Minggu, 25 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Dari Alfabet ke Algoritma: Manusia dalam Tata Bahasa Mesin

Oleh Heri Isnaini

–

BANDUNG, SUARA ANAK NEGERI| Suatu hari, saya memandangi papan ketik laptop lebih lama dari biasanya. Jari-jari saya bergerak di antara huruf-huruf yang seolah tersusun tanpa pola: Q-W-E-R-T-Y. Saya mengetik tanpa berpikir, seakan-akan posisi setiap huruf telah menjadi bagian dari ingatan tubuh. Namun, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan sederhana: mengapa manusia menerima susunan huruf yang tidak alfabetis ini? Mengapa bukan A-B-C-D, urutan yang sejak kecil kita kenal sebagai lambang keteraturan?

Baca juga: Merajut Kasih, Seni, dan Pengabdian: Menyelami Perjalanan Hidup Mas Dwikaton Singoyudo di Usia ke-83

Pertanyaan itu membawa saya pada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar tata letak papan ketik. Ia mengantar saya pada hubungan antara manusia, bahasa, dan teknologi; tentang bagaimana sesuatu yang diciptakan manusia perlahan-lahan justru membentuk kebiasaan penciptanya sendiri.

Sejak kecil, kita belajar mengenali alfabet sebagai susunan yang teratur. A mendahului B, B mendahului C, dan seterusnya. Urutan itu menjadi dasar bagi banyak hal: mengeja, membaca kamus, menyusun daftar, hingga mengenali dunia melalui bahasa. Alfabet menghadirkan kesan bahwa segala sesuatu dapat ditata, diberi tempat, dan dipahami melalui urutan. Ada semacam ketenteraman dalam keteraturan tersebut, seolah-olah dunia bisa dikenali sedikit demi sedikit, huruf demi huruf.

Akan tetapi, keteraturan alfabetis tidak selalu menjadi prinsip utama dalam teknologi. Ketika mesin tik berkembang, kebutuhan mekanis ikut menentukan cara huruf ditempatkan. Tata letak QWERTY yang kemudian dikenal luas berkaitan dengan sejarah desain mesin tik dan upaya mengatasi persoalan teknis dalam mekanisme pengetikan. Jadi, susunan huruf pada papan ketik bukanlah hasil dari pertimbangan alfabetis semata. Ia merupakan jejak kompromi antara bahasa dan mesin, antara kebiasaan manusia dan tuntutan teknologi.

Baca juga: SENJA DI PANTAI UTARA PACIRAN

Di situlah saya mulai melihat QWERTY sebagai sesuatu yang menarik. Huruf-huruf tidak lagi ditempatkan berdasarkan urutan yang kita pelajari sejak kecil, tetapi berdasarkan rancangan yang lahir dari kebutuhan teknis. Susunan itu kemudian diwariskan dari mesin tik ke komputer, lalu ke laptop dan telepon pintar. Teknologi berubah, perangkat berganti, tetapi susunan huruf tersebut tetap bertahan.

Manusia pun menyesuaikan diri. Kita menghafal posisi huruf, melatih jari, dan membangun kebiasaan mengetik tanpa harus memikirkan letak setiap karakter. Lama-kelamaan, QWERTY tidak lagi terasa asing. Kita menerimanya sebagai sesuatu yang alamiah, padahal ia merupakan hasil sejarah dan pilihan desain manusia.

Barangkali di sinilah teknologi memperlihatkan kekuatannya yang paling halus. Ia tidak selalu mengubah manusia melalui paksaan atau larangan. Kadang-kadang, ia bekerja melalui pengulangan. Sesuatu yang mula-mula terasa janggal, ketika digunakan terus-menerus, berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu kemudian dianggap wajar, bahkan sulit dibayangkan memiliki alternatif.

Kita dapat menemukan gejala serupa dalam kehidupan sehari-hari. Jam kerja mengikuti sistem yang dibangun oleh organisasi dan mesin. Cara berkomunikasi menyesuaikan diri dengan karakter media sosial. Perhatian kita dipanggil oleh notifikasi, sementara apa yang kita baca sering kali ditentukan oleh algoritma. Tanpa disadari, manusia tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga belajar menjalani hidup berdasarkan ritme yang ditetapkan teknologi.

Dalam konteks ini, QWERTY menjadi metafora kecil tentang peradaban modern. ABCD melambangkan keteraturan yang kita pelajari dan warisi, sedangkan QWERTY mengingatkan kita bahwa keteraturan itu dapat berubah ketika manusia berhadapan dengan kebutuhan baru. Namun, perubahan tersebut menyimpan pertanyaan yang lebih mendasar: sampai sejauh mana manusia membentuk teknologi, dan sejak kapan teknologi mulai membentuk manusia?

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika kita memasuki zaman algoritma. Jika QWERTY mengatur posisi jari saat mengetik, algoritma secara perlahan mengatur posisi perhatian kita. Algoritma menentukan konten yang muncul di beranda, merekomendasikan video yang mungkin kita sukai, menyodorkan berita yang dianggap relevan, dan menyusun urutan informasi yang kita konsumsi setiap hari. Kita merasa sedang memilih apa yang ingin dibaca atau ditonton, tetapi pilihan tersebut sering kali telah didahului oleh sistem yang memilah apa yang layak muncul di hadapan kita.

Di sinilah tata bahasa mesin menemukan maknanya. Mesin tidak menggunakan tata bahasa sebagaimana manusia menyusun kalimat. Namun, sistem digital memiliki aturan, pola, dan logika yang mengatur bagaimana informasi diproses, disajikan, serta ditanggapi. Dalam ruang digital, manusia berhadapan dengan tata aturan yang tidak selalu terlihat, tetapi dapat memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Apa yang sering muncul terasa penting. Apa yang memperoleh banyak perhatian tampak layak dipercaya. Sementara itu, sesuatu yang tidak masuk ke dalam arus rekomendasi berisiko luput dari pandangan.

Algoritma, dengan demikian, bukan sekadar urusan teknis. Ia turut menjadi bagian dari pengalaman kebudayaan. Cara kita memahami popularitas, kebenaran, bahkan nilai sebuah karya dapat dipengaruhi oleh angka tayangan, jumlah tanda suka, komentar, dan tingkat keterlibatan pengguna. Tulisan yang mendalam belum tentu memperoleh perhatian besar, sedangkan pernyataan provokatif dapat menyebar luas sebab memancing reaksi. Ukuran keterlihatan perlahan-lahan berpotensi menggantikan pertimbangan tentang kualitas.

Dalam konteks bahasa dan sastra, perubahan ini menarik sekaligus mengkhawatirkan. Bahasa tidak pernah sepenuhnya terpisah dari kebudayaan yang menggunakannya. Cara manusia menulis, membaca, dan menyampaikan gagasan selalu berhubungan dengan perangkat yang tersedia pada zamannya. Kehadiran mesin cetak mengubah cara teks diproduksi dan disebarluaskan. Komputer membuat proses penyuntingan lebih mudah. Telepon pintar memungkinkan tulisan diproduksi dan dibagikan dalam hitungan detik.

Perubahan perangkat turut memengaruhi kebiasaan berbahasa. Kita terbiasa menulis pesan singkat, menggunakan singkatan, menyisipkan simbol, dan merespons sesuatu dengan cepat. Teks bergerak bersama kecepatan teknologi. Dalam media sosial, sebuah kalimat dapat menjadi viral sebelum sempat dipikirkan kembali oleh penulisnya. Kecepatan menjadi keunggulan sekaligus persoalan: kita semakin mudah berbicara, tetapi belum tentu semakin cermat dalam memilih kata.

Tentu saja, perubahan tersebut tidak dapat disederhanakan sebagai akibat langsung dari susunan QWERTY atau algoritma. Teknologi bukan satu-satunya faktor yang membentuk kebiasaan manusia. Pendidikan, lingkungan sosial, kepentingan ekonomi, dan kebudayaan juga memiliki peran penting. Namun, melalui papan ketik dan sistem rekomendasi digital, kita dapat melihat bagaimana desain teknis, kebiasaan tubuh, dan praktik kebahasaan saling memengaruhi.

Persoalannya bukan semata-mata apakah teknologi membawa kemajuan, melainkan bagaimana manusia menempatkan dirinya di tengah kemajuan itu. Kita tentu tidak perlu menolak mesin tik, komputer, media sosial, atau kecerdasan artifisial hanya sebab semuanya mengubah kebiasaan. Teknologi dapat memperluas akses terhadap pengetahuan, memudahkan pekerjaan, membuka ruang kreativitas, dan menghubungkan manusia yang terpisah oleh jarak. Akan tetapi, kemudahan tersebut perlu disertai kesadaran agar kita tidak menyerahkan seluruh keputusan kepada sistem yang bekerja di balik layar.

Ketika sebuah mesin menawarkan jawaban, kita tetap perlu bertanya tentang ketepatannya. Ketika algoritma menyajikan informasi, kita perlu memeriksa apa yang tidak ditampilkannya. Ketika kecerdasan artifisial membantu menulis, kita perlu memastikan bahwa gagasan, penilaian, dan tanggung jawab intelektual tidak sepenuhnya dialihkan kepada mesin. Teknologi dapat membantu manusia berpikir, tetapi tidak semestinya menjadi alasan bagi manusia untuk berhenti berpikir.

Meski demikian, manusia tidak sepenuhnya tunduk pada logika mesin. Ada sesuatu yang selalu melampaui fungsi mekanis sebuah perangkat. Dari papan ketik yang sama, orang dapat menulis laporan administratif, menyusun argumen ilmiah, mengirim surat cinta, merangkai doa, atau menciptakan puisi tentang kesepian. Tombol-tombol itu mungkin sama, tetapi makna yang lahir darinya tidak pernah seragam.

Di sinilah bahasa menunjukkan daya hidupnya. Mesin menyediakan kemungkinan, tetapi manusia tetap memberi arah dan makna. Teknologi dapat mempercepat penulisan, tetapi tidak dengan sendirinya menjamin kedalaman pikiran. Algoritma dapat membantu menyebarkan tulisan, tetapi tidak otomatis membuatnya bijaksana. Kecepatan mengetik tidak selalu sebanding dengan kecepatan memahami, apalagi dengan kemampuan merenungkan sesuatu secara mendalam.

Mungkin sebab itu, sesekali kita perlu berhenti di depan papan ketik dan mengingat bahwa setiap teknologi memiliki sejarah. Sesuatu yang hari ini terasa alamiah mungkin terbentuk dari keputusan-keputusan masa lalu. Sesuatu yang kita anggap sebagai kebiasaan pribadi mungkin sesungguhnya merupakan hasil dari sistem yang lebih besar. Kesadaran semacam ini penting agar kita tidak sekadar mengikuti teknologi, tetapi juga mampu mempertanyakan cara teknologi mengarahkan kehidupan kita.

Dari alfabet ke algoritma, perjalanan itu bukan semata-mata kisah tentang perubahan perangkat atau perkembangan sistem digital. Ia adalah kisah tentang manusia yang menciptakan alat, menyesuaikan diri dengannya, lalu mewariskan kebiasaan tersebut kepada generasi berikutnya. Kita belajar kepada mesin, bukan sebab mesin selalu lebih bijaksana, melainkan sebab kita terus hidup bersama perangkat yang kita ciptakan sendiri.

Namun, ada satu hal yang semestinya tidak kita serahkan sepenuhnya kepada mesin: kemampuan untuk berpikir, merasakan, dan memberi makna. Sebab, pada akhirnya, yang membuat sebuah tulisan berharga bukanlah susunan tombol yang digunakan untuk mengetiknya, bukan pula seberapa sering tulisan itu muncul dalam rekomendasi algoritma, melainkan kesadaran manusia yang bekerja di balik setiap kata.

Barangkali masa depan bukanlah pertarungan antara manusia dan mesin, melainkan ujian tentang bagaimana manusia tetap menjadi manusia di tengah sistem yang semakin cerdas. Kita boleh belajar dari mesin, memanfaatkan algoritma, dan berdamai dengan perubahan. Namun, kita perlu menjaga jarak kritis agar tidak kehilangan kebebasan untuk menentukan apa yang penting, apa yang benar, dan apa yang layak diperjuangkan.

Sebab, jika alfabet membantu kita menyusun kata dan algoritma membantu mesin menyusun informasi, tugas manusialah memastikan bahwa semua susunan itu tetap memiliki makna. Kita mungkin hidup dalam tata bahasa mesin, tetapi semestinya tidak membiarkan mesin menjadi satu-satunya penentu bahasa kehidupan kita.

 

Bandung, 24 Oktober 2026

 

 

 

Penulis:

Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: heriisnaini.heriisnaini@gmail.com 

Kategori:
Tags:

Terkini