Minggu, 13 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

HARRY TJAHJONO: Luncurkan Buku Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung

 Laporan: Nuyang Jaimee

JAKARTA — Penulis skenario Si Doel Anak Sekolahan, Harry Tjahjono, meluncurkan buku berjudul Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung, Jumat, 11 September 2026, di Lantai 4 Balai Sastra HB Jassin, Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra Balai HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini, Jakarta Pusat.

Buku setebal 136 + XII halaman tersebut membicarakan kembali kisah, kehidupan, dan nilai-nilai yang terdapat dalam serial televisi Si Doel Anak Sekolahan.

Baca juga: Peringati HUT TNI AL ke-81, Wing 3 Puspenerbal Lakukan Aksi Lanjut Peduli Lingkungan dan Ziarah Sejarah di Biak

Peluncuran tersebut dihadiri Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta Nasruddin Djoko Surjono, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Mochamad Miftahulloh Tamary, Harry Tjahjono, dan Yahya Andi Saputra, Fanny Jonathan Poyk sebagai narasumber diskusi buku serta Kurniawan Djunaedhie sebagai moderator.

Rano Karno, pemeran utama sekaligus sutradara dan produser Si Doel Anak Sekolahan, mengatakan bahwa Harry Tjahjono memiliki peran penting dalam membangun karakter dan dunia cerita Si Doel. Menurut Rano, Harry “menemukan Mas Karyo, menemukan Atun, menemukan Pak Bendot, menemukan Rodiah, menemukan Pak Tile, Nunung, Munaroh dan lain-lain”. Harry, kata Rano, juga yang menciptakan kampung di dalam Si Doel.

Baca juga: FPS-TIM Audiensi ke DKJ, Dorong Tata Kelola Kesenian Jakarta Lebih Terbuka dan Berpihak pada Komunitas

Rano mengungkapkan, Harry sempat menulis skenario hingga 78 episode sebelum berhenti karena merasa lelah. Hubungan kerja dan kreativitas keduanya juga berlangsung panjang. Rano mengatakan, ayahnya, aktor Soekarno M. Noor, sudah mengenal Harry lebih dahulu melalui novel Selamat Tinggal Duka. Pertemuan Rano dengan Harry kemudian berkembang menjadi kerja sama kreatif dalam serial Si Doel Anak Sekolahan.

Selain skenario, Harry dan Rano juga berkolaborasi menciptakan sekitar 30 lagu. Harry mengatakan, dirinya dan Rano dahulu sangat produktif, bukan hanya dalam menulis skenario, tetapi juga novel, puisi, novelet, dan lagu.
“Saya dulu dengan Bang Rano sangat produktif dan sangat kreatif. Mungkin selain menulis skenario, juga menulis novel, puisi, novelet, saya juga dengan Bang Rano menulis 30 lagu ya. 30 lagu yang insya Allah nanti bulan Januari akan diremix,” ujar Harry.

Menurut Harry, latar belakang utama dari gagasan Si Doel adalah kegelisahan terhadap keberadaan budaya Betawi di tengah perubahan Jakarta. “Waktu menulis Si Doel dulu pikiran saya dengan Bang Rano, kalau kita tidak menulis tentang Betawi maka Betawi akan menjadi tamu di rumahnya sendiri.”

Sementara itu, budayawan Betawi Yahya Andi Saputra menilai buku Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung sebagai karya yang berhasil mengungkap proses kreatif lahirnya sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Yahya bahkan memberi apresiasi sangat tinggi terhadap buku karya Harry Tjahjono tersebut. Ia mengaku telah membacanya lebih dari empat kali dan setiap kali membacanya selalu menemukan hal baru yang menarik untuk dipahami dan dipelajari.

Menurut Yahya, kekuatan buku tersebut antara lain terletak pada tuturan tentang kampung dan rumah keluarga Betawi yang diselimuti kesederhanaan, dibalut cinta dan penghormatan. Cinta orang-orang kampung digambarkan apa adanya, tulus, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, Yahya juga melihat bahwa isi buku tidak sepenuhnya sama dengan objek sinetronnya. Menurutnya, masih terdapat banyak ruang dan bagian dalam Si Doel Anak Sekolahan yang belum dieksplorasi secara lebih jauh oleh Harry Tjahjono.

Pandangan Yahya tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa Si Doel dapat dibaca lebih luas sebagai rekaman kehidupan dan kebudayaan Betawi, bukan semata-mata sebagai tontonan televisi. Kesederhanaan kampung, hubungan keluarga, cinta, serta penghormatan kepada sesama menjadi bagian dari nilai yang membuat kisah Si Doel tetap memiliki daya hidup. Dalam konteks itu, buku Harry tidak hanya membuka kembali proses kreatif sebuah karya populer, tetapi juga memberi ruang untuk membaca kembali manusia, kebudayaan, dan nilai-nilai yang hidup di balik cerita tersebut.

Dalam makalahnya yang berjudul “Filosofi Orang Kampung – Kisah Tentang Si Doel Anak Sekolahan”, Fanny Jonathan Poyk membedah buku tersebut terutama dari sudut pandang sosial-budaya, khususnya kehidupan masyarakat marginal, kegelisahan kelas bawah, serta perubahan masyarakat Betawi di tengah modernisasi Jakarta. Menurut Fanny, Si Doel Anak Sekolahan bukan hanya kisah keluarga Betawi, tetapi juga merefleksikan kehidupan masyarakat kecil yang menghadapi tekanan ekonomi, perubahan sosial, dan ancaman tersisih oleh perkembangan kota metropolitan.

Fanny juga melihat kekuatan buku Harry pada perpaduan imajinasi, pengalaman jurnalistik, riset lapangan, dan kedekatan dengan kehidupan masyarakat marginal. Karena itu, kehidupan kampung, dialog, anekdot, serta budaya Betawi dalam Si Doel terasa manusiawi dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari perspektif tersebut, Filosofi Orang Kampung tidak sekadar mengajak pembaca bernostalgia terhadap serial televisi, tetapi juga melihat kembali nilai kemanusiaan dan persoalan masyarakat kecil yang tetap relevan hingga sekarang.

Fanny mengaitkan pembacaan terhadap Si Doel dengan teori absurditas Albert Camus, yakni situasi ketika manusia berhadapan dengan kehidupan yang penuh keterbatasan, tekanan, dan persoalan yang tidak selalu memiliki jawaban mudah. Dalam konteks itu, kehidupan masyarakat kecil yang digambarkan Harry tidak berhenti pada penderitaan, tetapi memperlihatkan bagaimana manusia terus mencari makna, bertahan, dan menentukan pilihan di tengah keadaan yang serba terbatas.

Harry sendiri menegaskan bahwa buku tersebut bukan semata-mata catatan mengenai proses pembuatan serial televisi.

“Buku ini bukan tentang proses pembuatan sebuah serial televisi. Ini adalah catatan perjalanan tentang persahabatan, tentang Jakarta, tentang kampung, tentang rakyat kecil, dan tentang nilai-nilai kehidupan yang saya percaya tetap relevan.”

Dalam pengantarnya, Rano Karno juga menyebut buku tersebut bukan hanya mengenai proses lahirnya sebuah serial televisi, melainkan tentang nilai-nilai yang menjadi jiwa Si Doel: kesederhanaan, penghormatan kepada orang tua, persahabatan, kepedulian terhadap rakyat kecil, serta keyakinan bahwa kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan kemanusiaan.

Selesai menyampaikan sambutannya, wakil gubernur Rano Karno pamit dan meminta maaf kepada seluruh hadirin dan tamu undangan karna harus meninggalkan tempat acara dikarenakan ada agenda kerja lain.

Menutup diskusi, moderator Kurniawan Djunaedhie menempatkan pembicaraan tentang Si Doel dalam konteks yang lebih luas, bahwa pelestarian kebudayaan Betawi selayaknya menjadi perhatian bersama. Di tengah perubahan Jakarta yang terus bergerak, kebudayaan Betawi tidak cukup hanya dikenang melalui karya seni dan tontonan, tetapi perlu terus dirawat, dikembangkan, dan ditempatkan sebagai bagian penting dari identitas serta kehidupan kebudayaan Jakarta.

Peluncuran Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung, di mana acara dipandu oleh Nuyang Jaimee sebagai Master of Ceremony menjadi momentum untuk kembali melihat Si Doel bukan hanya sebagai serial televisi yang pernah populer, tetapi sebagai karya yang merekam kehidupan masyarakat, budaya Betawi, perubahan Jakarta, serta nilai-nilai kemanusiaan yang masih relevan hingga kini. [PM]

 

 

Kategori:
Tags:

Terkini