Laporan Paulus Laratmase
–
“Revitalisasi Tujuh Ruang Kelas Senilai Sekitar Rp1 Miliar Dimulai, Namun Rehabilitasi Menyeluruh Masih Menjadi Harapan Besar Dunia Pendidikan di Biak”
Baca juga: Akselerasi Urbanisasi dan Urgensi Transformasi Tata Ruang Indonesia
Biak, Suara Anak Negeri – Dinding-dinding yang mulai retak, plafon yang menua, serta bangunan sekolah yang telah berdiri lebih dari tiga dekade menjadi saksi perjalanan panjang pendidikan vokasi di Kabupaten Biak Numfor. Di balik bangunan yang diresmikan pada tahun 1993 itu, tersimpan harapan ribuan generasi muda Papua yang setiap hari menimba ilmu di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.
Saat meninjau kondisi SMK Negeri 1 Biak, Syabar David Rumakito menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi fisik sekolah yang dinilai telah mengalami kerusakan hingga sekitar 80 persen.
“Kalau melihat kondisi sekolah ini, tentu kita semua prihatin. Pendidikan adalah investasi masa depan. Jangan sampai anak-anak kita belajar di ruang yang sudah tidak lagi layak,” ujarnya.
Baca juga: Papua Menangis, Kita Tidak Boleh Diam
Dalam dialog bersama pihak pengawas pekerjaan, dijelaskan bahwa Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Tahun Anggaran 2026 mengalokasikan program revitalisasi berupa rehabilitasi tujuh ruang kelas dengan nilai anggaran sekitar Rp1 miliar.
Pekerjaan revitalisasi ini dijadwalkan mulai pada 20 Juli 2026 dengan masa pelaksanaan selama 120 hari kalender. Apabila berjalan sesuai jadwal, seluruh pekerjaan diharapkan selesai pada akhir tahun sehingga ruang-ruang belajar dapat kembali digunakan untuk mendukung proses pembelajaran.
“Kalau revitalisasi hanya tujuh ruang kelas, tentu ini langkah yang baik. Namun melihat kondisi sekolah yang sebagian besar bangunannya sudah rusak, saya berharap pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih besar agar rehabilitasi dilakukan secara bertahap hingga seluruh fasilitas sekolah kembali layak digunakan,” ungkap David Rumakito.
Ia berharap Pemerintah Pusat terus melanjutkan program revitalisasi pada tahun-tahun mendatang sehingga seluruh bangunan dan fasilitas pendidikan di SMK Negeri 1 Biak dapat diperbaiki secara menyeluruh.
David Rumakito menjelaskan bahwa usulan rehabilitasi sekolah memang diajukan setiap tahun oleh pihak sekolah. Namun, penetapan prioritas pembangunan sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah berdasarkan hasil perencanaan dan penganggaran nasional.
Kepala Sekolah Berharap Dukungan Berkelanjutan
Kepala SMK Negeri 1 Biak, Drs. Maskur Bora, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Pusat atas dimulainya program revitalisasi tersebut. Menurutnya, bantuan ini menjadi kabar baik bagi seluruh warga sekolah setelah bertahun-tahun memanfaatkan gedung yang kualitas fisiknya terus menurun.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atas perhatian yang diberikan kepada SMK Negeri 1 Biak. Revitalisasi tujuh ruang kelas ini merupakan langkah awal yang sangat baik untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan proses belajar mengajar.”
Maskur Bora menambahkan bahwa sebagian besar bangunan sekolah telah berusia lebih dari 30 tahun sehingga membutuhkan rehabilitasi secara bertahap dan berkelanjutan.
“Harapan kami, program revitalisasi ini tidak berhenti sampai di sini. Masih ada sejumlah ruang belajar dan fasilitas pendukung yang membutuhkan perhatian agar seluruh peserta didik dapat belajar di lingkungan yang aman, nyaman, representatif, dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan vokasi.”
Ia menegaskan bahwa seluruh warga sekolah siap mendukung kelancaran pelaksanaan revitalisasi sehingga pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu dan segera dimanfaatkan oleh para siswa.
Sekolah Unggulan Indonesia Timur yang Kini Menunggu Kebangkitan
SMK Negeri 1 Biak, yang dahulu dikenal sebagai SMEA Negeri 1 Biak, merupakan salah satu sekolah kejuruan unggulan di Kawasan Indonesia Timur. Sekolah ini dibangun atas gagasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro, sebagai pusat pengembangan pendidikan kejuruan yang modern dan berkualitas.
Berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 50.000 meter persegi, sekolah ini pernah menjadi kebanggaan masyarakat Papua. Berbagai fasilitas pembelajaran, seperti laboratorium praktik, laboratorium bahasa Inggris, ruang komputer, bengkel kerja, serta sarana pendukung lainnya, menjadi standar pendidikan vokasi yang maju pada masanya.
Namun, seiring berjalannya waktu, usia bangunan yang telah melampaui tiga dekade menyebabkan sebagian besar gedung mengalami kerusakan. Diperkirakan sekitar 80 persen bangunan kini membutuhkan rehabilitasi. Sejumlah fasilitas penunjang pembelajaran, termasuk laboratorium komputer dan laboratorium bahasa, juga sudah tidak mengikuti perkembangan teknologi, bahkan sebagian di antaranya mengalami kerusakan dan tidak lagi dapat dimanfaatkan secara optimal.
Keterbatasan anggaran pemeliharaan selama bertahun-tahun turut mempercepat penurunan kondisi fisik sekolah. Akibatnya, ruang-ruang belajar dan berbagai fasilitas pendidikan terus mengalami kerusakan dari waktu ke waktu.
Oleh karena itu, perhatian Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Tahun Anggaran 2026 disambut dengan penuh harapan. Program revitalisasi yang sedang berjalan diharapkan menjadi awal dari upaya rehabilitasi secara bertahap, tidak hanya terhadap ruang kelas, tetapi juga terhadap laboratorium, fasilitas komputer, peralatan praktik, serta sarana pendukung lainnya.
Revitalisasi ini, selain memperbaiki bangunan, juga menghidupkan kembali semangat sebuah sekolah yang pernah menjadi kebanggaan Indonesia Timur. Sebab, pendidikan yang berkualitas hanya dapat tumbuh di lingkungan belajar yang aman, layak, dan mampu menjawab tantangan zaman. Harapannya, SMK Negeri 1 Biak kembali menjadi pusat lahirnya tenaga-tenaga vokasi unggul yang mampu membangun Papua.





