Oleh: johanis kopong
Kekudusan dalam Kesederhanaan: Pesan Pastoral RD Ponsianus Ongirwalu untuk Umat Katolik Tanimbar
Baca juga: PANGGUNG DOA: SMMU DAN SES GELAR DOA BERSAMA UNTUK LIMA JURNALIS YANG HILANG DI LAUT SELAT SUNDA
Saumlaki | suaraanaknegeri.com – Kamis, 1 Oktober 2026. Awal Oktober kembali menjadi ruang bagi umat Katolik di Kepulauan Tanimbar untuk berhenti sejenak dari kesibukan, menata kembali hati, dan memandang perjalanan hidup dalam terang iman.
Di tengah kehidupan keluarga, lingkungan, pekerjaan, serta berbagai persoalan yang dihadapi setiap hari, umat diajak menyadari bahwa jalan menuju kekudusan tidak selalu hadir melalui sesuatu yang besar. Justru melalui hal-hal kecil yang dilakukan dengan ketulusan, iman dapat tumbuh dan berbuah dalam kehidupan.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari refleksi RD Ponsianus Ongirwalu, Vikaris Episkopal Kabupaten Kepulauan Tanimbar sekaligus Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, pada Kamis (1/10/2026).
Refleksi yang mengambil tema “Hati yang Sederhana: Jalan Menuju Kekudusan” itu berangkat dari Bacaan Injil Matius 18:1–5 serta empat momentum rohani yang berkelindan pada awal bulan ini.
Ketika Oktober Dimulai dengan Doa
Bagi umat Katolik, Oktober bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender. Bulan ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali devosi kepada Bunda Maria melalui doa Rosario sekaligus menyadari kembali panggilan misioner setiap orang beriman.
Pada 1 Oktober, Gereja juga memperingati Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus (Santa Theresia dari Lisieux). Santa Theresia dikenal melalui spiritualitas “Jalan Kecil” (The Little Way). Jalan tersebut mengajarkan bahwa kekudusan tidak harus diwujudkan melalui tindakan spektakuler yang mengguncang dunia. Kesetiaan melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar kepada Allah dan sesama justru menjadi jalan yang sederhana, tetapi mendalam.
Pesan itu terasa dekat dengan kehidupan umat di Tanah Tanimbar. Dalam keseharian, iman tidak hanya diwujudkan melalui perayaan besar di gereja, tetapi juga melalui cara seseorang memperlakukan anggota keluarga, tetangga, sesama umat, dan masyarakat di sekitarnya.
Hati Sederhana, Bukan Kehidupan Tanpa Persoalan
Kesederhanaan yang dimaksud bukan berarti kehidupan tanpa persoalan. Setiap keluarga dapat menghadapi pergumulan masing-masing, mulai dari persoalan ekonomi, keluarga, pekerjaan, hubungan antarsesama, hingga berbagai kecemasan yang terkadang tidak mudah diceritakan kepada orang lain.
Karena itu, refleksi pada awal Oktober ini juga berkaitan erat dengan Novena Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah, yang pada 1 Oktober memasuki hari kedua di Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat. Berbagai persoalan kehidupan itu digambarkan seperti simpul yang terkadang terasa sulit diurai. Namun, umat diajak tidak menyerahkan diri kepada kecemasan.
Setiap “simpul” kehidupan justru dapat dibawa dalam doa dengan hati yang pasrah dan penuh kepercayaan kepada Kristus melalui perantaraan Bunda Maria.
Pesan Yesus Melalui Seorang Anak Kecil
Refleksi tersebut kemudian menemukan titik sentralnya dalam Injil Matius 18:1–5. Ketika para murid bertanya kepada Yesus tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga, Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka.
Yesus kemudian berkata: “Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.”
Gambaran seorang anak kecil menjadi penting dalam refleksi tersebut. Anak kecil identik dengan kesederhanaan, kepolosan, dan ketergantungan kepada orang tua. Dalam kehidupan iman, sikap itu mengingatkan manusia untuk tidak hanya mengandalkan kemampuan, kedudukan, ataupun kekuatannya sendiri. Ada saat ketika manusia harus berani mengakui keterbatasannya dan menyerahkan hidup kepada kehendak Allah. Di situlah hati yang sederhana menjadi penting.
Dari Keluarga, Iman Bertumbuh
Pesan pastoral itu kemudian diarahkan kepada kehidupan keluarga dan komunitas umat. Doa Rosario, misalnya, tidak hanya dilihat sebagai praktik devosi pribadi. Bulan Rosario menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali kebersamaan keluarga dan lingkungan Komunitas Umat Basis (KUB).
Ketika keluarga berkumpul untuk berdoa, sesungguhnya terdapat ruang untuk kembali membangun komunikasi, saling menguatkan, serta membawa berbagai pergumulan keluarga ke dalam doa. Doa yang sederhana, jika dilakukan dengan ketulusan, dapat menjadi bagian dari perjalanan iman yang panjang.
Karena itu, umat diajak menjadikan Oktober sebagai momentum untuk kembali membangun kebiasaan doa di tengah keluarga dan komunitas.
Misi Dimulai dari Tempat Kita Berada
Selain Bulan Rosario, Oktober juga dikenal sebagai Bulan Misi. Dalam refleksi RD Ponsianus, semangat misi tidak harus selalu dipahami sebagai keberangkatan menuju tempat yang jauh. Misi dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
Menolong tetangga yang mengalami kesulitan, peduli terhadap sesama, menjaga persaudaraan, mengampuni, serta menghadirkan sikap rendah hati merupakan bagian dari kesaksian iman. Dengan demikian, seorang misionaris tidak selalu harus berada di tempat yang jauh. Ia dapat menjalankan perutusan itu di rumah, lingkungan, tempat kerja, komunitas umat, dan tengah masyarakat.
Santa Theresia sendiri menjadi teladan bahwa doa dan penyerahan diri yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi bagian dari karya misi Gereja.
Jangan Menunggu Melakukan Kebaikan
Pesan berikutnya adalah ajakan untuk menjalani “Jalan Kecil”. Umat tidak perlu menunggu memiliki kesempatan besar untuk melakukan sesuatu yang berarti. Kebaikan dapat dimulai dari rumah.
Senyuman, kesediaan melayani, pengampunan dalam keluarga, kepedulian kepada orang lain, serta tutur kata yang menyejukkan merupakan tindakan sederhana yang dapat menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks kehidupan masyarakat Tanimbar yang menjunjung tinggi persaudaraan dan kebersamaan, nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan bersama.
Membawa Simpul Persoalan dalam Doa
Memasuki hari kedua Novena Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah, umat juga diajak tidak membiarkan persoalan hidup mengambil seluruh ruang dalam hati. Kecemasan memang dapat hadir dalam kehidupan manusia, namun kecemasan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harapan.
Setiap persoalan dapat dibawa kepada Tuhan. Dalam kesederhanaan seperti seorang anak kecil, manusia diajak belajar percaya bahwa hidupnya tetap berada dalam penyelenggaraan Allah. Bunda Maria menjadi sosok yang mengajak umat membawa setiap “simpul” kehidupan kepada Kristus.
Sebuah Ajakan untuk Memasuki Oktober
Pada akhirnya, pesan awal Oktober yang disampaikan RD Ponsianus bukan hanya berbicara tentang rangkaian kegiatan rohani. Lebih dari itu, umat diajak menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai tempat untuk bertumbuh dalam kekudusan.
Keluarga menjadi tempat pertama untuk belajar mengasihi, lingkungan menjadi ruang untuk membangun persaudaraan, dan masyarakat menjadi tempat untuk memberikan kesaksian melalui kepedulian dan pelayanan. Semuanya dapat dimulai dari hati yang sederhana.
“Mari kita melangkah memasuki bulan Oktober ini dengan hati yang murni, sederhana, dan penuh rasa syukur,” pesan RD Ponsianus.
Ia berharap keteladanan Santa Theresia dan perlindungan Bunda Maria senantiasa menyertai setiap langkah peziarahan iman umat di Kepulauan Tanimbar. Awal Oktober pun menjadi sebuah ajakan untuk kembali melihat kehidupan bukan hanya dari besarnya persoalan yang dihadapi, tetapi juga dari kecilnya kebaikan yang masih dapat dilakukan setiap hari. Sebab, dalam kesederhanaan itulah, perjalanan menuju kekudusan dapat terus dimulai.
Tuhan memberkati. RATU NORKIT MONUK DEDESAR. UBU NORANG ITA DIDTINEMUN. KIDABELA. SALVE…
(Sumber: RD Ponsianus Ongirwalu, Vikaris Episkopal Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar)


