Oleh: johanis kopong
Medical AI Boleh Maju, Tetapi Sentuhan Manusia Tetap Utama
https://suara anak negeri.com | Saumlaki, Senin, 17 Agustus 2026 – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam sistem kesehatan membuka peluang besar bagi peningkatan kualitas, efisiensi, dan akurasi pelayanan medis. Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan pertanyaan etis yang tidak sederhana: sejauh mana teknologi boleh mengawasi klinisi tanpa mengurangi kebijaksanaan, kebebasan moral, martabat, dan kasih yang menjadi inti pelayanan kesehatan.
Baca juga: Pendeta Johan Batmomolin Hadiri Upacara HUT RI di Lumasebu
Persoalan tersebut menjadi bagian dari refleksi mengenai “Etika Kebajikan terkait Medical AI and Clinician Surveillance” yang disampaikan RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di Central Seminary, University of Santo Tomas (UST) Manila, Filipina.
Refleksi tersebut menempatkan manusia sebagai pusat perhatian dalam penggunaan teknologi kesehatan. AI dinilai memiliki peran penting dalam mendukung sistem kesehatan, tetapi tidak semestinya menjadi instrumen yang menggeser pertimbangan profesional dan kemanusiaan seorang klinisi.
Kebijaksanaan Klinisi Tidak Boleh Digantikan Algoritma
Dalam perspektif etika kebajikan, seorang dokter atau klinisi yang baik tidak hanya bekerja berdasarkan prosedur institusi maupun rumah sakit. Ia juga membutuhkan kebajikan kebijaksanaan untuk menilai apa yang terbaik bagi pasien berdasarkan keahlian, pengalaman, dan situasi konkret yang dihadapi.
Baca juga: Semarak HUT ke-81 RI dengan Busana Wastra Nusantara di Kantor BRI Saumlaki
Pengawasan AI yang terlalu menitikberatkan kesesuaian algoritmik berpotensi mengabaikan kebijaksanaan tersebut. Sistem dapat membuat klinisi lebih berorientasi pada waktu, skor, dan target yang telah ditentukan daripada memahami secara mendalam penyakit dan persoalan individual pasien.
“Klinisi tidak lagi bertindak dengan penuh kebijaksanaan berdasarkan sesuatu yang terjadi saat itu tetapi lebih pada penyesuaian dengan sistem kesehatan yang telah diatur dalam pengawasan AI,” demikian refleksi tersebut.
Karena itu, kemajuan AI dalam sistem kesehatan tetap perlu diapresiasi, tetapi pengembang dan pengguna teknologi harus memperhitungkan dimensi manusiawi dari profesi klinis.
Keahlian dan pengalaman klinisi tidak dapat direduksi hanya menjadi data yang dibaca oleh mesin. Dalam praktik medis, kondisi setiap pasien dapat berbeda sehingga keputusan terbaik tidak selalu dapat ditentukan hanya melalui pola algoritmik.
Keadilan Harus Menjadi Dasar Pengawasan
Etika kebajikan juga menempatkan keadilan sebagai prinsip penting. Keadilan menuntut adanya perlakuan yang adil, jujur, dan seimbang terhadap semua pihak dengan memperhatikan hak dan kebutuhan masing-masing.
Dalam konteks pengawasan AI, sistem pemantauan tidak seharusnya hanya diarahkan kepada pihak yang berada pada posisi pelaksana. Pimpinan dan manajemen juga perlu menjalankan tanggung jawab secara adil.
“Pimpinan wajib membagikan hak dan kewajiban secara adil,” demikian ditegaskan dalam refleksi tersebut.
Penggunaan AI untuk meningkatkan produktivitas klinisi tanpa memperhatikan kesejahteraan dan kondisi mental mereka dapat melahirkan persoalan etis.
Produktivitas memang penting bagi institusi kesehatan, tetapi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan martabat dan kesejahteraan manusia yang menjalankan pelayanan tersebut.

Jangan Menilai Pelayanan Hanya dari Angka
Persoalan yang lebih kompleks muncul ketika sistem pengawasan AI digunakan untuk mengevaluasi kinerja klinisi berdasarkan jumlah pasien, durasi pelayanan, pola percakapan, atau target algoritmik tertentu.
Klinisi dapat dianggap tidak memenuhi standar apabila jumlah pasien yang dilayani tidak mencapai kuota, waktu konsultasi melampaui ketentuan, atau komunikasi tidak mengikuti pola yang ditetapkan sistem.
Padahal, pelayanan medis tidak selalu dapat diukur hanya melalui angka dan durasi.
“AI menilai hanya berdasarkan teks dan durasi dan tidak dapat menggantikan nilai sesungguhnya dari pelayanan medis kepada pasien,” demikian dinyatakan dalam refleksi tersebut.
Situasi klinis dan kondisi mental pasien dapat berbeda-beda. Demikian pula keadaan seorang klinisi ketika menjalankan tugasnya. Karena itu, sistem yang dibuat seragam belum tentu mampu membaca kompleksitas hubungan antara pasien dan tenaga kesehatan.
Klinisi yang memberikan pelayanan secara sungguh-sungguh dan berkualitas tidak semestinya memperoleh sanksi hanya karena tidak mencapai target kuantitatif yang ditetapkan algoritma.
Dalam perspektif tersebut, pengawasan AI membutuhkan mekanisme koreksi dan pertimbangan manusia agar tidak berubah menjadi sistem yang menghukum klinisi berdasarkan indikator yang tidak sepenuhnya menggambarkan kualitas pelayanan.
Martabat Manusia Tidak Boleh Direduksi Menjadi Objek Efisiensi
Refleksi tersebut juga mengangkat martabat manusia sebagai citra Allah. Manusia memiliki kemampuan intelektual, kehendak, serta kapasitas untuk mengambil keputusan moral.
Karena itu, manusia harus diperlakukan sesuai martabatnya dan tidak sekadar dijadikan alat untuk mencapai efisiensi rumah sakit.
“Manusia harus diperlakukan sesuai martabatnya dan bukan sebagai alat atau objek untuk mencapai efisiensi rumah sakit,” demikian ditegaskan.
Dalam pelayanan medis, keputusan moral tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada mesin. AI dapat memberikan rekomendasi, membaca pola, membantu analisis, dan mendukung proses pengambilan keputusan, tetapi tanggung jawab moral tetap berada pada manusia.
Jika seluruh kebijakan dan keputusan medis harus mengikuti sistem pengawasan AI, terdapat risiko klinisi kehilangan ruang untuk menggunakan pertimbangan profesional dan kehendak bebasnya.
Kasih Tidak Dapat Diukur dengan Skor Empati
Dimensi lain yang menjadi perhatian adalah kebajikan kasih dalam pelayanan kesehatan.
AI dapat membantu menciptakan pengalaman pelayanan yang lebih nyaman bagi pasien, termasuk dengan menganalisis pola komunikasi atau memberikan penilaian tertentu terhadap respons tenaga kesehatan.
Namun, empati manusia memiliki dimensi yang lebih dalam daripada sekadar indikator yang dapat dibaca oleh sistem.
“Menggantikan kehadiran batin klinisi dengan skor empati AI sungguh melanggar prinsip dasar dari pelayanan medis,” demikian dikemukakan.
Kasih membutuhkan kehadiran personal. Ia lahir dari kehendak untuk berbuat baik bagi orang lain, bukan sekadar dari pola komunikasi yang terbaca oleh algoritma.
Kasih juga tidak dapat diukur hanya dari ketukan papan ketik, durasi percakapan, maupun nada suara. Di balik pelayanan kesehatan terdapat manusia yang membutuhkan manusia lain untuk mendengarkan, memahami, mendampingi, dan memberikan penguatan.
AI Tetaplah Alat, Bukan Penentu Nilai Moral
Dalam perspektif etika kebajikan, pengawasan AI harus ditempatkan sebagai alat yang mendukung manusia, bukan sebagai pengganti manusia dalam memberikan pertimbangan etis.
Teknologi dapat membantu institusi kesehatan memperbaiki sistem pelayanan, tetapi jangan sampai membuat klinisi lebih sibuk memenuhi target algoritmik daripada memperhatikan kebutuhan pasien.
“Pengawasan AI tetaplah tool yang tidak memiliki nilai-nilai etis. Hanya manusia yang memberi pertimbangan etis,” demikian ditegaskan dalam refleksi tersebut.
Pernyataan ini menempatkan batas yang jelas antara kemampuan teknologi dan tanggung jawab manusia. AI dapat memproses informasi, tetapi nilai moral dari sebuah keputusan tetap membutuhkan manusia yang memahami konteks, konsekuensi, serta martabat pihak yang dilayani.
Telos Pelayanan Medis Adalah Kesembuhan Pribadi
Pada akhirnya, tujuan atau telos profesi medis bukan sekadar memenuhi target yang ditetapkan sistem pengawasan AI. Tujuan utama pelayanan medis adalah menghadirkan perawatan yang sungguh-sungguh mengarah pada kebaikan dan kesembuhan pribadi pasien.
Karena itu, sistem AI perlu dirancang agar mendukung tujuan tersebut, bukan mengubah orientasi klinisi menjadi sekadar mengejar skor, kuota, durasi, dan produktivitas.
Jika klinisi terlalu menyesuaikan pelayanan dengan sistem pengawasan AI, perhatian dapat bergeser dari pasien kepada target algoritmik.
Dalam kondisi demikian, teknologi yang semestinya membantu pelayanan justru berpotensi mengubah orientasi profesi medis.
Sentuhan Personal Tetap Menjadi Inti Pelayanan
Refleksi tersebut pada akhirnya tidak menolak kemajuan teknologi. Sebaliknya, pengawasan AI dalam perkembangan medis dipandang sebagai sesuatu yang penting dan patut diapresiasi, dengan catatan bahwa teknologi harus tetap berada dalam koridor kemanusiaan.
“Kehadiran klinisi harus diutamakan karena kehadiran klinisi sungguh-sungguh membawa kenyamanan, telinga yang mendengarkan, kehadiran dan yang terpenting adalah kelembutan dan kasih sayang dalam merawat pasien.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan mesin, tetapi juga oleh kualitas manusia yang menggunakan teknologi tersebut.
AI dapat membantu membaca data, mengukur kinerja, dan mendukung pengambilan keputusan. Namun, kebijaksanaan untuk memahami manusia, keadilan untuk memperlakukan setiap pihak secara bermartabat, serta kasih untuk hadir bersama orang yang sedang sakit tetap merupakan tanggung jawab manusia.
Dengan demikian, tantangan utama Medical AI bukan semata-mata bagaimana membuat teknologi semakin canggih, melainkan bagaimana memastikan kecanggihan tersebut tetap melayani manusia. Teknologi boleh menjadi semakin pintar, tetapi pelayanan kesehatan harus tetap memiliki hati. (Editor: joko)
(Sumber: RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di UST Manila.)


