Laporan: Nuyang Jaimee
JAKARTA — Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menghadiri peluncuran dan diskusi buku Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, Jumat, 11 September 2026, di Lantai 4 Balai Sastra HB Jassin, Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat.
Agenda yang berlangsung pukul 14.00–17.00 WIB tersebut menjadi bagian dari kegiatan literasi Perpustakaan Jakarta. Buku setebal 136 + XII halaman itu mengangkat kembali kisah, proses kreatif, kehidupan masyarakat, serta nilai-nilai yang melekat dalam serial televisi Si Doel Anak Sekolahan. Hadir dalam acara tersebut Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno. Selain itu Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta Nasruddin Djoko Surjono, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Mochamad Miftahulloh Tamary, serta sejumlah tokoh dan pegiat kebudayaan, Harry Tjahjono, budayawan Betawi Yahya Andi Saputra, Fanny Jonathan Poyk sebagai narasumber diskusi buku dan Kurniawan Djunaedhie sebagai moserator.

Kehadiran Rano Karno dalam peluncuran buku tersebut memiliki makna tersendiri. Selain sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano merupakan seniman senior yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia seni dan kebudayaan Indonesia. Ia dikenal sebagai pemeran utama, sutradara, sekaligus produser Si Doel Anak Sekolahan. Kehadirannya juga memperlihatkan bahwa ruang seni dan kebudayaan semakin mendapat tempat dalam kepemimpinan DKI Jakarta saat ini.
Bagi para seniman, pekerja seni, dan komunitas kebudayaan, perhatian tersebut menjadi angin segar sekaligus harapan besar. Terlebih Jakarta merupakan ruang tumbuh bagi banyak seniman dan komunitas dari berbagai wilayah, termasuk Jabodetabek.
Kehadiran seorang seniman dalam pemerintahan diharapkan dapat membuka ruang dialog yang lebih luas serta memperkuat perhatian terhadap kehidupan dan ekosistem seni dan kebudayaan. Rano Karno hadir bukan hanya sebagai pejabat pemerintahan, tetapi juga sebagai bagian penting dari perjalanan kreatif Si Doel Anak Sekolahan. Dalam kesempatan tersebut, ia kembali mengenang hubungan kreatifnya dengan Harry Tjahjono.
Rano mengatakan Harry merupakan sosok yang membentuk banyak karakter sekaligus dunia kampung dalam Si Doel Anak Sekolahan. “Menemukan Mas Karyo, menemukan Atun, menemukan Pak Bendot, menemukan Rodiah, menemukan Pak Tile, Nunung, Munaroh dan lain-lain,” ujarnya. Harry juga disebut sebagai sosok yang membangun dunia kampung yang menjadi ruang hidup para tokoh dalam cerita.

Rano mengungkapkan Harry menulis hingga 78 episode Si Doel Anak Sekolahan. Produktivitas tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang kerja kreatif keduanya. Selain menulis skenario, Harry juga berkolaborasi dengan Rano dalam penciptaan sekitar 30 lagu.
Hubungan Rano dan Harry telah terjalin jauh sebelum Si Doel Anak Sekolahan. Rano mengenang ayahnya, aktor Soekarno M. Noor, telah mengenal Harry melalui novel Selamat Tinggal Duka. Dari hubungan tersebut kemudian berkembang berbagai kerja kreatif yang mempertemukan keduanya dalam dunia sastra, televisi, dan musik.
Rano juga menekankan latar belakang Betawi yang menjadi salah satu kekuatan penting dalam Si Doel Anak Sekolahan. Harry dan Rano sejak awal memiliki kegelisahan bahwa kebudayaan Betawi jangan sampai kehilangan tempat di Jakarta. “Waktu menulis Si Doel dulu pikiran saya dengan Bang Rano, kalau kita tidak menulis tentang Betawi maka Betawi akan menjadi tamu di rumahnya sendiri,” kata Harry.
Bagi Rano, latar Betawi dalam Si Doel bukan sekadar lokasi cerita, melainkan bagian dari identitas dan kebudayaan Jakarta. Hal tersebut sejalan dengan perhatian terhadap kebudayaan dan ekonomi kreatif yang menjadi bagian penting dalam pembangunan kota.

Dalam pengantar bukunya, Rano menyebut Si Doel bukan hanya cerita tentang sebuah produksi televisi, tetapi juga menghadirkan nilai kesederhanaan, penghormatan kepada orang tua, persahabatan, kepedulian kepada masyarakat biasa, serta keyakinan bahwa kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan kemanusiaannya.
Harry sendiri menyebut buku tersebut bukan semata-mata catatan proses pembuatan serial televisi. Buku itu merupakan catatan perjalanan tentang persahabatan, Jakarta, kampung, rakyat kecil, dan nilai-nilai kehidupan yang diyakininya tetap relevan.

Yahya Andi Saputra menilai buku tersebut membuka kembali proses kreatif lahirnya Si Doel Anak Sekolahan sekaligus memperlihatkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Betawi, terutama keluarga dan kehidupan kampung yang sederhana, dekat, serta penuh penghormatan. Sementara Fanny ,……..
Kehadiran Rano Karno dalam peluncuran buku Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung akhirnya mempertemukan kembali seorang seniman dengan karya yang menjadi bagian penting dari perjalanan kreatif sekaligus memori budaya Jakarta.
Sebelum mengakhiti diskusi, moderator Kurniawan Djunaedhie menekankan bahwa pelestarian kebudayaan Betawi seharusnya menjadi perhatian bersama. Kebudayaan tidak cukup hanya dikenang melalui karya seni atau tayangan televisi, tetapi perlu dirawat dan dikembangkan sebagai identitas serta bagian dari kehidupan budaya Jakarta.
Buku Harry Tjahjono menjadi ruang untuk membaca kembali perjalanan tersebut, sekaligus membuka harapan bahwa seni dan kebudayaan semakin mendapat ruang dalam kehidupan Jakarta. [PM]



