http://suaraanaknegeri.com | Manila – Di tengah perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, umat Katolik kembali diajak untuk menyelami makna terdalam Ekaristi, bukan sekadar sebagai ritual liturgis, melainkan sebagai panggilan nyata untuk menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan reflektif itu disampaikan Pastor Mahasiswa Universitas Santo Tomas (UST) Manila, RD. Domincs Baldawins Masriat, dalam renungan Sejenak Sabda yang disampaikan dari Central Seminary UST Manila, Filipina, Minggu (7/6/2026).
Mengacu pada bacaan Kitab Ulangan 8:2-3.14b-16a, Surat Pertama kepada Jemaat di Korintus 10:16-17, dan Injil Yohanes 6:51-58, RD. Domincs mengajak umat untuk memahami Ekaristi sebagai perjumpaan yang mengubah cara pandang manusia terhadap sesama dan kehidupan.
Baca juga: Patroli Presisi Polres Tanimbar Sasar Titik Rawan Kriminalitas
Menurutnya, makna Tubuh dan Darah Kristus tidak berhenti di altar, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang menghadirkan cinta kasih bagi mereka yang membutuhkan. “Kita pun dipanggil dan diutus untuk menjadi roti yang terpecah dan dibagikan bagi orang lain,” ujar RD. Domincs Baldawins Masriat.
Panggilan itu, lanjutnya, menuntut keberanian untuk mengorbankan ego, waktu, tenaga, bahkan kenyamanan pribadi demi membantu, menghibur, dan menopang sesama yang sedang menghadapi pergumulan hidup.
Dalam refleksinya, RD. Domincs menegaskan bahwa Ekaristi juga merupakan tanda persatuan yang tidak boleh berhenti sebagai simbol keagamaan semata. Setelah menerima Tubuh dan Darah Kristus, umat dipanggil menjadi pembangun rekonsiliasi dan persaudaraan di tengah masyarakat yang semakin rentan terhadap perpecahan.
Baca juga: Sat Polair Tanimbar Edukasi Keselamatan Berlayar
Ia mengingatkan bahwa diskriminasi, kebencian, gosip, perundungan, dan berbagai bentuk ketidakadilan merupakan sikap yang bertentangan dengan makna Ekaristi. “Kita tidak bisa mengaku mencintai Tubuh Kristus di altar, jika kita masih merusak Tubuh Kristus yang hidup, yaitu sesama manusia,” tegasnya.
Lebih jauh, imam asal Indonesia yang sedang menjalani studi di Manila itu mengajak umat untuk menghargai kehidupan sebagai anugerah ilahi yang suci dan bernilai luhur.
Menyambut Tubuh dan Darah Kristus, katanya, berarti juga menghormati tubuh manusia sebagai bait Allah. Karena itu, setiap bentuk kekerasan, kecanduan yang merusak diri, maupun eksploitasi terhadap sesama harus ditinggalkan.
Tidak kalah penting, RD. Domincs menyoroti dimensi syukur yang menjadi inti Ekaristi. Di tengah dunia yang kerap dipenuhi keluhan, persaingan, dan rasa tidak pernah cukup, umat diajak untuk membangun spiritualitas syukur atas setiap berkat yang diterima.
Baginya, rasa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan sikap hidup yang mampu melihat kebaikan Tuhan bahkan dalam situasi yang sederhana sekalipun.
“Ekaristi adalah perayaan syukur terbesar atas cinta Tuhan yang tanpa batas bagi kita,” ungkapnya.
Melalui refleksi tersebut, RD. Domincs Baldawins Masriat mengingatkan bahwa Ekaristi bukan hanya perayaan iman di dalam gereja, tetapi juga sumber kekuatan moral yang membentuk karakter umat untuk hidup dalam kasih, persatuan, penghormatan terhadap martabat manusia, serta semangat berbagi kepada sesama.
Menutup renungannya, ia mengajak seluruh umat untuk memohon rahmat Tuhan agar mampu menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur dan menghadirkan kasih di tengah kehidupan. “Ya Allah, berkatilah kami agar kami mampu bersyukur atas hidup kami dan mampu untuk berbagi kasih kepada sesama kami.”(jk)





