*(Oleh Anto Narasoma
–
KAITAN jiwa pelukis wanita asal Yogyakarya Yaya Maria dengan laut, begitu kental. Dari beberapa lukisannya, Yaya selalu menghadirkan laut sebagai obyek lukisannya.
—————
Baca juga: MENGOREKSI ADAB KEMANUSIAAN KITA
Ada beberapa lukisannya seperti Akar di Bumi, Doa di Langit, Go to the Real World dan Song from Heaven. dan Langkah Pasti Sang Bidadari. Entah kenapa pelukis Yaya selalu menghadirkan laut dalam lukisannya, saya juga kurang paham.
Namun yang pasti, laut dan manusia tak bisa lepas dari eksistensi sebagai corak kehidupan yang saling memberikan akses keuntungan bagi manusia.
Sebab laut memberikan oksigen, pengatur iklim bumi, serta menyediakan sumber makanan bagi manusia. Karena kedekatan itulah bisa jadi Yaya lebih cenderung menghadirkan laut dalam beberapa lukisannya.
Baca juga: AMARDINO
Terkait hal itu, sebagai penulis saya mencoba membidik satu lukisannya yang menarik perhatian saya, yakni Langkh Pasti Sang Bidadari.
Di balik esensi lukisan ini, saya merasakan ada nilai kedekatan antara kelembutan hati seorang wanita dan emosi pribadi yang begitu kuat secara ilustratif.
Dari isi dan esensi lulisan Langkah Pasti Sang Bidadari ini terkandung semangat juang yang menggebu dan diekspresikan Yaya dalam menggapai nilai-nilai estetika pada kedalaman lukisan ini.
Meski demikian, Yaya tampaknya begitu hati- hati menciptakan ide dasar dari lukisan ini, sehingga tampilan seorang wanita yang tengah mengendalikan lajunya perahu yang ditumpanginya tampak hidup saat mendekati palung besar di tengah laut.
Apakah wanita ini akan bunuh diri dengan cara melarungkan perahunya ke titik pusaran air dalam palung tersebut?
Bisa jadi ada persepsi di dalam diri pelukis bahwa palung perputaran air laut itu merupakan lorong ke jalan lain untuk membebaskan diri dari berbagai hal terkait penderitaan yang dialami wanita pengendali perahu tersebut.
Dari ungkapan tekstur lukisan itu menjelaskan sikap keras si pelukis menghadapi tantangan kehidupan ini. Bukan soal apakah itu lorong jalan untuk menghindari persoalan hidup, tapi dari keteguhan hatinya, si pelukis mempunyai jiwa yang tegas dan tolerans terhadap situasi lingkungannya.
Secara visual lukisan Langkah Pasti Sang Bidadari mencerminkan sikap tegas si pelukis sendiri, meskipun ia adalah seorang wanita (wanita besi).
Keterpaduan
Dari bentuk dan visualisasi lukisan Langkah Pasti Sang Bidadari memiliki unsur estetika yang kompleks. Artinya, selain bercerita tentang sikapnya, namun secara estetik, memperlihatkan nilai krindahan yang pantas diapresiasi.
Dari garis dan warna yang mengilustrasi lukisan ini, guratan komposisinya begitu tegas. Bahkan posisi Sang Bidadari begitu yakin akan menasuki wilayah “lorong suci” –tempat berserah diri agar terbebas segala persoalan.
Apakah si pelukis menolak ketentuan Sang Pencipta untuk lari dari segala persoalan?
Secara pribadi –tampaknya sikap pelukis Yaya Maria tidak seperti itu. Sebagai pelukis justru lebih dekat dengan pengelolaan psikologi seni dan estetika lukisan.
Karena itu pelukis Yaya bersikap bahwa palung air di permukaan laut dinilainya sebagai lorong pembebasan diri dari beban persoalan yang dihadapinya sehari-hari.
Dari sikap seperti itu, pelukis lebih banyak mengetengahkan penataan komposisi yang kaya persepsi dan kekuatan warna-warni, serta memunculkan titik, garis, bidang, bentuk, dan tekstur gelap dan terang.
Karakter lukisannya dipenuhi ide-ide briliyan. Coba kita perhatikan bahwa di kiri-kanan wanita yang mengendalikan perahu (bisa jadi bidasari), diilustrasi ikan-ikan paus, burung-burung, dan beberapa planet.
Lukisan ini tampak unik dan penuh dengan filosofi kehidupan yang begitu luas, sehingga mampu menjadi guru bagi si pelukis.
Yang tak masuk akal, gambaran idenya mengetengahkan laut . Namun pemaparan ide dan gagasannya justru berada di udara bebas. In bentuk estetika yang filosofis untuk menerjemahkan arti dari gagasan si pelukis.
Dalam kaitan ide dan gagasan, Yaya Maria tak ragu-ragu untuk menetapkan warna dari tiap ruang-ruang di lukisannya, sehingga tak terjadi kesan lukisan ruang kosong.
Sikap tegas seperti ini patut diacungi jempol. Karena tiap karya seni, secara psikologis akan menerjemahkan sikap pelukisnya sendiri disaat menumpahkan ide-idenya dalam berkarya. (*)
*(Penulis adalah penyair, sastrawan, seniman, dan jurnalis senior.


