BIAK, PAPUA – SUARA ANAK NEGERI | Kabupaten Waropen menorehkan sejarah baru dalam penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II tingkat Provinsi Papua. Untuk pertama kalinya, daerah tersebut berhasil meraih predikat Gold Champion pada mata lomba Bertutur Kitab Suci melalui penampilan Fredonald Yohanes Siwit, Jumat (30/10/2026).
Fredonald tampil mengesankan dengan membawakan kisah Yesus Memberi Makan 5.000 Orang. Penampilannya memperoleh nilai 92,2 sekaligus mengantarkannya menduduki posisi tertinggi dalam kompetisi yang diikuti enam peserta perwakilan kabupaten dan kota di Provinsi Papua.
Keberhasilan Fredonald menjadi kebanggaan tersendiri bagi kontingen Waropen. Prestasi ini bukan hanya menunjukkan kemampuan peserta dalam menyampaikan kisah Kitab Suci, tetapi juga mencerminkan hasil pembinaan iman, kreativitas, dan keberanian generasi muda dalam mewartakan nilai-nilai Injil melalui seni bertutur.
Baca juga: Kota Jayapura Memimpin Klasemen Medali Pesparani II Papua 2026, Biak Numfor Tunjukkan Daya Saing
Persaingan berlangsung ketat. Bonita Delvis Suenike Kelen dari Kabupaten Jayapura meraih Silver Champion dengan nilai 92,1 melalui kisah Perumpamaan tentang Lima Gadis yang Bijaksana dan Lima Gadis yang Bodoh. Selisih nilainya hanya 0,1 poin dari peraih juara pertama.
Sementara itu, Letisia Deandra Putri Pabeno dari Kota Jayapura memperoleh Bronze Champion dengan nilai 91,6. Ia membawakan kisah yang sama dengan Fredonald, yakni Yesus Memberi Makan 5.000 Orang.
Tiga peserta lainnya juga memperlihatkan kemampuan yang patut diapresiasi. William Noh dari Kabupaten Keerom memperoleh nilai 89,4, Agnes Adelin Nova Calista Renwarin dari Kabupaten Biak Numfor meraih 88,6, sedangkan Catharina Anastasia Gloria Ayomi dari Kabupaten Kepulauan Yapen memperoleh nilai 88,3.
Baca juga: GEMA KALATIDHA DI GEDUNG-GEDUNG KERTAS
Dewan Juri Apresiasi Penghayatan dan Kreativitas Peserta
Sebelum mengumumkan hasil perlombaan, tiga dewan juri, yakni Pastor Habel Jadera, Pr., Pastor Lucius Joko, Pr., dan Sara Lea Tunas, menyampaikan evaluasi serta masukan kepada seluruh peserta, pelatih, dan pendamping.
Dewan juri memberikan apresiasi terhadap penampilan para peserta yang dinilai telah menunjukkan kemampuan bertutur dengan baik. Mereka mampu membangun penghayatan terhadap cerita, memperlihatkan teknik penyampaian yang cukup kuat, serta menghadirkan unsur budaya lokal dalam mengomunikasikan kisah-kisah Kitab Suci.
Namun, sejumlah aspek masih perlu ditingkatkan, terutama artikulasi, kepercayaan diri, ekspresi, dan kedalaman penghayatan terhadap pesan Injil.
Menurut dewan juri, Bertutur Kitab Suci tidak boleh dipahami sebatas kegiatan menghafal atau membacakan sebuah cerita. Lebih dari itu, peserta harus mampu menghidupkan kisah yang disampaikan sehingga pendengar dapat memahami, merasakan, dan mengambil makna rohani dari setiap pesan yang terkandung di dalamnya.
Karena itu, kemampuan bertutur harus disertai pemahaman terhadap isi Kitab Suci. Peserta diharapkan mampu menggunakan bahasa yang komunikatif dan dekat dengan kehidupan anak-anak maupun masyarakat luas, tanpa menghilangkan makna utama dari firman Tuhan.
Enam Peserta Diharapkan Menjadi Misionaris Cilik
Salah satu pesan penting yang disampaikan dewan juri adalah harapan agar keenam peserta yang tampil dalam mata lomba Bertutur Kitab Suci dapat berkembang menjadi misionaris cilik di lingkungan masing-masing.
Harapan itu, menempatkan perlombaan bukan semata-mata sebagai arena untuk mengejar kemenangan dan memperoleh medali, melainkan sebagai ruang pembentukan karakter, pengembangan bakat, serta penanaman kecintaan terhadap Kitab Suci sejak usia dini.
Dalam berproses , pelatih dan pendamping mempunyai tanggung jawab penting. Mereka tidak hanya mempersiapkan teknik penampilan, tetapi juga membimbing peserta memahami konteks cerita, mengenali pesan moral dan rohani, serta menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Latihan yang berkelanjutan diharapkan mampu membangun keberanian anak-anak untuk menyampaikan kebenaran, menumbuhkan kepekaan sosial, dan menjadikan nilai-nilai Injil sebagai pedoman dalam kehidupan.
Kemenangan yang Melampaui Medali
Keberhasilan Fredonald Yohanes Siwit membawa Waropen meraih Gold Champion untuk pertama kalinya merupakan catatan penting dalam perjalanan Pesparani di Provinsi Papua.
Kemenangan yang sekaligus memperlihatkan bahwa pembinaan iman melalui pendekatan seni, budaya, dan kreativitas anak-anak memiliki potensi besar untuk dikembangkan di setiap kabupaten dan kota.
Pesparani II Papua di Biak tidak hanya menjadi panggung kompetisi untuk menentukan siapa yang terbaik, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan, pembelajaran, persaudaraan, dan penguatan kehidupan menggereja.
Pada akhirnya, kemenangan sejati dalam Bertutur Kitab Suci bukan hanya ketika seorang peserta berhasil meraih predikat juara, melainkan ketika pesan firman Tuhan yang disampaikan mampu menyentuh hati, menginspirasi sesama, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Prestasi Waropen menjadi inspirasi bahwa generasi muda Papua memiliki potensi untuk bertumbuh sebagai pewarta iman melalui talenta dan kekayaan budaya yang dimiliki.



