Oleh Benn Narahawarin
–
Dicopas dari SAKTI Monday | Info Budaya Kepulauan Tanimbar🎖️
🌱https://whatsapp.com/channel/0029VacNV7RHLHQXn55rNR0E
CERITA RAKYAT TANIMBAR | Senin,4 Mei 2026
_
Di antara cerita rakyat yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Tanimbar, kisah asal-usul ubi dari Desa Adaut menempati tempat istimewa. Bukan sekadar dongeng pengantar tidur, narasi ini menyimpan pesan mendalam tentang relasi antara manusia, alam, dan keberlimpahan pangan—sebuah metafora kearifan lokal yang relevan hingga kini.
Konon, pada masa lampau, Desa Adaut dilanda paceklik hebat. Tanaman gagal panen, ikan sulit ditangkap, dan warga mulai kelaparan. Sepasang suami-istri, Aratuwen dan Asatuenan, bersama dua anak mereka—Fundi si laki-laki dan Kutalae si perempuan—turut merasakan derita itu. Suatu hari, ketika kedua orang tua pergi ke hutan mencari makanan, Fundi dan Kutalae ditinggal sendirian di rumah.
Di tengah kelaparan, tiba-tiba muncul sosok ajaib: sebatang ubi raksasa yang mampu berbicara. Ia menanyakan ke mana orang tua mereka pergi. Dengan lugu, Fundi menjawab bahwa seluruh desa sedang mencari makan karena kelaparan melanda. Mendengar itu, sang ubi tersentuh. Ia meminta Fundi mengambil parang dan nyiru, lalu dengan rela memotong tangannya sendiri dan meletakkannya di atas nyiru. “Rebuslah ini,” katanya, “makanlah agar kalian tak mati kelaparan.” Setelah memberikan anugerah itu, sang ubi lenyap tanpa jejak.
Ketika orang tua mereka pulang, mereka terkejut melihat ubi rebus tersaji. Anak-anak menceritakan kedatangan sang ubi, tetapi Aratuwen dan Asatuenan tak percaya. Mereka menganggap itu hanya khayalan anak-anak lapar. Esok harinya, saat warga kembali ke hutan, mereka bersembunyi untuk mengintai. Benar saja—sang ubi muncul kembali. Namun kali ini, Aratuwen, tanpa berpikir panjang, melemparkan tombak ke arahnya.
Sosok ubi itu hancur berkeping-keping. Dari tubuhnya yang remuk, berjatuhan potongan-potongan ubi dalam berbagai warna: putih, ungu, kuning, merah—semua jenis ubi yang kini dikenal di Tanimbar. Potongan-potongan itu menyebar ke seluruh penjuru desa. Warga pun mengumpulkannya, menanamnya, dan sejak itu ubi menjadi sumber pangan utama yang menyelamatkan mereka dari kelaparan.
Dalam perspektif etnografi, kisah ini jauh melampaui mitos penciptaan. Ia merefleksikan hubungan sakral antara manusia dan tanaman pangan. Ubi bukan sekadar komoditas, melainkan entitas yang memiliki jiwa, kemurahan hati, bahkan kemampuan berkorban. Pengkhianatan Aratuwen—yang membunuh sang ubi karena ketidakpercayaan—bisa dibaca sebagai peringatan: alam akan memberi, asal manusia bersikap rendah hati dan percaya.
Lebih dari itu, cerita ini juga menjelaskan keragaman varietas ubi di Tanimbar, sekaligus membenarkan posisinya sebagai makanan pokok tradisional sebelum beras masuk. Hingga kini, ubi masih menjadi bagian penting dalam upacara adat, jamuan tamu, dan sistem pangan lokal—terutama di pulau-pulau terpencil.
Yang menarik, kisah ini juga menegaskan peran anak-anak sebagai penjaga kepekaan spiritual. Mereka yang pertama kali menerima anugerah sang ubi, karena hati mereka masih polos dan terbuka. Sementara orang dewasa—dengan logika dan keraguan—justru hampir menghancurkan karunia itu.
Cerita “Asal Usul Ubi” bukan hanya warisan lisan; ia adalah peta moral yang mengajarkan rasa syukur, kepercayaan, dan tanggung jawab terhadap sumber daya alam. Di tengah ancaman krisis pangan dan hilangnya kearifan lokal, kisah ini mengingatkan kita: kadang, keberlimpahan datang dalam bentuk yang tak terduga—dan hanya mereka yang percaya yang mampu menerimanya. @BeNar2026🙏





