Oleh: Heri Isnaini
Saya berdiri di depan mulut Goa Jepang. Sebuah lorong gelap menganga di hadapan saya. Dari luar, ia tampak seperti sekadar lubang yang dibelah pada tubuh bukit. Namun, saya tahu, tidak ada ruang yang dibangun oleh sejarah yang benar-benar kosong. Setiap batu menyimpan jejak. Setiap dinding menyerap suara. Setiap lorong memelihara kenangan yang tak seluruhnya dapat diucapkan.
Di tempat seperti ini, saya selalu teringat pada satu hal, bahwa sejarah sebenarnya tidak pernah mati. Yang sering mati adalah bahasa kita untuk mengingatnya. Kita dapat menghafal tahun pendudukan Jepang. Kita dapat menyebut nama-nama tokoh, strategi perang, atau jumlah korban romusha. Namun, pengetahuan semacam itu sering berhenti sebagai data. Ia tidak berubah menjadi pengalaman batin. Padahal, sejarah hanya benar-benar hidup ketika bahasa mampu menghidupkan kembali rasa yang pernah dialami manusia. Di sinilah sastra mengambil perannya.
Baca juga: Sepatu yang Mengelupas
Sastra bukan sekadar cerita yang indah atau puisi yang memanjakan bunyi. Sastra adalah cara manusia menyelamatkan pengalaman ketika sejarah hanya menyisakan angka. Sejarah mencatat bahwa ribuan orang menjadi romusha. Sastra bertanya, “Bagaimana bunyi napas mereka ketika mengangkat batu? Apa yang mereka pikirkan ketika malam turun di lorong yang lembap? Apakah mereka masih sempat menyebut nama ibu, istri, atau anak-anaknya sebelum tertidur dalam kelelahan?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak selalu dapat dijawab oleh arsip. Namun, sastra memberi ruang agar imajinasi etis bekerja, bukan untuk mengada-ada, melainkan untuk memulihkan sisi kemanusiaan yang sering hilang dari catatan sejarah.
Saya memasuki lorong itu beberapa langkah. Udara menjadi lebih dingin. Cahaya perlahan tertinggal di belakang. Saya membayangkan bahasa yang pernah terdengar di tempat ini. Barangkali ada bahasa Jepang yang keluar sebagai perintah. Ada bahasa Sunda, Jawa, atau Melayu yang lirih sebagai keluhan. Ada doa-doa yang dipanjatkan dalam bahasa ibu. Ada tangisan yang bahkan tidak sempat berubah menjadi kata.
Baca juga: PEREMPUAN DI TIKUNGAN
Tidak semua penderitaan memiliki kosakata. Kadang-kadang manusia hanya mampu diam. Dan justru dari diam itulah sastra sering lahir. Puisi-puisi terbaik tidak selalu lahir dari kata-kata yang ramai. Ia sering muncul dari ruang kosong yang gagal dijelaskan bahasa sehari-hari. Sebab itu, diam bukan lawan bahasa. Diam adalah bagian terdalam dari bahasa. Goa Jepang mengajarkan hal itu kepada saya. Lorongnya sunyi, tetapi kesunyiannya berbicara.
Dalam linguistik, kita mengenal bahasa sebagai sistem tanda. Dalam sastra, bahasa melampaui dirinya sendiri. Kata bukan lagi sekadar penanda benda, melainkan pembawa pengalaman. “Kegelapan” di dalam kamus hanya berarti keadaan tanpa cahaya. Namun, ketika kita berdiri di mulut Goa Jepang, kata itu berubah menjadi metafora. Ia menjadi ketakutan, penindasan, kehilangan, bahkan harapan yang nyaris padam.
Begitulah sastra bekerja. Ia menggeser makna denotatif menuju makna eksistensial. Sebab itu, saya selalu percaya bahwa bangsa yang kehilangan sastra akan perlahan kehilangan kemampuan merasakan sejarah. Ia masih mampu mengingat peristiwa, tetapi tidak lagi mampu menghayati penderitaan manusia yang hidup di dalamnya.
Ironisnya, kita hidup pada zaman ketika bahasa semakin melimpah, tetapi makna justru semakin menipis. Setiap hari jutaan kata diproduksi melalui media sosial, video pendek, dan berbagai platform digital. Namun, semakin banyak kata diucapkan, semakin sedikit yang benar-benar tinggal dalam ingatan. Goa Jepang menawarkan pelajaran yang sebaliknya. Ia nyaris tanpa kata, tetapi penuh makna. Mungkin sebab makna tidak lahir dari banyaknya ujaran, melainkan dari kedalaman pengalaman.
Sebagai dosen bahasa dan sastra, saya sering bertanya kepada mahasiswa, “Mengapa kita belajar bahasa Indonesia?” Sebagian menjawab agar mampu berkomunikasi. Sebagian lagi mengatakan agar dapat menulis dengan baik. Jawaban itu tidak salah.
Namun, sesungguhnya kita belajar bahasa agar mampu menjadi manusia yang memahami manusia lain. Tanpa empati, bahasa berubah menjadi alat. Tanpa imajinasi, bahasa kehilangan jiwanya. Tanpa sastra, bahasa hanya menjadi informasi.
Saya kemudian teringat pada pemikiran Mikhail Bakhtin bahwa setiap ujaran selalu membawa jejak suara-suara lain. Tidak ada bahasa yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap kata adalah hasil dialog panjang antarmanusia, antargenerasi, bahkan antarzaman. Barangkali demikian pula Goa Jepang. Ia tidak berbicara sendirian.
Lorong itu berdialog dengan masa kini. Ia bertanya kepada kita, “Apakah manusia telah belajar dari penderitaannya? Apakah bahasa hari ini digunakan untuk membangun kemanusiaan atau justru memperpanjang permusuhan?” Pertanyaan itu terasa semakin relevan ketika ujaran kebencian lebih cepat menyebar daripada puisi. Ketika fitnah lebih viral daripada pengetahuan. Ketika bahasa kehilangan fungsinya sebagai jembatan dan berubah menjadi tembok yang memisahkan manusia.
Sastra selalu mengingatkan bahwa setiap manusia adalah cerita. Di balik setiap korban perang ada seorang anak yang kehilangan ayah. Di balik setiap romusha ada seorang ibu yang menunggu kepulangan yang tak pernah tiba. Di balik setiap bangunan sejarah ada ribuan kalimat yang tidak pernah sempat dituliskan.
Mungkin sebab itulah saya merasa tempat seperti Goa Jepang lebih dekat dengan perpustakaan daripada sekadar situs wisata. Yang tersimpan di sini bukan hanya batu dan lorong, melainkan narasi-narasi yang belum selesai dibaca, dan setiap pengunjung sesungguhnya sedang membuka sebuah halaman baru.
Ketika saya meninggalkan Goa Jepang, saya menyadari bahwa yang paling perlu dijaga bukanlah dinding batunya, melainkan bahasa kita dalam mengingatnya. Sebab, suatu bangsa tidak hanya kehilangan sejarah ketika monumennya runtuh. Bangsa kehilangan sejarah ketika bahasanya tak lagi mampu menyebut penderitaan dengan hormat, ketika sastranya berhenti merawat empati, dan ketika generasi mudanya hanya mengenal masa lalu sebagai latar swafoto.
Di situlah saya percaya, bahasa dan sastra memiliki tugas yang jauh melampaui estetika. Keduanya adalah rumah bagi ingatan kolektif. Melalui bahasa kita menamai dunia, tetapi melalui sastra kita belajar menghayatinya. Bahasa memberi kita kata, sedangkan sastra mengajarkan kita makna.
Maka, berdiri di depan Goa Jepang sesungguhnya bukan hanya berhadapan dengan sebuah lorong sejarah. Saya sedang berhadapan dengan sebuah teks yang ditulis oleh waktu. Batu-batunya adalah paragraf. Kesunyiannya adalah tanda baca. Lorongnya adalah alur. Dan manusia-manusia yang pernah hidup, bekerja, menderita, serta berharap di dalamnya adalah tokoh-tokoh yang namanya mungkin telah hilang dari arsip, tetapi tidak pernah benar-benar hilang dari sastra.
Selama bahasa masih mampu mengucapkan kemanusiaan, dan sastra masih bersedia merawat ingatan, lorong-lorong seperti Goa Jepang tidak akan pernah menjadi ruang yang benar-benar sunyi. Sebab, ada kisah yang terus bergema bukan dari mulut gua, melainkan dari hati setiap orang yang masih mau membaca sejarah sebagai cerita tentang manusia.
Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Cimahi, Jawa Barat. Ia pernah mengajar Bahasa Indonesia di sejumlah sekolah di Kota Bandung pada tahun 2007–2020. Lahir di Subang pada 17 Juni, Heri aktif menulis artikel, esai, dan karya sastra yang telah dipublikasikan di berbagai media massa cetak maupun daring. Saat ini, ia juga menjadi kontributor RNSI dan Literatura Nusantara.





