Minggu, 04 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

RD Ponsianus Ongirwalu: Kebun yang Harus Berbuah

​Oleh: Johanis Kopong

​

​RD Ponsianus Ongirwalu: Iman Harus Menghasilkan Buah, Allah Menghendaki Buah Kebaikan

Baca juga: REMBULAN MENEMPEL DI KACA DINDING DAPUR

Saumlaki | suaraanaknegeri.com – Minggu, 4 Oktober 2026. Bacaan Minggu Biasa XXVII mengajak umat beriman merenungkan sebuah metafora yang kuat dan relevan bagi kehidupan iman, yakni kebun anggur.

​Melalui bacaan Kitab Yesaya 5:1-7, Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi 4:6-9, serta Injil Matius 21:33-43, umat diajak melihat kembali sejauh mana kehidupan yang telah menerima begitu banyak rahmat dari Allah mampu menghasilkan buah-buah yang berkenan kepada-Nya.

​Dalam refleksi tersebut, RD Ponsianus Ongirwalu mengajak umat memandang kehidupan sebagai sebuah kebun yang dipercayakan Allah untuk dirawat dan menghasilkan buah.

Baca juga: RD Ponsianus Ongirwalu Berbagi Kasih untuk 25 Anak Hebat

​Allah telah memberikan berbagai rahmat, kesempatan dan tanggung jawab kepada manusia. Karena itu, kehidupan iman tidak cukup hanya diwujudkan melalui rutinitas keagamaan, tetapi harus tampak dalam perbuatan nyata.

​Kebaikan Allah dan Tuntutan Keadilan

Dalam Kitab Yesaya, Allah digambarkan sebagai pemilik kebun anggur yang penuh kasih. Ia mencangkul tanah, membuang batu-batunya, menanam pokok anggur pilihan dan membangun menara penjagaan.

​Semua dilakukan agar kebun tersebut menghasilkan anggur yang baik. Namun, ketika saat panen tiba, yang ditemukan justru anggur asam.

​Gambaran tersebut menjadi refleksi bagi kehidupan manusia. Allah telah memberikan banyak rahmat, antara lain kesehatan, keluarga, pekerjaan, kesempatan, serta bimbingan iman.

​Namun, pertanyaan pentingnya adalah apakah semua rahmat tersebut telah menghasilkan buah yang baik dalam kehidupan.

​Apakah manusia membalas kebaikan Allah melalui kehidupan yang menghadirkan keadilan, kebenaran, kasih dan kepedulian? Ataukah justru menghasilkan “buah asam” berupa keegoisan, ketidakpedulian, kemarahan, kesombongan dan iri hati?

​Karena itu, Allah tidak hanya mencari rutinitas ritual, tetapi juga menghendaki buah pertobatan yang nyata dalam kehidupan umat.

​Manusia Dipanggil Menjadi Penggarap yang Setia

Dalam Injil Matius 21:33-43, Yesus melanjutkan gambaran tentang kebun anggur melalui sebuah perumpamaan mengenai para penggarap.

​Para penggarap dipercaya mengelola kebun tersebut. Namun, ketika pemilik mengutus orang-orang untuk menerima hasil kebun, mereka justru bertindak serakah.

​Mereka merampas hak pemilik, menganiaya para utusan dan bahkan membunuh anak sang pemilik dengan harapan dapat menguasai warisan tersebut.

​Perumpamaan ini menjadi peringatan bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia sesungguhnya merupakan titipan dari Allah.

​Bakat, jabatan, keluarga, waktu, pekerjaan, kemampuan dan berbagai kesempatan dalam kehidupan bukanlah milik mutlak manusia.

​Manusia hanyalah penggarap yang dipercayakan untuk mengelolanya dengan penuh tanggung jawab.

​“Kita hanyalah penggarap,” menjadi salah satu inti permenungan yang disampaikan dalam refleksi tersebut.

​Karena itu, ketika manusia menjadi serakah, menolak kehendak Allah dan hanya mengejar kepentingan diri sendiri, manusia dapat kehilangan kesadaran bahwa dirinya hanyalah pengelola atas apa yang dipercayakan Tuhan.

​Buah Kehidupan yang Berkenan kepada Allah

Kerajaan Allah, sebagaimana ditegaskan dalam perumpamaan tersebut, diberikan kepada mereka yang mau bekerja sama dengan kehendak Allah dan menghasilkan buah sesuai dengan panggilan hidupnya.

​Buah yang dimaksud bukan semata-mata keberhasilan material, tetapi buah kehidupan yang dapat dirasakan oleh sesama.

​Kasih, keadilan, kebenaran, kesabaran, kemurahan hati, kepedulian, pengampunan dan pelayanan merupakan bagian dari buah kehidupan yang diharapkan tumbuh dari iman.

​Dengan demikian, iman tidak berhenti pada pengakuan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan.

​Rasul Paulus: Jangan Khawatir, tetapi Berdoalah

Dalam Surat kepada jemaat di Filipi 4:6-9, Rasul Paulus memberikan jalan praktis bagi umat agar dapat menjalani kehidupan dengan hati yang lebih tenang.

​Paulus mengingatkan agar manusia tidak dikuasai oleh kekhawatiran. Sebaliknya, segala persoalan hendaknya disampaikan kepada Allah melalui doa dan ucapan syukur.

​Doa menjadi jalan untuk menyerahkan berbagai pergumulan kepada Tuhan sekaligus memelihara hati dan pikiran dalam damai sejahtera-Nya.

​Kehidupan yang penuh kekhawatiran dan kecemasan dapat membuat manusia kehilangan ketenangan dalam mengambil keputusan.

​Karena itu, umat diajak untuk terus membangun relasi dengan Allah melalui doa.

​Apa yang Dipikirkan Akan Memengaruhi Perbuatan

Rasul Paulus juga memberikan perhatian pada apa yang memenuhi pikiran dan hati manusia.

​Umat diajak untuk memikirkan hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, manis dan sedap didengar.

​Nasihat tersebut mengandung pesan bahwa apa yang ditanam dalam pikiran dan hati dapat memengaruhi perkataan serta tindakan seseorang.

​Jika hati dipenuhi kebencian, iri hati dan kemarahan, buah yang muncul dalam kehidupan juga dapat menjadi buruk.

​Sebaliknya, apabila hati dipenuhi kasih, kebenaran, pengampunan dan damai, maka kehidupan akan lebih mudah menghasilkan buah yang baik bagi sesama.

​Pemeriksaan Batin: Buah Apa yang Dihasilkan?

Refleksi Minggu Biasa XXVII juga mengajak umat melakukan pemeriksaan batin.

​Pertanyaan sederhana namun mendalam dapat diajukan kepada diri sendiri:

​Jika Tuhan “memanen” kehidupan saya hari ini, buah apakah yang akan ditemukan-Nya?

​Apakah buah kasih, kesabaran, kemurahan hati dan kepedulian?

​Ataukah justru buah kemarahan, kesombongan, iri hati, keegoisan dan ketidakpedulian?

​Pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi orang lain, tetapi menjadi kesempatan untuk melihat diri sendiri secara jujur di hadapan Tuhan.

​Menjadi Penggarap yang Setia

Umat juga diajak menyadari bahwa apa yang dimiliki merupakan titipan Tuhan.

​Karena itu, setiap karunia yang diberikan hendaknya digunakan untuk melayani sesama dan memuliakan nama-Nya.

​Jabatan, kemampuan, harta benda, pekerjaan dan berbagai kesempatan tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggikan diri atau menguasai orang lain.

​Sebaliknya, semuanya dapat menjadi sarana untuk menghadirkan kebaikan.

​Menjadi penggarap yang setia berarti mampu menjaga, mengembangkan dan menggunakan apa yang dipercayakan Tuhan dengan penuh tanggung jawab.

​Menjaga Hati dan Pikiran

Dalam kehidupan sehari-hari, umat diajak mempraktikkan nasihat Rasul Paulus dengan mengurangi kekhawatiran melalui doa dan ucapan syukur.

​Selain itu, umat perlu menjaga tutur kata, pikiran dan tindakan agar tidak menjadi sumber keresahan bagi orang lain.

​Setiap orang dipanggil untuk menghadirkan kata-kata yang membangun, tindakan yang membawa damai serta sikap yang mencerminkan kasih Kristiani.

​Dengan demikian, buah iman tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga oleh keluarga, komunitas, Gereja dan masyarakat.

​Kebun Anggur yang Harus Berbuah

Minggu Biasa XXVII menjadi momentum bagi umat untuk kembali melihat kehidupan masing-masing.

​Allah telah memberikan rahmat dan kesempatan. Karena itu, setiap orang dipanggil untuk tidak menyia-nyiakan apa yang telah dipercayakan kepadanya.

​Kehidupan adalah anugerah, tetapi sekaligus tanggung jawab.

​Manusia dipanggil menjadi kebun anggur yang subur dan penggarap yang setia. Buah yang dihasilkan hendaknya bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain.

​Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah seberapa banyak yang telah kita terima, melainkan seberapa banyak buah kebaikan yang telah kita hasilkan dari apa yang Tuhan percayakan kepada kita.

​Semoga pada Minggu Biasa XXVII ini, umat semakin diperbarui untuk menjadi kebun anggur Tuhan yang subur dan senantiasa menghasilkan buah-buah kebaikan bagi sesama.

​Amin. ​Ratu Norkit Monuk Dedesar. Ubilaa Naflahar Ita Didtinemun. Kidabela. ​SALVE…

​(Sumber: RD Ponsianus Ongirwalu, Vikaris Episkopal Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan juga sebagai Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar)

Kategori:
Tags:

Terkini