Sabtu, 15 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Roadshow Membaca Sudin Jakarta Utara Dorong Siswa Berani Menulis Puisi

JAKARTA UTARA, 13 Agustus 2026 — Upaya memperkuat budaya literasi di kalangan pelajar terus dilakukan Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Administrasi Jakarta Utara. Melalui program Roadshow Membaca, Sudin Jakarta Utara menghadirkan kegiatan literasi yang dikemas secara kreatif di SMP Daarul Ma’arif Semper Timur, Kamis (13/8/2026).

Sebanyak 50 peserta didik mengikuti kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut. Selain mendapatkan pengalaman membaca dan berdiskusi, siswa diajak mengenal proses kreatif melalui workshop menulis puisi.

Baca juga: Jelang HUT RI ke-81, Bhabinkamtibmas Abat Ajak Warga Kibarkan Merah Putih

Kegiatan dibuka oleh Kak Aji, perwakilan Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jakarta Utara. Dari pihak sekolah, hadir Ibu Resti, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, yang mewakili Kepala SMP Daarul Ma’arif.

Workshop menghadirkan Rissa Churria sebagai narasumber. Ia merupakan pendidik, penyair, prosais, dan esais, sekaligus pengelola Rumah Baca Ceria (RBC), pengurus Jagat Sastra Milenia (JSM), serta anggota Penyair Perempuan Indonesia (PPI).

Mengubah Hal Sederhana Menjadi Puisi

Baca juga: Polsek Selaru Gelar Bakti Sosial, Bersihkan Lingkungan Desa Adaut

Mengusung tema “Menemukan Puisi di Sekitar Kita”, Rissa mengajak siswa menyadari bahwa bahan untuk menulis puisi sebenarnya berada sangat dekat dengan kehidupan mereka.

Sebuah meja, jendela, pohon di halaman sekolah, suara hujan, pertemanan, guru, keluarga, hingga pengalaman pribadi dapat menjadi sumber ide. Yang dibutuhkan adalah kepekaan untuk mengamati dan keberanian untuk menuangkannya dalam kata-kata.

Salah satu latihan yang diberikan adalah meminta siswa memilih benda di sekitar mereka, kemudian membayangkan benda tersebut dapat berbicara. Latihan ini mendorong siswa mengembangkan imajinasi dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Rissa juga memperkenalkan empat unsur yang dapat menjadi pegangan siswa dalam menulis puisi, yaitu tema, diksi, imaji, dan majas.

Para siswa kemudian diajak menggunakan pancaindra untuk memperkuat imaji. Apa yang dilihat, didengar, dicium, diraba, maupun dirasakan dapat diolah menjadi gambaran yang lebih hidup dalam puisi.

Metode 10 Kata

Pada sesi praktik, siswa diminta memilih satu tema yang ingin ditulis. Setelah itu, mereka menuliskan 10 kata yang berkaitan dengan tema tersebut.

Sepuluh kata itu menjadi bahan awal untuk membangun puisi. Siswa mulai memilih kata yang dianggap paling kuat, menghubungkannya dengan kata lain, lalu menyusunnya menjadi larik.

Dari larik-larik tersebut, siswa kemudian membangun bait hingga menjadi sebuah puisi yang utuh.

Metode ini membuat proses menulis menjadi lebih ringan. Siswa tidak harus menunggu inspirasi datang, karena mereka dapat memulai dari sesuatu yang sudah mereka lihat, rasakan, dan pikirkan.

Antusiasme Siswa

Suasana kegiatan berlangsung dinamis. Siswa tampak antusias mengikuti materi, praktik menulis, dan sesi tanya jawab.

Berbagai pertanyaan kreatif muncul, terutama mengenai cara mencari ide, memilih diksi, menggunakan majas, membuat puisi lebih menarik, hingga teknik membacakan puisi.

Siswa juga mendapatkan pengenalan mengenai artikulasi, intonasi, jeda, ekspresi, dan penghayatan dalam membaca puisi.

Melalui kegiatan ini, Roadshow Membaca tidak hanya menjadi sarana meningkatkan minat baca, tetapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk berkreasi dan mengekspresikan diri.

Bagi para peserta, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menulis puisi ternyata dapat dimulai dengan langkah sederhana: menentukan tema, mengumpulkan kata, mengolah imajinasi, menyusun larik, lalu membangun bait.

Program Roadshow Membaca yang digelar Sudin Perpustakaan dan Kearsipan Kota Administrasi Jakarta Utara diharapkan dapat terus mendorong lahirnya generasi muda yang gemar membaca, berani menulis, peka terhadap lingkungan, serta memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan melalui karya.

Karena literasi bukan hanya tentang membaca apa yang tertulis, tetapi juga tentang mampu membaca kehidupan dan menuliskannya kembali dengan cara yang bermakna. [PM]

 

 

Kategori:
Tags:

Terkini