tanda bacanya sendiri.
Kami tidak meminta langit berhenti hujan.
Kami tidak ingin awan dipenjara.
Kami hanya ingin ketika air turun,
rumah tidak menjadi perangkap,
jalan tidak menjadi jurang,
dan seorang anak tidak perlu belajar berenang sebelum belajar membaca.
Hujan tetap turun.
Tidak mengenal jabatan.
Tidak mengenal gelar.
Tidak mengenal kekuasaan.
Ia menyentuh atapmu.
Atap kami.
Kemudian tanah,
tanpa suara,
tanpa sidang,
tanpa tanda tangan,
menerima kita semua dengan gravitasi yang sama.
–
Padang, Sumbar, 2026
————————

Tentang Penyair – Leni Marlina
Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi di Universitas Negeri Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.
Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan. Mengabdi sebagai redaktur di platform digital Suara Anak Negeri (SAN Media Group).
Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) & Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community). Leni merupakan anggota organisasi penulis SatuPena Sumbar, Penyala Literasi Semesta, Victorian Writers & ACC Shanghai Huifeng International Literaty Association.
Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya. Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id
Wattpad: @lenimarlina_write
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun


