Sajak-sajak Anto Narasoma
———————————–
I
FAKTA DI MATAKU
Baca juga: Sayap Enggang untuk Keadilan dan Kesejahteraan: Refleksi Jelang MUNAS ISKA di Balikpapan
kutatap wajah bulan
dalam mataku
hatiku pun berdarah mengucurkan kemarahan yang menggantung di udara
sebab asap dan cuaca dirampok para oknum pengusaha yang menginjak-injak kepala orang-orang di hutan terbakar
o, begitu rakus cuaca di udara berkabut pekat !
kepada siapa harus dilaporkan terkait catatan yang berpihak ke hukum lapisan bawah?
dari berita pagi televisiku,
arus listrik menggerakkan kemarahan hati nurani rakyat, karena kuping-kuping pada daun telinga yang tuli hanya plangak-plongok di sisi kedua negeriku
masih diamkah kita
ketika ambrolnya lumpur cokelat dan pencurian kayu gelondongan tiba dalam hujan kemarahan di aceh, sumatera utara, dan padang?
lalu, kemanakah tangan-tangan oknum pembakar hutan yang menyesakkan hukum dan politik negeriku?
13 September 2026
II
KABUT ASAP
o, kabut asap pun tiba di dadaku
pekat, dan membayang abu-abu
kau bakar ranting kayu
di mataku,
lalu, tergeletak tak berdaya
uh, sesak pandangan di udara yang hangus terbakar
asap apa meluapkan janji-janji dari mulutmu sebusuk ribuan kebohongan?
hanya joget salsa saja yang tercatat
ketika api menjadi ketakutan dari ribuan areal hutan kalimantan dan sumatera
seperti iblis merah yang menari dari satu pepohonan,
ke batang-batang lainnya, api pun membara di sana-sini
maka,
asap itu pun menggeliat membawa kemenangan bagi pengusaha yang ketiaknya becek minyak sawit
lalu,
kabut keabu-abuan
menebarkan kematian hati nurani
bagi tangan-tangan penguasa yang main mata di pentas kepentingan
o, hutanku
seperti pagar penjara
karena batang dan pepohonan yang malang-melintang di perkebunan asal,
harus dibakar !
maka,
bakarlah !
bakar saja !!
agar asapnya mematikan rakyat di sekitar kemiskinan yang tak sempat menikmati kekayaan negerinya
o, oknum pengusaha dan penguasa,
kemana perginya hati nuranimu?
dari bekas-bekas catatan malam,
kebakaran sudah meluas ke dalam tangisan ibu pertiwi
apinya,
hampir mendekati kematian hati nurani,
yang disuap miliar keserakahan
o, begitu sesak
karena persekongkolan yang menebalkan kantong-kantong oknum, meninggalkan coretan-coretan kerusakan nasib rakyat borneo fan sumatera
6 September 2026
III
AIR PADA HUJAN API
o, hujan
kucurkan air-Mu
karena tanah dan pokok pepohonan
di hutanku,
membara dalam kerakusan iblis penguasa dan pengusaha
maka, inilah suara
yang memgungkap nada dari tibuan pepohonan karena asap mulai merajalela di dada kami
uh,
begitu sesak napasku
ketika api menyeruak
ke celah-celah ketiak pepohonan yang tak sempat lenitikkan
air mata
karena hutan api
telah menghanguskan pikiran dan masa depan kayu-kayu ranting adat istiadat
di negeriku
maka
kabut api pun membakar asap setelah keserakahan hatinya –menumbamgkan hutanku
o, hutanku
siapa pemlik tangan-tangan busuk yang menghitamkan hatinya dalam baris-baris sajak permohonan itu?
31 Agustus 2026
IV
MASIH HIDUPKAH SAYA ESOK?
minyak tanah itu nyaris menjerit ketika kelap-kelip lampu mulai berkedip
di udara berkabut keabu-abuan
o, masih hidupkah saya esok?
peta kehidupan memang luas terlukis
tak akan ada lampu teplok yang langsung padam ketika cahaya api membara di balik kematian hutan borneo dan sumatera
maka,
pertanyaan itu mulai membicarakan status orang-orang bermodal cekikikan dan pandai bermain mata dengan penguasa plangak-plongok penuh strategi
sebab,
kehidupan, kematian, dan catatan usia, selalu bernapas dari kelap-kelipnya catatan ajal
tatkala hidup mati menjadi landasan pada hari-hari terakhir,
apakah catatan prestasi kita sudah memenuhi sujud kepada-Nya?
17 Juni 2026
V
DIA, WANITA ITU
berkali-kali aku
menghindari seribu wajah perempuan
yang membangkitkan kata dalam abjad percintaan sesaat
maka,
syahwat ini seperti teman seperjuangan
yang pelan-pelan berbelok sesuai pengkhianat kesucian hatiku
seperti serpihan debu yang memekat abu-abu di udara,
aku pun bias ke dalam sajak percintaan masa lalu, penuh kepentingan politik tertentu
o, setelah firman-nya menjaga kesucian hatiku sebelum aku tumbang ke tanah terakhir,
permainan plangak-plongok justru membakar ratusan ribu bidang tanah hutanku
yang kaya, tapi rakyatnya jadi sampah barang-barang bekas
maka,
sudah berbilang waktu
segala kata-kata menjadi lunglai –setelah merangkai kalimat ke dalam urutan cahaya pagi tanpa kabut asap
haruskah tetap diam
di antara ruang-ruang perjalanan kakiku yang bersimpuh di lantai rumah-Mu, Tuhanku?
12 Juni 2026
VI
RAJA JAWA
seni dan skenario
yang terlukis pada wajah negeriku,
akan memojokkan kisah-kisah kekuasaan di tanah ini
sebab,
meski gurat garis itu meleleh di atas kanvas,
warna-warni cerita akan melarang ide-ide cemerlang tampil sendiri ketika dipamerkan sebagai pelakon utama
padahal,
seni adalah rasa
yang berkelindan dari lukisan ke lukisan lain
yang mengemas sepotong raja jawa
coba perhatikan,
tiap adegan di sepanjang skenario yang bermain di atas kanvas,
mewujudkan wajah-wajah raja jawa yang haus kekuasaan di panggung secangkir kopi
maka,
tatkala adegan itu berjalan lembut gemulai,
wajah raja jawa pun
tersenyum sembari menindas perasaan sutradaranya,
yang berkubang cat minyak
: jangan tampil di pentas permainan politik !, teriak peraturan itu
diam-diam lukisan itu menciut dan bersembunyi di balik kekecewaan yang menginjak-injak privasi pementasan
haruskah sutradara merobek skenario lukisan yang berteriak atas nama suara rakyat?
23 Desember 2024
VII
LUKISAN SEPARUH BAYANG
seraut lukisan
kau bentuk di atas cerita dalam berbagai catatan
corak gambar dan esensi lukisan yang terbahak di atas tumpukan cerita,
menampar separuh wajahku
negeri abal-abal
yang menampilkan potongan-potongan pulau di antara laut dan selat-selat,
sudah kehilangan air mata ketika kedalaman samudera hanya sebatas kepentingan oligarki
ah,
kekayaan pulau, hutan, dan tambang-tambang yang terdata,
hanya catatan dongeng anak-anak menjelang tidur
dalam kisah negeri kaya separuh wajah,
nasib rakyatnya bias ke dalam cuaca pekat bagi kepentingan busuk berbau bangkai di atas barang-barang rongsokan
o, seraut wajah tua
yang menyimpan cita-cita di dalam lukisan abstrak
hanya memiliki kekayaan bohong-bohongan bagi kerakusan oligarki
sebab,
pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, hanya cerita kelam menjelang tidur,
lalu gelap dan kelam
dalam impianku,
kata-kata hanya cerita peperangan –dalam usaha mengobrak-abrik koruptor hingga
ke padang pikiran
lantas,
mimpi panjang pun tuntas
kisah para koruptor menampilkan taringnya sebagai lukisan separuh bayang
29 Mei 2026
VIII
SEBATAS CERITA
o, mashitoh
terkulailah usia yang tumbang direnggut kematian
anak, suami, kekasih lainnya, hanya sebatas cerita dalam sepenggal kisah yang diceritakan lewat kelahiran, kehidupan, dan kematian
ingat,
sepenggal kehidupan
yang kau bungkus lewat lintasan harta,
hanya skenario yang membuka cerita pada panggung pementasan sebabak
maka
usia hanyalah angka,
yang melangkah dari satu perjalanan ke perjalanan lain,
ia pun mengendalikan cerita sebusuk bangkai
lantas,
di mana keangkuhan dan kesombongan yang menjadi sahabat,
sebelum kau berpeluk ajal dari ada setelah tiada?
2 Juni 2026
IX
GURU HONORER
kau tertunduk
selepas perjuangan itu lunglai ke dalam radius panjang yang penuh koruptor
seperti peternak itik,
langkah-langkah perjalananmu yang becek di sekitar kebakaran hutan,
menorehkan luka pada keikhlasan tentang upah, tentang pengajaran
tentang jarak tempuh yang jauh dan jauh !
lima belas tahun pengabdianmu pun anjlog dari harga pendidikan yang compang-camping pada batasan nilai honormu
lalu,
di atas meja guru inilah pikiranmu tumpah ke angka-angka matematika
dan kisah sejarah yang jauh dari perhatian negerimu
lima belas tahun pengabdianmu otu merayap dari tahun ke tahun
hingga program MBG pun membenamkanmu ke tanah pemakaman
dan,
kaupun lapuk ke dalam waktu. sebab, dari awal sebelum akhir
—jarak tempuh karirmu terperosok ke lumpur perjalanan
yang belum membuka kran pengajaran
tentang jarak tempuh yang jauh dan jauh !
o, kapan nilai angka dompetmu terbang pada landasan kepentingan tertatih sehari-hari
2 Juni 202
X
LAKON LYSISTRATA DUA BABAK
babak I
ratusan tahun wajahmu
kau paparkan ke naskah cerita
setelah ribuan garis memperkuat marahmu
di panggung permainan itu
ilustrasi musik
sejak tadi menyenandungkan lakon lysistrata,
meneriakkan jiwa-jiwa patah di wajahmu yang penuh watak
maka,
perang panjang
di atas nafsu yang menginjak-injak harga kemanusiaan,
terkekeh di setiap tubuh wanita
lysistrata pun diliputi cinta yang membatasi garis tengah
agar suami istri menuliskan kisah
yang meretakkan sejumlah nasib orang-orang athena dan sparta ; telah menggoyang lantai tontonan
simpan dan cucilah hatimu. karena wanita dan harkat kehidupan adalah cinta, tegas sang pelakon
babak II
perang adalah api
berkobar meluapkan dendam atas ruang luas tak berkemanusiaan
tatkala lysistrata membisikkan ke ribuan telinga,
wanita adalah skenario cinta yang dihinakan sebagai kata-kata dengan naskah tak tuntas
oo,
kepada siapa perang cinta itu meletupkan syahwatnya yang kebiru-biruan dalam permainan sejumlah peran?
lysistrata,
dari lakon ke lakon tokoh yang berjalan lurus, mengisahkan permainan di auditorium theatre
setelah lembaran naskah usai kau lafalkan
lalu,
permainan pun menebar ke tiap sudut musik,
yang mengiringi wanita-wanita tak menjajakan fungsinya setelah tiap adegan politik –diwarnai hitam-putihnya lakon koruptor
“kami tak mampu membuka hari –setelah kata demi kata berjalan dalam kisah cerita. adakah harga menjelajahi kehidupan kami para wanita?!” suara koor seperti nada simponi dalam skenario itu
lunglai, lysiatrata
karena permainan tetap menantikan agar pertempuran tak menyudutkan kesetiaan cinta
tapi,
api pertempuran masih terus membakar hutan dan tambang-tambang kepentingan,
yang menyala dalam jerit tangis anak-anak jalanan,
setelah ditembus kelaparan panjang
12 September 2026


