BIAK|SUARA ANAK NEGERI – Wisatawan mancanegara memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026, khususnya pada daya tarik wisata bahari di Kepulauan Padaido dan Pulau OwI. Meskipun mengakui adanya keterbatasan akses informasi digital sebelum kedatangan, para pelancong internasional ini menilai keindahan alam dan keramahtamahan masyarakat lokal sebagai nilai jual utama yang mampu menutupi kekurangan tersebut. Hal ini terungkap dari wawancara mendalam dengan Alistair McGregor (warga Selandia Baru yang bermukim di Australia), seorang rekan wisatawan asal Selandia Baru lainnya, serta pendamping mereka asal Jerman, saat mengikuti rangkaian acara festival bertema “Elok Alamku, Pesona Budayaku”.
Apresiasi untuk Pemda dan Harapan Promosi Lebih Agresif
Para wisatawan secara langsung menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Biak Numfor atas inisiatif menggelar FBMW sebagai wadah pelestarian budaya dan promosi daerah. “Kami sangat menghargai upaya Pemkab Biak Numfor dalam menggelar festival ini,” ujar perwakilan wisatawan.
Baca juga: Dari Lahan Brimob ke Bulog, Jagung Ketahanan Pangan Resmi Didistribusikan
Namun, mereka juga memberikan masukan strategis agar pemerintah daerah lebih agresif mempromosikan potensi wisata alam bahari Biak melalui kanal digital internasional. Langkah ini dinilai krusial untuk menarik minat tidak hanya wisatawan domestik, tetapi juga wisatawan mancanegara yang memiliki daya beli tinggi dan ketertarikan pada ekowisata. Dengan promosi yang lebih luas, diharapkan arus kunjungan ke Biak dapat meningkat signifikan.
Pesona Padaido dan Keramahtamahan yang Autentik
Alistair McGregor, yang kini menjalani kunjungan ketiganya ke Biak, menyatakan kekagumannya terhadap keaslian ekosistem pasir putih di Padaido. Ia mendeskripsikan interaksi dengan masyarakat setempat sebagai sesuatu yang autentik dan tulus, bukan sekadar transaksi bisnis pariwisata.
“Ini adalah salah satu tempat paling ramah di dunia,” puji McGregor. Menurutnya, modal sosial berupa keramahtamahan warga menjadi aset kompetitif terbesar yang membedakan Biak dari destinasi wisata massal lainnya di dunia.
Menyaksikan Jejak Sejarah: Landasan Pacu Peninggalan Amerika
Pengalaman wisata mereka semakin lengkap saat mengunjungi Pulau OwI bersama rombongan Tour Wisata Padaido. Seorang wisatawan asal Selandia Baru, yang sebelumnya telah menghabiskan waktu dua tahun menjelajahi Australia, Bali, Kalimantan, dan Lombok, mengungkapkan bahwa minatnya ke Biak awalnya dipicu oleh informasi mengenai FBMW 2026.
Di Pulau OwI, mereka berkesempatan menyaksikan langsung situs historis landasan pacu peninggalan Perang Dunia II yang dibangun oleh Pasukan Amerika Serikat dalam waktu tiga minggu. “Hari pertama kami bisa menyaksikan sendiri landasan pacu yang dikerjakan Pasukan Amerika. Ini adalah bukti sejarah yang nyata,” ungkap mereka. Temuan ini menegaskan bahwa Biak Numfor memiliki paket wisata holistik yang menggabungkan atraksi bahari, budaya, dan sejarah perang (war tourism), yang potensinya masih belum sepenuhnya dieksplorasi untuk pasar global.
Refleksi Budaya dan Rekomendasi Strategis
Dari sisi sosiokultural, McGregor memberikan refleksi menarik berdasarkan pengalamannya di Selandia Baru, di mana bahasa Maori sempat tergerus oleh sistem pendidikan masa lalu. Ironisnya, ia mengaku lebih fasih berbahasa Indonesia daripada bahasa ibunya sendiri. Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi Papua untuk menjaga keberagaman bahasa dan adat istiadat sebagai inti daya tarik wisata, bukan sekadar komoditas pertunjukan. Ia juga mengapresiasi sikap masyarakat lokal yang menolak proyek pembangunan masif demi menjaga kelestarian ekologi, sejalan dengan prinsip pariwisata berkelanjutan.
Menanggapi temuan ini, diperlukan strategi ganda bagi Pemkab Biak Numfor: pertama, mempertahankan keaslian budaya dan alam melalui regulasi yang ketat; kedua, mempercepat transformasi digital dalam pemasaran pariwisata. Narasi unik seperti sejarah landasan pacu Amerika dan keindahan bawah laut Padaido perlu dikemas dalam pusat informasi terpadu (one-stop information center) yang multibahasa. Harmonisasi antara pelestarian identitas lokal dan modernisasi informasi akan memastikan kekayaan Biak dapat dinikmati oleh komunitas global, sebagaimana dialami oleh para wisatawan internasional ini.
–
Penulis: Anis Rumaropen





