Oleh: joko
Melalui renungan harian Jumat (3/7/2026), Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Pastor Pius Heljanan MSC, mengajak umat Kristiani untuk membangun iman yang tulus dengan tetap percaya kepada Tuhan, meski tidak selalu melihat tanda-tanda yang kasatmata.
http://suaraanaknegeri.com | Lauran – Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi tuntutan akan kepastian dan bukti nyata, iman justru mengajarkan manusia untuk melangkah melampaui apa yang dapat dilihat oleh mata. Kepercayaan kepada Tuhan bukan semata-mata lahir karena menyaksikan mukjizat, melainkan tumbuh dari keyakinan bahwa Allah senantiasa hadir dalam setiap perjalanan hidup manusia.
Baca juga: Dari Lahan Brimob ke Bulog, Jagung Ketahanan Pangan Resmi Didistribusikan
Pesan tersebut disampaikan Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Pastor Pius Heljanan MSC, dalam renungan yang dibagikan kepada umat, dengan mengangkat bacaan Injil Yohanes 20:24–29 mengenai perjumpaan Yesus yang bangkit dengan Rasul Tomas.
Belajar dari Keraguan Rasul Tomas
Pastor Pius Heljanan MSC menjelaskan bahwa keraguan yang dialami Rasul Tomas merupakan gambaran nyata sisi kemanusiaan setiap orang. Sebagai manusia, seseorang pada umumnya membutuhkan kehadiran dan perjumpaan langsung dengan orang yang dikasihi atau dikagumi agar memperoleh rasa tenang dan sukacita.
Hal yang sama juga sering terjadi dalam kehidupan beriman. Tidak sedikit orang merasa semakin yakin kepada Tuhan ketika menyaksikan mukjizat atau mengalami doa yang terkabul. Sebaliknya, ketika harapan belum terwujud, keraguan perlahan muncul dan menguji kualitas iman.
“Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya,” ungkap Pastor Pius Heljanan MSC mengutip sabda Yesus dalam Injil Yohanes.
Menurutnya, pesan tersebut menjadi undangan bagi setiap orang beriman untuk tidak menggantungkan keyakinan kepada Tuhan semata-mata pada pengalaman yang dapat dibuktikan secara lahiriah.
Kasih yang Mengalahkan Keraguan
Dalam renungannya, Pastor Pius Heljanan MSC menyoroti sikap Yesus terhadap Rasul Tomas. Alih-alih menghakimi karena keraguannya, Yesus justru hadir secara pribadi, menyapa dengan penuh kasih, dan meneguhkan kembali imannya.
Dari perjumpaan itu, Tomas akhirnya memberikan pengakuan iman yang menjadi salah satu pernyataan paling kuat dalam Kitab Suci. “Ya Tuhanku dan Allahku,” demikian pengakuan iman Rasul Tomas setelah berjumpa dengan Yesus yang bangkit.
Menurut Pastor Pius Heljanan MSC, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kasih Tuhan selalu lebih besar daripada keraguan manusia. Tuhan tidak menjauh ketika seseorang mengalami pergulatan iman, tetapi justru datang untuk menguatkan dan memulihkan kepercayaan kepada-Nya.
Iman Tidak Selalu Membutuhkan Bukti
Pastor Pius Heljanan MSC mengajak umat untuk memahami bahwa iman sejati tidak selalu menuntut pembuktian secara kasatmata. Sebaliknya, iman merupakan penyerahan diri secara utuh kepada Tuhan yang tetap berkarya meskipun tidak selalu terlihat oleh mata manusia.
“Kita belajar bahwa dalam hal beriman, tidak perlu bukti. Berimanlah dengan tulus. Yakinlah Tuhan yang tidak kelihatan setia hadir dalam hidupmu, dalam diri sesama dan melalui alam ciptaan-Nya,” pesan Pastor Pius Heljanan MSC.
Menjadi Pengikut Yesus yang Setia
Melalui refleksi Injil tersebut, Pastor Pius Heljanan MSC mengajak umat Kristiani untuk terus memelihara iman dalam berbagai situasi kehidupan, baik ketika mengalami sukacita maupun saat menghadapi tantangan dan pergumulan.
Menurutnya, kebahagiaan sejati seorang pengikut Kristus lahir bukan karena selalu melihat tanda-tanda yang luar biasa, melainkan karena memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Dalam keheningan doa, dalam kehadiran sesama, dan melalui keindahan alam ciptaan, kasih Allah senantiasa bekerja menyertai setiap langkah kehidupan orang yang percaya.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa iman bukan sekadar soal melihat, melainkan keberanian untuk tetap percaya. Sebab, seperti sabda Yesus kepada Rasul Tomas, berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun tetap percaya.(jk)





