Membaca Puisi Kol Purn dr Farhaan Abd Sp THT KL
Oleh: Rizal Tanjung
–
Baca juga: "NEGARA BUKAN PANGGUNG"
Ada sesuatu yang menarik dalam puisi “Kasmaran” karya Kol Purn dr Farhaan Abd Sp THT KL: seorang lelaki yang dibentuk oleh dunia militer—dunia disiplin, ketegasan, tanggung jawab, dan pengendalian diri—justru memperlihatkan sisi dirinya yang paling lembut ketika berhadapan dengan cinta.
Puisi ini bukan sekadar ungkapan kerinduan seorang lelaki kepada kekasihnya. Ia adalah potret psikologis tentang bagaimana cinta mampu melucuti ego seseorang yang sepanjang hidup terbiasa berdiri tegak dan mengendalikan keadaan.
Seorang militer terbiasa dengan komando. Ada perintah, ada kepatuhan, ada ketepatan waktu. Tetapi cinta tidak mengenal komando. Ia datang tanpa aba-aba dan mengambil tempat di wilayah batin yang tidak dapat diperintah.
Baca juga: SUKA-SUKA KAU LAH
Di situlah daya tarik utama puisi ini.
Cinta dan Runtuhnya Ego
Pada bagian awal, penyair mengakui:
«“Kutepiskan ego yang dahulu kukibarkan
setinggi langit seorang lelaki.”»
Pengakuan ini menjadi pintu masuk untuk memahami keseluruhan puisi. Ego digambarkan sebagai sesuatu yang dahulu kokoh, bahkan mungkin menjadi bagian dari identitas seorang lelaki yang terbiasa memimpin dan mengambil keputusan.
Namun cinta mengubah semuanya.
“Kesombongan pun belajar berlutut / di kaki kesetiaan.”
Metafora tersebut memperlihatkan bahwa mencintai bukan berarti kehilangan harga diri, melainkan keberanian untuk menundukkan ego. Seorang lelaki yang kuat bukanlah lelaki yang tidak pernah lunak, tetapi lelaki yang tahu kapan harus meletakkan kekerasannya.
Dari Batu Menjadi Cair
Metafora “batu” menjadi salah satu kekuatan puitik yang menarik:
«“Dahulu egoku adalah batu,
keras dan dingin di dasar jiwa.”»
Batu melambangkan keteguhan sekaligus kekakuan. Tetapi cinta membuat batu itu mencair.
Di sinilah puisi menghadirkan paradoks: semakin kuat seseorang dibentuk oleh kehidupan, semakin mengejutkan ketika ia menemukan seseorang yang mampu membuat pertahanannya runtuh—bukan melalui kekerasan, melainkan melalui kasih sayang.
Cinta ternyata bukan musuh bagi ketegasan. Ia adalah ruang tempat ketegasan menemukan kelembutannya.
Seorang Kolonel yang Tidak Lagi Mampu Mengomandoi Hatinya
Ada ironi yang sangat manusiawi dalam puisi ini. Seorang kolonel mungkin mampu memberi perintah kepada pasukan, tetapi tidak mampu memerintahkan hatinya untuk berhenti merindukan seseorang.
Ia dapat mengatur langkah, tetapi tidak dapat mengatur ke mana pikirannya pergi.
Ia dapat mengendalikan keadaan, tetapi tidak dapat mengendalikan debar ketika nama kekasih muncul dalam ingatan.
Karena itu, ketika penyair berkata:
«“Hati yang dulu kukunci
kini kuberikan seluruh kuncinya kepadamu,”»
terjadi sebuah penyerahan yang sangat dalam. Benteng terakhir seorang lelaki bukanlah pangkatnya, melainkan hatinya. Dan ketika kunci itu diberikan kepada seseorang, berarti kepercayaan telah mencapai titik paling tinggi.
Kasmaran pada Usia Matang
Yang juga menarik ialah usia dan pengalaman sang penyair. Ia bukan seorang pemuda yang baru mengenal cinta. Ia adalah seorang purnawirawan yang telah melewati perjalanan panjang kehidupan.
Namun cinta membuktikan bahwa hati tidak mempunyai usia pensiun.
Seragam boleh dilepas.
Pangkat boleh menjadi kenangan.
Jabatan boleh berakhir.
Tetapi kemampuan mencintai tidak pernah mengenal masa purnatugas.
Bahkan dalam usia matang, seseorang masih dapat merasakan kegembiraan yang sederhana. Penyair menggambarkannya seperti seorang anak kecil yang bersorak melihat layang-layangnya menembus langit.
Metafora layang-layang itu sangat indah: cinta membuat seseorang terbang tinggi, tetapi sekaligus membuatnya rentan jatuh. Kebahagiaan dan kecemasan menjadi dua sisi dari perasaan yang sama.
Rindu, Jarak, dan Kecemasan
Puisi ini juga kuat ketika menggambarkan rindu sebagai kegelisahan.
Pertanyaan tentang di kota mana sang kekasih berada dan kepada siapa senyumnya diberikan menunjukkan bahwa cinta tidak hanya melahirkan kebahagiaan, tetapi juga kerentanan.
Semakin seseorang berarti, semakin besar pula rasa takut kehilangan.
Namun kecemasan dalam puisi ini tidak berubah menjadi keinginan untuk menguasai. Penyair memilih doa sebagai cara menjaga:
«“selain menitipkan namamu kepada doa.”»
Ini menunjukkan bentuk cinta yang lebih dewasa: mencintai tanpa harus memiliki seluruh waktu seseorang.
Ia hanya meminta “sepotong senja”, “setetes perhatian”, dan sedikit waktu dari kehidupan kekasihnya.
Permintaan itu sederhana, tetapi justru di sanalah letak kedalaman emosinya.
Menunggu sebagai Kesetiaan
Metafora pelabuhan dan kapal menjadi penutup yang kuat:
«“Aku akan tetap menunggu, sayang,
seperti pelabuhan menanti kapal
yang pernah berjanji kembali.”»
Pelabuhan tidak mengejar kapal. Ia tetap tinggal, menjaga cahaya, menunggu laut mengembalikan apa yang pernah pergi.
Begitulah cinta dalam puisi ini.
Ia tidak digambarkan sebagai penaklukan, melainkan sebagai kesetiaan.
Tidak sebagai kepemilikan, melainkan sebagai penantian.
Tidak sebagai kekuasaan, melainkan sebagai kepercayaan.
Pada akhirnya, “Kasmaran” adalah puisi tentang seorang lelaki yang telah lama mengenal ketegasan, tetapi kemudian menemukan bahwa ada satu wilayah yang tidak dapat ditaklukkan dengan kekuasaan: hati sendiri.
Di hadapan dunia, ia mungkin tetap seorang kolonel purnawirawan.
Tetapi di hadapan cinta, ia hanyalah seorang lelaki yang rindu.
Seorang lelaki yang menunggu.
Seorang lelaki yang cemas.
Seorang lelaki yang berdoa.
Dan justru di dalam kerentanan itulah kekuatannya sebagai manusia terlihat.
Puisi ini seakan ingin mengatakan bahwa pangkat dapat pensiun, seragam dapat disimpan, jabatan dapat berakhir, tetapi hati tidak pernah mengenal surat keputusan untuk berhenti mencintai.
Selama seseorang masih mampu merindu, masih mampu menunggu, masih mampu bahagia melihat orang yang dicintainya berhasil, maka sesungguhnya di dalam dirinya masih ada musim semi.
Dan mungkin itulah makna terdalam dari “Kasmaran”:
seorang lelaki boleh menua oleh waktu, tetapi tidak harus menjadi tua di dalam cinta.
—-
Sumatera Barat, Indonesia,2026.


