http://suaraanaknegeri.com | Lauran – Di tengah perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, umat Katolik diajak untuk kembali menyelami makna terdalam Ekaristi sebagai wujud kasih Allah yang nyata bagi keselamatan manusia.
Pesan itu disampaikan Pastor Pius Heljanan MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dalam refleksi Minggu (7/6/2026).
Mengangkat tema “Tubuh dan Darah Kristus: Cinta yang Turun Jadi Makanan Keselamatan”, Pastor Pius menegaskan bahwa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus bukan sekadar perayaan liturgi, melainkan peristiwa iman yang menghadirkan kasih sempurna Kristus bagi umat-Nya.
Baca juga: Patroli Presisi Polres Tanimbar Sasar Titik Rawan Kriminalitas
Mengutip Sabda Yesus dalam Injil Yohanes 6:51-58, Pastor Pius mengingatkan bahwa Kristus sendiri telah menyerahkan diri-Nya sebagai santapan rohani bagi dunia.
“Tubuh-Ku benar-benar makanan, Darah-Ku benar-benar minuman,” ungkap Pastor Pius mengutip sabda Yesus.
Menurutnya, perayaan Ekaristi mengandung panggilan yang sangat mendasar bagi setiap pengikut Kristus, yakni membangun dan merawat communio atau persekutuan, persatuan, dan kebersamaan, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia.
Dalam kehidupan Gereja, kata dia, Komuni Kudus bukanlah sekadar tindakan simbolik. Ketika umat menyambut Tubuh dan Darah Kristus, yang diterima bukan hanya roti dan anggur sebagai lambang, melainkan Kristus sendiri yang hadir dan menyatukan diri dengan umat beriman.
Baca juga: Sat Polair Tanimbar Edukasi Keselamatan Berlayar
“Saat kita menyambut komuni, kita secara pribadi maupun bersama menyatukan diri dan hidup dengan Tuhan,” ujarnya.
Lebih jauh, Pastor Pius mengingatkan bahwa hubungan dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari relasi dengan sesama. Ekaristi yang diterima di altar harus tercermin dalam sikap hidup yang menghadirkan kasih, penerimaan, dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ia menegaskan bahwa tidak mungkin seseorang mengaku menerima Kristus, tetapi pada saat yang sama menolak kehadiran sesama atau hidup dalam pertentangan dengan nilai-nilai kasih.
“Saat kita menerima komuni berarti kita menerima Yesus. Bila di saat yang sama kita menolak sesama dan tidak hidup baik bersama sesama, sejatinya dalam hidup beriman ada yang tidak beres,” tegasnya.
Refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa iman Kristen tidak berhenti pada ritual keagamaan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membangun persaudaraan dan solidaritas.
Di tengah dunia yang kerap dipenuhi perpecahan, egoisme, dan sikap saling menjauh, Ekaristi menghadirkan pesan yang kuat tentang persatuan dan kasih yang menyembuhkan.
Pastor Pius juga mengajak umat untuk membedakan antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Jika makanan duniawi hanya mengenyangkan tubuh, maka Tubuh Kristus memberi kekuatan yang lebih mendalam bagi kehidupan manusia.
“Makanan duniawi mengenyangkan jasmani, tetapi Tubuh Kristus memuaskan lapar dan dahaga jiwa serta rohani kita,” katanya.
Melalui perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, umat diajak untuk semakin menyadari bahwa Ekaristi adalah perjumpaan dengan Kristus yang hidup, sumber kasih yang mempersatukan, sekaligus makanan keselamatan yang menguatkan perjalanan iman manusia menuju kehidupan kekal.(jk)





