Era Nurza
—-
I
Hujan datang terlalu patuh
pada jadwal yang kami rusak sendiri
Ia turun mengikuti izin-izin
menyusuri lereng yang dicukur
mengisi lubang-lubang
bekas tanda tangan
Air masuk ke rumah kami
tanpa perlu mendobrak
sebab pintu telah lama dibuka
oleh keserakahan
yang menyamar sebagai pembangunan
Kami berdiri setinggi betis kesabaran
menunggu surut yang tak punya anggaran
sementara banjir mencatat
siapa yang untung
dan siapa yang selalu disalahkan
II
Ketika tanah bergerak
jangan buru-buru menyebutnya murka alam
Dengar lebih dekat
itu retakan kontrak
antara bumi dan manusia
Baca juga: MEMIMPIN RUPS DAN SEJARAH KOMISARIS
Bukit runtuh karena terlalu sering dibungkam
hutan hilang karena terlalu murah
sungai meluap membawa nama
yang tak pernah muncul
di laporan akhir tahun
Kami mencari sebab
di antara debu dan sirene
namun yang kami temukan
adalah kebiasaan lama
menyebut bencana
tanpa menyebut pelaku
III
Langit menghitam di atas kampung
bukan karena cuaca semata
Asap belajar naik
dari cerobong dan pembakaran
lalu turun sebagai penyakit
ke paru-paru anak-anak
Siang menjadi abu-abu
sekolah diliburkan
napas dijatah
sementara keuntungan
tetap beredar dengan bebas
Di bawah langit yang disandera
kami bertanya pelan
berapa nyawa
setara dengan satu konsesi
berapa batuk
setara dengan satu laporan laba?
IV
Banjir datang
dan lagi-lagi kami disuruh pasrah
Padahal tanah telah lama dipaksa
menyimpan ledakan
menahan beban
yang tak pernah ia setujui
Sumatera mencatat dengan getar
nama-nama yang hilang
rumah yang dipindahkan paksa
dan janji-janji
yang selalu terlambat datang
Peta berubah
alamat lenyap
dan bantuan berfoto
di depan reruntuhan
yang masih hangat
V
Kami menolak menyebut ini takdir
Bencana bukan peristiwa tunggal
ia adalah akumulasi
dari keputusan-keputusan
yang selalu mengorbankan yang sama
Jika tanah ini terus runtuh
itu karena terlalu lama
kami dipaksa diam
dan diajari menerima
Sumatera tidak meminta dikasihani
ia menuntut diakui
bahwa yang hancur
bukan hanya alam
tetapi keadilan
Serpong, Desember 2025





