Laporan: Nuyang Jaimee
JAKARTA, 12 Agustus 2026 — Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS-TIM) menggelar aksi damai dengan melakukan karnaval dari kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) menuju Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (12/8).
Aksi tersebut merupakan agenda penyerahan petisi dan tuntutan FPS-TIM kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait arah pengelolaan dan keberlangsungan ekosistem kesenian di TIM.
Baca juga: Seminari Adalah Jantung Masa Depan Gereja

Aksi dipimpin Mila Nabilah selaku Koordinator Aksi FPS-TIM, bersama sejumlah seniman dan pekerja seni, budayawan, mahasiswa seni dan perwakilan komunitas se-Jabodetabek, di antaranya ketua MPSI dan inisiator FPS TIM Mujib Hermani, Ina Sukma, Tora Kundera, Sekjen MPSI David Karo2, Ketua Cakra Budaya Nuyang Jaimee, Dinaldo dari Pemuda Muhammadiyah, Satarupa Dyah Kencono, Adith dan Dompak dari seniman musik RedFlag, dan lainnya.
Massa didominasi pakaian hitam dan membawa poster-poster tuntutan serta keranda sebagai simbol kritik terhadap kondisi TIM yang dinilai semakin kehilangan keberpihakannya kepada kehidupan kesenian.
Baca juga: Sekda Brampi: Tak Ada “Orang Dalam” dalam Seleksi Kepala Sekolah
Karnaval keranda dimulai dari Taman Ismail Marzuki, Cikini Raya, Tugu Tani, Jalan Medan Merdeka Selatan, Balai Kota, kemudian dilanjutkan menuju Kebon Sirih. Rute tersebut menjadi bagian dari aksi simbolik untuk membawa persoalan TIM dari ruang kebudayaan menuju pusat pemerintahan tempat kebijakan publik ditetapkan.

Sesampainya di kawasan Balai Kota dan DPRD DKI Jakarta, FPS-TIM menyampaikan serta menyerahkan petisi dan TRITURA FPS-TIM: Tiga Tuntutan, Satu Sikap — Selamatkan Marwah Taman Ismail Marzuki kepada perwakilan pemerintah dan DPRD. Aksi berlangsung dengan orasi budaya, pembacaan puisi, dan pert bgmunjukan teatrikal.
Aksi hari ini merupakan kelanjutan dari rangkaian gerakan FPS-TIM yang sebelumnya dilakukan melalui pertemuan, konsolidasi, diskusi, unjuk rasa dan unjuk karya di kawasan TIM. Pada Jumat Aksi Seni (JAS), 7 Agustus, seniman juga membawa keranda bertuliskan “TIM Sudah Mati”, melakukan karnaval di kawasan TIM, serta menggelar dialog publik di pelataran TIM.
Dalam perjalanan gerakan tersebut, FPS-TIM mempersoalkan komersialisasi ruang seni, tata kelola TIM, akses seniman dan komunitas, serta posisi masyarakat seni dalam menentukan arah masa depan TIM.

Menurut Mila Nabilah, aksi tersebut bukan sekadar demonstrasi, tetapi upaya mempertahankan TIM sebagai ruang kebudayaan publik. FPS-TIM menegaskan bahwa TIM tidak boleh dipandang hanya sebagai aset atau kawasan yang dikelola berdasarkan ukuran ekonomi.
Mohammad Cahyadi (Den Cupank) tercatat sebagai kontak media FPS-TIM dalam siaran pers aksi tersebut. Melalui aksi ini, FPS-TIM menyatakan akan terus mengawal persoalan tata kelola TIM dan mendorong pemerintah membuka ruang dialog dengan seniman serta komunitas untuk menentukan masa depan pusat kesenian tersebut.





