dalam marahnya, ia istirah pantai utara paciran:
angannya selusup hamparan pasir senja
mengubur diri tanpa nama tanpa suara laut pasang
sudah lelah menunggu janji asa rekayasa
selalu menjadi ampas kopi dibuang ke jalanan
digilas roda-roda kuasa benam kepedulian
matahari pun segera diselundupkan palung kegelapan
ini bukan tentang anjing gonggong tulang-tulang disembunyikan
bukan tentang monyet cericip pisang kacang dimusnahkan
namun, pemadaman cahaya suluh pendidikan
pemasungan adab dipanggungkan
dalam lakon: guru menuakkan kegetiran
tertawalah, siwalan sebentar lagi akan menira manis
problema hanya sebutir debu
lesap angin laut malam
dan pagi matahari lepas mencumbu laut
senja kembali hujan menumbuhkan kemenangan
malam makin menegas garis laut
ombak badai tak mampu menghapus keteguhan
marahnya meredam, menggelar sajadah dalam sujud
menumpah air mata laut penghambaan
Aola Cafe Paciran-Lamongan, 15-10-2026



