Senin, 31 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

OH, IBUKU

ilustrasi istimewa

Anto Narasoma| Penulis

IBUKU seorang wanita Sunda (Cianjur Jawa Barat), ketika menikah dengan ayahku ia adalah seorang wanita yang hadir ke Palembang dibawa uwaknya (nenekku).
————–

Baca juga: Reformasi: 28 Tahun Buka Praktik Demokrasi Zombie

Setelah menikah, ia mempunyai anak lima, saya anak laki-laki seorang pada posisi anak kedua.

Disaat saya berumur sembilan tahun, ayahku meninggal dunia. Adik bungsuku perempuan, saat itu masih berusia empat bulan.

Ditinggalkan ayah tanpa harta, posisi ibuku berada dalam kondisi paling sulit. Karena kami saat itu tak ada famili di Palembang dan beliau dibebani lima anak. Ya Allah, alangkah beratnya beban yang dialami ibuku …

Baca juga: UNP Perkuat Kapasitas Pokdarwis Alahan Panjang melalui Pelatihan English for Tour Guiding

Yang membuat saya begitu mengasihinya, ia tetap berusaha sekuat tenaga agar anaknya tidak mati kelaparan.

Sebagai ibu, kasih sayangnya ke pada kami ibarat air jernih dan sejuk, merasuk dan menghilangkan dahaga dalam cuaca panas dan sumpek

Meski dalam keadaan susah, kami sangat bahagia. Karena kerja kerasnya untuk menghidupi anak-anaknya luar biasa sekali.

Untuk menanggulangi kesulitan ekonomi, ibu berjualan kantong (dari kertas semen) untuk pedagang beras, gula, dan bungkus makanan lainnya.

Meski setiap hari ibu hanya mampu sekali sehari memberi nafkah, aku sangat bangga memiliki ibu yang berhati mulia.

Karena saya merasa anak laki-lali seorang
di antara anak-anaknya, saya mencoba berusaha sekuatnya untuk membantu ibu.

Saya berjualan roti goreng, roti panggang, dan pempek. Hasilnya saya berikan ke ibu. Ketika saya tamat SMP, saya tidak langsung melanjutkan ke SMA.

Karena saya sadar, untuk membantu ibu menyekolahkan adik-adik, saya tunda masuk ke sekolah lanjutan atas.

Saat itu saya juga ikut membantu untuk ikut menyekolahkan adik-adikku.

Tiga tahun setelah itu, saya baru melanjutkan pendidikan ke SMA. Ah, begitu pilu dan sedihnya keadaanku saat itu.

Tiap hari bangun pukul 2 pajar, langsung mengambil roti untuk dijual dari kampung ke kampung.

Allah SWT memang maha pengasih. Dalam pergulatan melawan kepedihan hidup,
saya berhasil lulus dengan nilai yang tak mengecewakan.

Saat itu saya bertekat untuk meneruskan pendidikan adik-adikku. Karena adik bungsuku membutuhkan pengasuh yang menyintainya.

Terpaksa kakak perempuanku berhenti sekolah. Ia rela untuk membantu meringankan kesulitan ibu.

Kami hidup di kampung yang dikelilingi orang-orang berada.
Di antaranya ada pengusaha kayu, pengusaha ritel, dan pejabat pemerintah. Namun mereka “tak peduli” dengan nasib buruk yang kami alami.

Bahkan ketika mereka makan dengan lauk-pauk yang harus menguras kantong, saat itu pula kami harus mengikat perut karena lapar.

Namun Alhamdulillah, karena pergaulan dan kerendahan hatiku,
saya diajak untuk membantu menyelesaikan cerita pendek Dr Herawan Muhadi. Kebetulan saya dinilainya sangat berbakat untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya sebagai penulis.

Apalagi sejak kelas III sekolah dasar saya sudah terbiasa menulis puisi dan cerita pendek. Menurut Mas Hermawan bahasa Indonesia dalam tulisanku sangat baik. Makanya ia memberdayakanku sebagai penulis.

Pada tahun ketiga setelah lulus SMA, saya berkesempatan kuliah di Universitas Sriwijaya Palembang. Saya kebetulan mengambil jurusan FKIP Bahasa Indonesia.

Saat melaksanakan kuliah, saya terus mendalami sastra, bahasa dan budaya. Meski demikian, saya juga sangat menyukai musik, bernyanyi, melukis, menari, membaca puisi dan bermain teater di panggung.

Alhamdulillah, dalam mendalami ilmu peran di teater, tiga kali (tahun 1983, 1984 dan 1986) saya memperoleh penghargaan sebagai pemain terbaik.

Dari Mas Herawan saya mendapat honor lumayan. Uang itu saya gunakan untuk melanjutkan pendidikan adik-adikku.

Setelah menikah tahun 1989, saya bekerja sebagai wartawan di surat kabar Sumatera Ekspres (grup Jawa Pos).

Tiga kali saya ikut pendidikan kewartawanan di Jawa Pos Surabaya. Dua tahun bekerja sebagai wartawan, Alhamdulillah, saya bisa membangun rumah. Ah, ya Allah alangkah besarnya nikmat dan keberkahan yang Kau berikan kepadaku.

Saya mempunyai tiga anak. Dua laki-laki dan seorang perempuan. Dua anakku sudah sarjana, dan yang terakhir wanita, bulan April 2020 nanti akan diwisuda di Unsri Palembang.

Ketika makan bersama istri, saya teringat makan bersama-sama saudaraku. Saat itu ibuku hanya mampu menyewa sepetak ruang di bawah kolong rumah kayu orang Palembang.

Ketika makan selepas Isya, dari atas menetes air kencing anak si empunya rumah. Kebetulan air kemih tersebut menetes dan masuk ke piring saya. Karena tak ada lagi nasi, saya terpaksa harus manahan lapar.

Ah, nasib memang mengajarkan aku untuk menjadi penyabar. Hingga saat ini kegetiran hidup yang kami alami itu menjadi pengajaran yang paling bijak dalam kehidupan kami sehari-hari.

Saya tak pernah lupa untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Meski tidak banyak, namun nilai-nilai kebaikan dan kebajikan itu menjadikan saya harus memberikan pertolongan ke pada orang yang membutuhkannya.

Mendiang ibuku pernah mengatakan, jika kau memiliki uang, hal paling gampang dilakukan adalah dapat memberikan pertolongan ke pada orang miskin. Karena kita mengantongi uang. Tapi apakah bisa, ketika kau tak punya sesuatu, kau bisa menolong orang?

Wah, apa yang dikemukakan ibuku sangat hebat. Ia mengajarkan aku untuk selalu berbuat baik. Hal itu pernah ia contohkan, ketika kami sedang dalam keadaan miskin. Saat kami makan malam, ada anak tetangga yang juga kelaparan.

Apa yang ibu lakukan? Beliau mengambil nasi di piring kami sedikit-sedikit. Akhirnya nasi itu terkumpul sepiring penuh. Akhirnya anak tetangga yang kelaparan tersebut, ikut makan bersama kami.

Begitu luhurnya jiwa ibuku. Hingga kami dewasa dan berkeluarga, ibuku tidak menikah lagi. (anto narasoma)

Kategori:
Tags:

Terkini