Minggu, 16 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Di Bawah Terik Matahari, Umat Santa Maria Biak Tetap Bertahan dalam Sukacita Iman

Paulus Laratmase| Penulis

BIAK, 16 Agustus 2026 —SUARA ANAK NEGERI| Matahari Biak siang itu seperti menumpahkan seluruh panasnya ke halaman Gereja Santa Maria. Namun, terik yang menyengat tidak menyurutkan langkah umat. Seusai Misa Kudus, umat bersama para gembala tetap bertahan, duduk dan berdiri dalam satu kebersamaan, mengikuti rangkaian acara Pesta Nama Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Biak hingga selesai.

Baca juga: PELUKIS LULLY DAN IDE KREATIF PADA SENI VISUALNYA

Di bawah langit yang terang dan panas, halaman gereja berubah menjadi ruang persaudaraan. Tidak ada keluhan yang lebih besar daripada sukacita untuk merayakan iman. Para pastor, suster, umat dan tamu undangan tetap setia mengikuti acara demi acara. Peluh yang jatuh di tengah terik matahari seakan menjadi bagian kecil dari persembahan kasih untuk gereja yang mereka cintai.

Perayaan Pesta Nama tahun ini semakin istimewa karena dirangkaikan dengan penerimaan Sakramen Krisma yang dilayankan langsung oleh Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA.

Kehadiran Uskup bersama para imam, suster dan seluruh umat memberikan warna tersendiri bagi perayaan tersebut. Gereja bukan hanya tampak sebagai bangunan tempat umat beribadah, tetapi menjelma menjadi rumah bersama—tempat orang-orang berkumpul, berbagi sukacita, dan menguatkan satu sama lain.

Baca juga: Di Tengah Derap Langkah HUT RI, SMK Negeri 1 Pariwisata Biak Berpacu dengan Waktu

Dalam suasana itulah, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santa Maria Diangkat ke Surga Biak, Jacky Samsuddin, menyampaikan sambutan yang mengajak umat kembali pada makna kebersamaan.

Dengan tema “Satu Hati, Satu Jiwa: Berjalan Bersama Maria Membangun Paroki yang Guyub,” Jacky mengingatkan bahwa perjalanan sebuah paroki tidak dibangun hanya oleh satu atau dua orang. Ia tumbuh dari langkah umat yang berjalan bersama, dari tangan yang saling menguatkan, dan dari hati yang bersedia membuka ruang bagi sesama.

Menurut Jacky, semangat satu hati dan satu jiwa merupakan panggilan untuk merawat persaudaraan di tengah keberagaman umat.

“Kita dipanggil untuk mengikatkan diri dalam kesatuan hati demi kemuliaan Tuhan,” pesannya.

Maria pun ditempatkan sebagai sosok yang menjadi teladan perjalanan iman. Seperti Maria yang menyimpan segala perkara dalam hati dan tetap setia pada kehendak Allah, umat diajak untuk belajar menjadi pribadi yang rendah hati, tangguh dan setia dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Berjalan bersama Maria, kata Jacky, berarti terus mengarahkan pandangan kepada Kristus.

Ketika Panas Tidak Mampu Memadamkan Sukacita

Ada sesuatu yang sederhana tetapi indah dari perayaan itu.

Matahari boleh terik, tetapi iman tidak boleh redup.

Keringat boleh membasahi wajah, tetapi senyum dan sapaan persaudaraan tetap hadir. Umat tetap bertahan mengikuti acara demi acara. Para gembala pun tetap berada bersama umat, menghadirkan keakraban yang membuat halaman gereja terasa seperti sebuah rumah besar.

Dalam suasana ini, pesan tentang membangun paroki yang guyub terasa semakin nyata. Guyub bukan hanya kata yang diucapkan dari atas mimbar. Guyub adalah kesediaan untuk tetap tinggal, tetap mendengar, tetap hadir dan tetap berjalan bersama, bahkan ketika keadaan tidak selalu nyaman.

Jacky mengajak seluruh umat dari KBG, lingkungan, stasi hingga kelompok kategorial untuk menjadikan Paroki Santa Maria sebagai rumah yang hangat bagi semua orang.

“Paroki kita harus menjadi rumah yang hangat bagi siapa saja,” ujarnya.

Krisma dan Harapan bagi Generasi Muda

Sukacita perayaan semakin lengkap dengan penerimaan Sakramen Krisma. Kepada para penerima Krisma, Jacky berpesan agar mereka tidak berhenti pada seremoni penerimaan sakramen, tetapi menjadikannya sebagai awal dari perjalanan iman yang lebih dewasa.

Mereka diharapkan tampil sebagai generasi yang berani menjadi saksi Kristus, kreatif dalam berkarya, serta aktif mengambil bagian dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.

Sebab, masa depan paroki tidak hanya berada di tangan para gembala. Ia juga tumbuh di tangan generasi muda yang hari ini menerima penguatan Roh Kudus.

Di penghujung sambutannya, Jacky menyampaikan terima kasih kepada Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, para pastor, suster, panitia, serta seluruh umat yang telah memberikan waktu, tenaga, pikiran, materi dan doa bagi terselenggaranya pesta nama tersebut.

Hari itu, halaman Gereja Santa Maria Biak menjadi saksi sebuah perayaan yang sederhana tetapi penuh makna.

Di bawah panas matahari Biak, umat dan para gembala tetap duduk bersama.

Mungkin matahari sedang menguji ketahanan tubuh, tetapi kebersamaan sedang menghangatkan hati.

Dan dari sana, pesan Pesta Nama Santa Maria kembali menemukan maknanya: berjalan bersama bukan berarti tidak pernah merasa lelah, melainkan tetap memilih untuk melangkah bersama ketika perjalanan terasa berat.

Satu hati. Satu jiwa. Berjalan bersama Maria. Membangun Gereja yang guyub, hidup, dan penuh kasih.

 

Kategori:
Tags:

Terkini