Rabu, 19 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Sr. Epivany Ongirwalu, TMM: Lamdit Mela, Ketika Anak Adat Kembali ke Rahim Kampung

Oleh: johanis kopong

 

Ketika Kampung Mengingatkan Seorang Biarawati tentang Asal-Usulnya
https://suaraanaknegeri.com | Saumlaki, Senin, 17 Agustus 2026 –  Sr. Epivany Ongirwalu, TMM, merefleksikan pengalaman kembali ke Pusat Kampung sebagai “Lamdit Mela”, sebuah perjalanan batin yang mengingatkannya kembali pada akar identitas sebagai anak adat sekaligus memperteguh panggilannya sebagai biarawati yang berakar dalam Kristus dan dipanggil untuk berbuah bagi dunia.

Baca juga: Pendeta Johan Batmomolin Hadiri Upacara HUT RI di Lumasebu

Kembali sebagai Anak Adat
Di tengah para Mela atau tua-tua adat, Sr. Epivany menemukan kembali ruang yang mengingatkannya tentang asal-usul, identitas, dan nilai kehidupan yang membentuk dirinya.

“Saya datang ke sana sebagai seorang biarawati. Saya datang dengan pakaian biara, dengan panggilan dan perutusan yang Tuhan percayakan kepada saya. Tetapi di tengah Pusat Kampung, saya kembali menyadari bahwa sebelum saya menjadi seorang biarawati, saya adalah seorang anak adat.”

Kesadaran itu kemudian ia ungkapkan dengan sederhana, “Saya adalah anak yang lahir dari rahim mereka.”

Baca juga: Semarak HUT ke-81 RI dengan Busana Wastra Nusantara di Kantor BRI Saumlaki

Dalam tarian penyambutan, ia diterima sebagai “Lamdit Mela”, anak perempuan dari Mela. Bagi Sr. Epivany, sebutan tersebut bukan sekadar bagian dari ritual adat, melainkan simbol kasih, penerimaan, penghormatan, dan ikatan seorang anak dengan akar kehidupannya.

“Saya merasa seperti seorang anak yang kembali kepada rahimnya.”

Akar yang Menguatkan Panggilan
Kepulangan itu tidak dimaknai sebagai kembali hidup dalam masa lalu, melainkan menerima kembali kekuatan dari akar untuk melanjutkan perjalanan hidup dan panggilan.

“Saya datang sebagai seorang biarawati, tetapi saya diterima sebagai seorang anak. Saya datang membawa tugas dan tanggung jawab, tetapi saya pulang membawa berkat.”

Pengalaman tersebut menegaskan bagi Sr. Epivany bahwa panggilan kepada Tuhan tidak menghapus akar kehidupan. Sebaliknya, akar dapat dimurnikan dalam iman dan menjadi kekuatan untuk melayani.

“Akar justru membuat kita kuat untuk berdiri, bertumbuh, dan menghasilkan buah.”

Refleksi itu sejalan dengan perjalanan Tarekat Maria Mediatrix menuju Yubileum 100 tahun dengan tema: “BERAKAR DALAM KRISTUS, BERBUAH BAGI DUNIA.”

Bagi Sr. Epivany, tanah kelahiran dan budaya merupakan bagian dari akar yang membentuk dirinya, sementara Kristus menjadi akar terdalam kehidupannya.

Jangan Melupakan Asal-Usul
Pengalaman sebagai Lamdit Mela juga melahirkan pesan rohani yang sangat pribadi.

“Jangan pernah melupakan akar dari mana Tuhan menumbuhkan kita. Jangan pernah malu dengan asal-usul kita. Dan jangan pernah menyimpan sendiri buah dari rahmat yang Tuhan berikan kepada kita.”

Ia meyakini bahwa semakin jauh seseorang berjalan dan semakin besar tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya, semakin penting untuk tetap mengetahui dari mana ia berasal dan menjaga kerendahan hati.

“Sebab semakin jauh seseorang berjalan, semakin penting ia mengetahui dari mana ia berasal. Dan semakin besar tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya, semakin ia dipanggil untuk tetap rendah hati.”

Dari Tanah Adat, Berakar dalam Kristus
Sr. Epivany kemudian merangkum identitas dan panggilannya dalam sebuah pernyataan: “Saya adalah Lamdit Mela. Saya adalah anak adat. Saya adalah seorang biarawati yang dipanggil Tuhan. Dari tanah adat saya bertumbuh, dalam Kristus saya berakar, dan melalui hidup saya, saya dipanggil untuk berbuah bagi dunia.”

Baginya, menjadi anak adat dan menjadi seorang biarawati bukanlah dua identitas yang harus dipertentangkan. Akar budaya menjadi bagian dari sejarah hidup, sedangkan Kristus menjadi pusat dan dasar panggilan.

Pusat Kampung dan Sebuah Berkat
Bagi Sr. Epivany, Pusat Kampung menjadi tempat ia kembali diterima, didoakan, dan diteguhkan untuk melanjutkan perjalanan sebagai seorang biarawati.

“Ke mana pun kaki melangkah, sejauh apa pun perjalanan ditempuh, ada satu tempat yang selalu mengingatkan kita siapa diri kita dan dari mana kita berasal. Dan bagi saya, Pusat Kampung adalah salah satu tempat itu.”

Ia menyampaikan syukur kepada para Mela, keluarga, kampung, dan seluruh masyarakat yang telah menerimanya dengan penuh kasih. Doa dan berkat yang diterimanya diharapkan menjadi kekuatan untuk terus setia melayani Tuhan dan sesama.

Pada akhirnya, Lamdit Mela bukan sekadar sebutan adat. Ia menjadi simbol penerimaan, identitas, kasih, dan akar kehidupan.

“Salam kasih dari seorang Lamdit Mela, anak adat yang tetap membawa akar kampungnya, biarawati yang berakar dalam Kristus, dan dipanggil untuk berbuah bagi dunia.”

Tuhan memberkati kita semua. Shalom.
Dengan kasih dan doa, Sr. Epivany Ongirwalu, TMM.

Kategori:
Tags:

Terkini