Selasa, 28 April 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Gerbong Perempuan di Kereta Rel Listrik (KRL)

Penulis: Chris Poerba

Sejak awal, adanya gerbong perempuan adalah kebijakan atau prosedur khusus, yaitu tindakan afirmatif (affirmative action) untuk kenyamanan dan keamanan perempuan yang menjadi pengguna KRL. Kalau dalam bahasa saya, perempuan memiliki rahim yang perlu terus dirawat. Sementara itu, sebagian besar perempuan pekerja adalah perempuan berusia muda dalam usia produktif. Bisa dibayangkan, bila perempuan pengguna KRL lebih banyak berdiri daripada duduk—setiap hari, minggu, bulan, dan tahunan. Oleh karenanya, adanya gerbong perempuan ini juga bagian dari merawat kesehatan reproduksi. Bahkan, menurut keyakinan saya, sebaiknya ada penambahan jumlah gerbong perempuan, tidak hanya di bagian depan dan di belakang.

Baca juga: Bilingual Poems on Happy World Book Day 2026 by Leni Marlina, Anto Narasoma and Ramli Djafar

Tadi malam, pukul 09.00 WIB, Senin (27/04/2026), terjadi kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Sebuah KRL yang sedang parkir ditabrak oleh kereta lainnya, yaitu kereta luar kota dan lintas provinsi. Tabrakan itu meremukkan gerbong paling belakang, yaitu gerbong perempuan. Sebenarnya kecelakaan KRL dan kereta lainnya sudah beragam bentuk peristiwanya, seperti terperosok, tabrakan gerbong depan, gerbong belakang, dan masih banyak lagi kecelakaan di perlintasan kereta. Sampai saya menulis catatan ini, ternyata kasus ini dimulai ketika ada taksi yang tiba-tiba mobilnya mogok di rel. Pengemudi selamat, namun mobil taksinya sudah terseret oleh KRL. Informasi ini sudah tersampaikan ke KRL di Stasiun Bekasi Timur untuk menunda keberangkatannya. Sesama KRL, komunikasi yang dilakukan para awak kabin tampaknya tersampaikan dengan jelas. Namun, ternyata komunikasi terputus dengan kereta yang datang dari luar kota. Alhasil, kereta Argo Bromo menabrak hingga meremukkan gerbong paling belakang, yaitu gerbong perempuan.

Saya menuliskan catatan kronologis di atas supaya tidak dianggap menyederhanakannya menjadi persoalan gerbong perempuan di bagian belakang semata. Tidak ada seorang pun yang menginginkan kecelakaan. Pergi kerja dengan sukacita, pulang dengan dukacita.

Namun, untuk pembahasan kasus ini, kita perlu mencermati penempatan lokasi gerbong belakang yang dikhususkan untuk perempuan. Sepertinya pola berpikir kita masih berupaya menempatkan perempuan di belakang. Ibarat dapur di belakang rumah, maka sering kali perempuan hanya memasak dan tidak dilibatkan dalam pembicaraan sehari-hari di ruang tamu. Padahal, di ruang tamulah semua aturan disepakati.

Baca juga: Sukses Festival Pantun ASEAN, Penyala Literasi Semesta Siap Gelar PIL-Fest 2026

Jadi, menurut keyakinan saya, analisis gender dan interseksionalitas semestinya juga sampai pada lokasi penempatan gerbong secara spasial dan desain. Desain yang saya maksud meliputi early warning system, termasuk bagaimana cara mudah melarikan diri dan keluar dari himpitan pasca kecelakaan. Hal ini memerlukan diskusi yang melibatkan perspektif gender, studi perkotaan, planologi, dan arsitektur.

Turut berdukacita kepada semua korban dan keluarganya. Gak bisa bicara apa-apa lagi.

Jakarta, 28/04/2026
Chris Poerba
@sorotan #sorotan #pengikut

Kategori:
Tags:

Terkini