Laporan Bernard H
–
MANOKWARI — SUARA ANAK NEGERI| Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Daerah Pemilihan Papua Barat, Lamek Dowansiba, S.H., melaksanakan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Universitas Muhammadiyah Papua Barat (UMPB), Manokwari, Jumat (2/10/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Penguatan Empat Pilar MPR RI Menuju Indonesia Emas 2045.”
Baca juga: Dari Biak ke Timika, Kami Bertemu Kembali di Rumah Sakit Mitra Masyarakat

Sosialisasi diikuti oleh jajaran pimpinan universitas, dosen, serta mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan UMPB. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi kebangsaan sekaligus forum dialog mengenai pentingnya penguatan nilai-nilai konstitusional, persatuan, dan keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Hadir sebagai narasumber, Yohanis Bosko Ulukyanan, S.H., M.H., yang menyampaikan materi mengenai urgensi penguatan wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda. Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual muda yang diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai kebangsaan ke dalam kehidupan akademik maupun kehidupan sosial kemasyarakatan.
Baca juga: Kemendikdasmen Perkuat Kompetensi Guru BK di NTT, Optimalkan Pendampingan Murid di Daerah 3T
Dalam sambutannya, Lamek Dowansiba menegaskan bahwa Empat Pilar MPR RI, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika, merupakan landasan penting dalam membangun kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Mahasiswa adalah penerus bangsa. Karena itu, pemahaman terhadap Empat Pilar harus tertanam kuat agar mereka mampu menjadi agen perubahan yang menjaga persatuan dan kesatuan, khususnya di Tanah Papua,” ujar Lamek.
Ia menjelaskan bahwa sosialisasi Empat Pilar merupakan bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai nilai-nilai dasar kehidupan bernegara. Selain memberikan pemahaman kebangsaan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk menjangkau masyarakat di daerah serta membuka ruang bagi penyampaian aspirasi masyarakat kepada lembaga perwakilan.
Menurut Lamek, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga kohesi sosial di tengah perubahan lingkungan strategis yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, globalisasi, serta dinamika sosial dapat memberikan peluang bagi kemajuan, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan terhadap persatuan apabila tidak diimbangi dengan literasi kebangsaan dan tanggung jawab sosial.
Sementara itu, Yohanis Bosko Ulukyanan menjelaskan bahwa visi Indonesia Emas 2045 membutuhkan fondasi nilai yang kuat. Pembangunan nasional, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi, tetapi juga membutuhkan kualitas sumber daya manusia yang memiliki integritas, tanggung jawab, serta kesadaran sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
“Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat keberagaman harus menjadi pegangan dalam setiap langkah pembangunan. Generasi muda harus siap berkontribusi dengan integritas dan rasa cinta tanah air,” jelas Yohanis.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk mengambil bagian secara aktif dalam pembangunan daerah, termasuk pembangunan Papua Barat. Menurutnya, kontribusi generasi muda dapat diwujudkan melalui peningkatan kapasitas akademik, partisipasi sosial, penghormatan terhadap perbedaan, serta kemampuan menggunakan teknologi digital secara bertanggung jawab.
Dalam konteks masyarakat Papua Barat yang memiliki keragaman sosial, budaya, agama, dan latar belakang komunitas, nilai Bhinneka Tunggal Ika dinilai memiliki relevansi penting dalam membangun kehidupan sosial yang inklusif. Keberagaman tidak semestinya dipandang sebagai faktor pemisah, tetapi dapat menjadi modal sosial dalam memperkuat pembangunan daerah dan kehidupan kebangsaan.
Rektor Universitas Muhammadiyah Papua Barat, Hawa Hasan, S.Sos., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, sosialisasi Empat Pilar sejalan dengan tanggung jawab perguruan tinggi dalam mengembangkan wawasan kebangsaan dan karakter mahasiswa.
“Kami berterima kasih kepada Bapak Lamek Dowansiba yang telah memilih UMPB sebagai tempat sosialisasi. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi sivitas akademika, khususnya mahasiswa, untuk memperdalam pemahaman tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Hawa Hasan berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak unsur sivitas akademika. Menurutnya, penguatan wawasan kebangsaan di lingkungan perguruan tinggi penting untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kesadaran konstitusional, tanggung jawab sosial, dan komitmen terhadap pembangunan daerah.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi dialog dan tanya jawab. Sejumlah mahasiswa menyampaikan pertanyaan mengenai penerapan nilai-nilai Empat Pilar dalam kehidupan sehari-hari, peran pemuda dalam pembangunan Papua Barat, serta tantangan mempertahankan persatuan dan toleransi di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi.
Antusiasme mahasiswa dalam sesi diskusi menunjukkan bahwa isu kebangsaan tetap memiliki relevansi kuat dalam kehidupan akademik. Forum tersebut sekaligus menjadi ruang pertukaran gagasan antara mahasiswa, akademisi, dan anggota lembaga perwakilan mengenai pentingnya membangun generasi muda yang memiliki kapasitas intelektual sekaligus kesadaran kebangsaan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama yang melibatkan Anggota DPD RI Lamek Dowansiba, narasumber, pimpinan Universitas Muhammadiyah Papua Barat, dosen, serta mahasiswa peserta sosialisasi.


