http://suaraanaknegeri.com | Manila – Di tengah dunia yang semakin sibuk menjaga citra dan kepentingan, RD. Domincs Baldawins Masriat mengingatkan bahwa jabatan, gelar, dan pengakuan sosial tidak selalu berjalan seiring dengan keberanian membela kebenaran. Pesan itu disampaikannya dalam refleksi rohani Sejenak Sabda di Central Seminary UST Manila, Filipina, Sabtu (30/5/2026).
Dalam renungan yang diangkat dari Bacaan Liturgi Hari Biasa Pekan VIII, khususnya Injil Markus 11:27-33, Pastor Mahasiswa UST Manila itu menyoroti sikap para imam dan ahli Taurat yang lebih sibuk mempertahankan posisi daripada mencari kebenaran sejati. “Fokus mereka bukanlah ‘mana yang benar’, melainkan ‘mana yang aman bagi posisi kami’,” tegas RD. Domincs Baldawins Masriat.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana kekuasaan dan jabatan dapat kehilangan nurani ketika kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada integritas. Para pemimpin agama pada masa itu, kata dia, sebenarnya mengetahui kebenaran, namun memilih menutup mata karena takut kehilangan pengaruh dan legitimasi di hadapan masyarakat. “Mereka tahu kebenaran, tetapi tidak mau menerima konsekuensinya,” ujarnya.
Baca juga: ATR/BPN Hadiri RDP Pembahasan Tanah PSN Blok Masela
Refleksi itu tidak hanya berbicara tentang situasi religius pada masa lampau, tetapi juga menjadi kritik moral yang relevan terhadap kehidupan sosial modern.
Dalam banyak situasi, orang sering kali mengorbankan kejujuran demi menjaga reputasi, kenyamanan, bahkan kekuasaan.
RD. Domincs Baldawins Masriat menegaskan bahwa kejujuran hati jauh lebih penting daripada sekadar mempertahankan gengsi ataupun status sosial. “Kejujuran hati lebih penting daripada menjaga gengsi,” katanya.
Baca juga: Menteri Nusron Salurkan Hewan Kurban ke Ponpes Darunnajah
Ia mengingatkan bahwa mengorbankan kebenaran demi kepentingan pribadi hanya akan melahirkan kebohongan yang pada akhirnya mempermalukan diri sendiri.
Dalam refleksinya, ia juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang terlalu memuliakan simbol formal seperti gelar, jabatan, dan legalitas, namun sering mengabaikan kualitas karakter seseorang.
“Nilai seseorang ditentukan oleh karakter, bukan gelar formal,” ungkapnya.
Menurut RD. Domincs Baldawins Masriat, otoritas sejati lahir dari integritas hidup, keberanian bertindak benar, serta kesetiaan pada nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Karena itu, seseorang tidak otomatis bermartabat hanya karena memiliki jabatan tinggi atau pengakuan sosial.
Pesan reflektif tersebut ditutup dengan ajakan sederhana namun mendalam agar manusia tetap hidup dalam kejujuran dan keberanian moral di tengah berbagai godaan kepentingan duniawi. “Ya Allah, berkatilah kami agar kami mampu hidup dalam kejujuran dan kebenaran,” demikian doa penutup yang disampaikan.
Dari Manila, pesan RD. Domincs Baldawins Masriat terasa menjadi pengingat penting bahwa ketika jabatan kehilangan nurani, maka kebenaran perlahan akan tersingkir oleh kepentingan dan rasa aman semu.(jk)





