Laporan Paulus Lartmase
–
PADANG – suaraanaknegeri.com| Seminar Internasional “The Second International Online Seminar on Poetry (IOSoP) 2026” kembali menegaskan posisi puisi sebagai medium yang melampaui batas-batas estetika. Dalam forum akademik yang mempertemukan dosen, peneliti, mahasiswa, penyair, guru, penulis, jurnalis, dan pegiat literasi dari berbagai negara tersebut, Sekretaris Panitia IOSoP 2026, Leni Marlina, S.S., M.A., menyampaikan keynote speech yang menempatkan puisi sebagai instrumen kemanusiaan, keadilan sosial, dan kolaborasi global.
Baca juga: BERTUMBUH DAN BERKEMBANG
Mengawali pemaparannya, Leni Marlina mengajak seluruh peserta merenungkan sebuah pertanyaan sederhana namun sarat makna.
“Have you ever felt invisible?” (Pernahkah Anda merasa tidak terlihat?)

Baca juga: Filosofi Hidup dari Secangkir Kopi
Menurutnya, seseorang dapat merasa “tidak terlihat” bukan karena keberadaannya secara fisik tidak disadari, melainkan karena suara, pengalaman, dan perjuangannya tidak pernah benar-benar didengarkan.
“Not because people could not see you physically, but because they could not hear your story.” (Bukan karena orang tidak dapat melihat Anda secara fisik, tetapi karena mereka tidak mendengar kisah Anda.)
Ia kemudian menggambarkan realitas yang masih dialami jutaan manusia di berbagai belahan dunia. Anak-anak yang suaranya diabaikan karena kemiskinan, para pengungsi yang kisah hidupnya tenggelam di balik statistik, hingga masyarakat yang berjuang menghadapi bencana iklim namun luput dari perhatian dunia.
“They are not faceless because they have nothing to say. They are faceless because too few people are listening to them.” (Mereka bukan tidak memiliki wajah karena tidak mempunyai sesuatu untuk disampaikan, tetapi karena terlalu sedikit orang yang mau mendengarkan mereka.)
Dalam pandangannya, di titik inilah puisi menemukan relevansinya sebagai bahasa kemanusiaan.
“Poetry begins when someone decides to listen.” (Puisi dimulai ketika seseorang memutuskan untuk mendengarkan.)
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa puisi memiliki kemampuan mentransformasikan pengalaman manusia menjadi kesadaran kolektif. Air mata dapat berubah menjadi memori bersama, penderitaan menjadi ketangguhan, dan harapan diwariskan lintas generasi.
“Poetry has taken pain and transformed it into resilience. It has taken hope and carried it across generations.” (Puisi telah mengubah penderitaan menjadi ketangguhan dan membawa harapan melintasi berbagai generasi.)
Dalam paparannya, Leni juga mengingatkan bahwa jauh sebelum dunia mengenal telepon pintar, media sosial, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), maupun jaringan digital, manusia telah membangun peradaban melalui cerita, lagu, dan puisi.
“Before humanity learned how to connect through technology, humanity learned how to connect through stories.” (Sebelum manusia belajar terhubung melalui teknologi, manusia terlebih dahulu belajar terhubung melalui cerita.)
Menurutnya, kondisi kala itu, tetap relevan di era digital. Meskipun masyarakat modern dibanjiri informasi dan teknologi komunikasi yang berkembang sangat cepat, pemahaman antarmanusia justru kerap mengalami krisis.
“We live in a world flooded with information… Yet, despite all this communication, genuine human understanding often feels incomplete.” (Kita hidup di dunia yang dibanjiri informasi… Namun di tengah derasnya komunikasi itu, pemahaman antarmanusia yang sejati justru sering kali belum utuh.)
Atas dasar itulah, seminar internasional ini diselenggarakan untuk mengembalikan fungsi puisi sebagai ruang dialog kemanusiaan. Leni mempertanyakan mengapa manusia terus membaca, meneliti, dan mendiskusikan puisi.
Jawabannya, menurut dia, sederhana namun mendasar: tidak semua orang memiliki ruang yang aman untuk menyuarakan ketidakadilan secara langsung. Puisi menjadi medium yang memungkinkan suara-suara itu tetap hadir di ruang publik.
“Not all of us are able to talk about politics. Not all of us are brave enough to fight injustice through campuses or offices. But poetry allows us to struggle.” (Tidak semua dari kita mampu berbicara tentang politik. Tidak semua cukup berani melawan ketidakadilan melalui kampus ataupun kantor. Namun puisi memungkinkan kita tetap berjuang.)
Ia menegaskan bahwa kekuatan puisi tidak bergantung pada senjata, kekuasaan politik, ataupun kemajuan teknologi.
“Poetry is powerful without guns. Poetry is powerful even without artificial intelligence or the digital era.” (Puisi tetap memiliki kekuatan tanpa senjata. Puisi tetap kuat bahkan tanpa kecerdasan buatan maupun era digital.)
Dalam kesempatan yang sama, Leni turut mengajak seluruh peserta, baik penyair, peneliti, dosen, guru, mahasiswa, jurnalis, media, maupun kreator konten untuk membangun kolaborasi lintas negara melalui karya sastra.
Semangat itu, kata Leni Marilina, sejalan dengan visi media Suara Anak Negeri News yang selama ini berupaya menghadirkan ruang bagi kelompok-kelompok yang kurang memperoleh kesempatan untuk menyampaikan suara mereka.
“We start from something very small in order to spread the spirit of building nations and global collaboration through poetry.” (Kita memulai dari sesuatu yang sangat kecil untuk menyebarkan semangat membangun bangsa dan membangun kolaborasi global melalui puisi.)
Ia menyadari bahwa masih banyak tokoh inspiratif yang layak menjadi pembicara di berbagai forum internasional. Namun keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Yang terpenting adalah memulai langkah kecil yang konsisten demi menghadirkan ruang-ruang baru bagi lahirnya gagasan, kreativitas, dan solidaritas kemanusiaan.
Selaku “Keynote Speech” sekaligus menegaskan bahwa puisi selain sebagai karya estetis, sekaligus sebagai praktik sosial yang mampu membangun empati, memperkuat literasi, menyuarakan kelompok yang terpinggirkan, serta mempererat kolaborasi global di tengah kompleksitas tantangan dunia kontemporer.
Melalui penyelenggaraan The Second International Online Seminar on Poetry (IOSoP) 2026, para peserta diajak melihat bahwa masa depan puisi tidak hanya terletak pada keindahan bahasa, tetapi juga pada kemampuannya menghadirkan suara-suara kemanusiaan yang selama ini belum memperoleh ruang untuk didengar.





