Mengenang 7 Tahun Wafatnya Paulus Pasang Kanan, Budayawan Tana Toraja
Oleh Paulus Laratmase
–
Amor berasal dari bahasa Latin yang berarti cinta, sedangkan fati merupakan bentuk kepemilikan dari kata fatum, yang berarti nasib, takdir, atau sesuatu yang telah ditentukan. Dengan demikian, secara sederhana amor fati dapat dimaknai sebagai “mencintai nasib” atau menerima seluruh kenyataan hidup termasuk kenyataan yang pahit, menyakitkan, dan tidak dapat dihindari—sebagai bagian dari perjalanan eksistensi manusia.
Sementara itu, fatum berasal dari kata Latin fari, yang berarti “berkata” atau “mengucapkan”. Dalam perkembangan pemikiran Latin, fatum menunjuk pada sesuatu yang telah “dikatakan” atau “ditetapkan”, sehingga kemudian memperoleh makna sebagai takdir atau nasib yang tidak dapat dielakkan oleh manusia. Di dalam pengertian inilah kematian sering ditempatkan sebagai salah satu bentuk fatum: sebuah kenyataan yang pada akhirnya akan datang kepada setiap manusia, tanpa memandang usia, kedudukan, kekayaan, pengetahuan, maupun jasa seseorang selama hidupnya.
Namun, kematian tidak pernah menjadi sesuatu yang mudah dicintai.
Baca juga: TransJakarta dan Agenda Masa Depan: Membangun Pengalaman Perjalanan yang Berkualitas (Bagian 5)
Manusia dapat berbicara tentang kematian dengan bahasa filsafat, agama, kebudayaan, bahkan ilmu pengetahuan. Kita dapat menjelaskan bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan. Kita dapat mengatakan bahwa setiap manusia yang lahir pada akhirnya akan mati. Kita dapat mengutip para filsuf, membaca kitab suci, dan menyusun berbagai argumentasi untuk menerima kenyataan kematian. Tetapi ketika kematian itu benar-benar datang dan mengambil seseorang yang kita cintai, semua penjelasan tersebut seakan kehilangan kekuatannya.
Kematian seorang ayah, peristiwa biologis?
Kematian adalah sebuah kehilangan yang menyentuh kedalaman eksistensi manusia. Ada ruang yang tiba-tiba kosong. Ada suara yang tidak lagi terdengar. Ada nasihat yang tidak lagi dapat ditanyakan. Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang tiba-tiba berubah menjadi kenangan. Ada sosok yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari perjalanan hidup, lalu suatu hari hanya dapat ditemukan melalui ingatan.
Tujuh tahun telah berlalu sejak Paulus Pasang Kanan, ayah kami, sekaligus seorang budayawan Tana Toraja, meninggalkan kehidupan duniawi.
Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Banyak hal telah berubah. Anak-anak, cucu dan cicit telah bertumbuh, keluarga melanjutkan kehidupan, zaman bergerak, dunia berubah dengan begitu cepat. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah: kenangan tentang seorang ayah tidak pernah benar-benar mati. Ia hidup dalam cerita yang terus diceritakan. Ia hidup dalam nilai-nilai yang diwariskan. Ia hidup dalam kebudayaan yang pernah diperjuangkan. Ia hidup dalam cara anak-anaknya memandang kehidupan. Dan ia hidup dalam doa-doa keluarga yang tidak pernah berhenti menyebut namanya.
Kematian sebagai Fatum
Kita sering ingin memberontak terhadap kematian. Ketika seseorang yang kita cintai meninggal, ada bagian dalam diri kita yang berkata: “Mengapa harus dia?” Pertanyaan itu muncul bukan karena kita tidak memahami hukum kehidupan, tetapi karena cinta membuat kita berharap agar orang yang kita cintai dapat tinggal lebih lama.
Di situlah paradoks manusia muncul.
Kita mengetahui bahwa kematian adalah kepastian, tetapi kita selalu merasa bahwa kematian datang terlalu cepat ketika ia mengambil seseorang yang kita cintai.
Inilah yang membuat fatum menjadi pengalaman yang begitu berat. Kematian adalah sesuatu yang tidak dapat kita negosiasikan. Tidak ada perjanjian yang dapat dibuat dengannya. Tidak ada kekayaan yang mampu membelinya. Tidak ada jabatan yang dapat menghentikannya. Tidak ada kekuasaan yang mampu memerintahkannya untuk pergi.
Kematian datang kepada semua orang.
Tetapi kematian seseorang yang kita cintai membuat kenyataan universal itu menjadi sangat personal.
Bagi kami, fatum itu bernama Paulus Pasang Kanan.
Ia bukan saja nama dalam sebuah catatan kematian. Ia adalah seorang ayah. Ia adalah bagian dari sejarah keluarga. Ia adalah manusia yang pernah hadir, berbicara, bekerja, mencintai, mendidik, membangun relasi, dan memberikan warna bagi kehidupan orang-orang di sekitarnya.
Sebagai seorang budayawan Tana Toraja, ia juga bukan hanya meninggalkan warisan biologis kepada anak-anaknya, tetapi meninggalkan jejak pemikiran, kebudayaan, nilai, dan identitas.
Karena itu, ketika tubuhnya pergi, sesungguhnya tidak seluruh dirinya pergi. Ada sesuatu yang tetap tinggal. Warisan itu adalah ingatan.
Dari Amor Fati Menuju Penerimaan
Di sinilah amor fati mendapatkan makna yang lebih dalam.
Amor fati bukan berarti kita harus mencintai kematian sebagai sebuah penderitaan. Ia juga bukan berarti manusia harus menikmati kehilangan atau berpura-pura bahwa kepergian orang yang dicintai tidak menyakitkan.
Sebaliknya, amor fati dapat dipahami sebagai keberanian untuk menerima kenyataan yang tidak dapat kita ubah, tanpa kehilangan kemampuan untuk mencintai kehidupan.
Kita menangis bukan karena kita lemah. Kita berduka bukan karena iman kita kurang. Kita merindukan orang yang telah pergi bukan karena kita gagal menerima kenyataan.
Justru tangisan, kerinduan, dan kesedihan merupakan bukti bahwa pernah ada cinta yang begitu dalam. Karena itu, menerima kematian bukan berarti berhenti merindukan.
Menerima kematian berarti belajar menempatkan kerinduan di dalam ruang yang baru: ruang kenangan, doa, iman, dan pengharapan.
Tujuh tahun setelah kepergian Ambeku, kami mungkin tidak lagi menangis dengan cara yang sama seperti pada hari pertama kematian itu datang. Tetapi kehilangan tidak berarti hilang. Kesedihan telah berubah menjadi kerinduan, dan kerinduan perlahan-lahan berubah menjadi penghormatan.
Di situlah amor fati menjadi sebuah perjalanan batin.
Bukan perjalanan untuk melupakan orang yang telah pergi, melainkan perjalanan untuk memahami bahwa cinta tidak berakhir hanya karena kematian memisahkan tubuh.
Kematian dan Gelombang Kehidupan
Dalam kehidupan, manusia seperti sebuah perahu yang berlayar di tengah lautan. Kadang laut tenang, tetapi pada saat lain gelombang datang tanpa memberi peringatan. Ada badai, ada kegelapan, ada ketakutan, dan ada saat ketika manusia merasa seakan-akan perahunya akan tenggelam.
Kematian adalah salah satu gelombang terbesar dalam kehidupan manusia.
Ketika seorang ayah meninggal, gelombang itu mengguncang seluruh keluarga. Kita kehilangan keseimbangan. Kita bertanya tentang masa depan. Kita melihat kembali masa lalu. Kita mengenang percakapan-percakapan yang pernah terjadi dan bahkan menyesali kata-kata yang belum sempat disampaikan.
Namun iman Kristiani mengajarkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar menjadi juru mudi bagi seluruh perjalanan hidupnya.
Ada Juru Mudi Kehidupan yang tetap menyertai manusia dalam setiap gelombang.
Dialah Kristus.
Yesus sendiri memasuki pengalaman penderitaan, kematian, dan kegelapan kubur. Karena itu, iman Kristiani tidak berbicara tentang kematian dari kejauhan. Kristus mengalami kematian, memasuki kubur, dan kemudian bangkit.
Kebangkitan Kristus menjadi titik balik dalam cara manusia memandang kematian.
Kematian tidak lagi menjadi kata terakhir.
Kubur bukan lagi akhir dari seluruh perjalanan.
Kematian memang memisahkan, tetapi iman mengatakan bahwa kematian tidak memiliki kuasa terakhir atas kehidupan.
Karena itu, bagi keluarga yang ditinggalkan, iman bukanlah cara untuk menyangkal kematian. Iman justru memberikan keberanian untuk memandang kematian secara jujur, sambil tetap percaya bahwa di balik kematian terdapat kehidupan yang lebih sempurna dalam kasih Allah.
“Hidup Diubah, Bukan Dilenyapkan”
Ada sebuah keyakinan iman yang sangat kuat: hidup diubah, bukan dilenyapkan.
Kalimat ini menjadi sangat berarti ketika kita mengenang seseorang yang telah meninggalkan kita.
Paulus Pasang Kanan telah meninggalkan dunia ini tujuh tahun yang lalu. Tetapi apakah seluruh kehidupannya ikut hilang?
Tidak.
Ia masih hadir dalam ingatan kami.
Ia hadir dalam nilai yang diwariskannya.
Ia hadir dalam cerita keluarga.
Ia hadir dalam kebudayaan Tana Toraja yang pernah menjadi bagian dari pergulatan hidupnya.
Ia hadir dalam setiap kali kami berbicara tentang masa lalu dan menyebut namanya.
Dan terutama, ia hadir dalam iman bahwa kehidupan manusia tidak berakhir pada batas makam.
Maka, tujuh tahun bukan saja angka.
Tujuh tahun adalah perjalanan keluarga belajar berdamai dengan kehilangan.
Tujuh tahun adalah perjalanan dari tangisan menuju penghayatan.
Tujuh tahun adalah perjalanan dari pertanyaan “mengapa engkau pergi?” menuju pertanyaan yang lebih dalam: “Apa yang harus kami teruskan dari kehidupanmu?”
Pertanyaan terakhir inilah yang mungkin lebih penting.
Sebab orang yang telah meninggal tidak lagi membutuhkan kita untuk mengubah masa lalu. Tetapi kehidupan mereka mengundang kita untuk meneruskan nilai-nilai baik yang pernah mereka tanamkan.
Jika Ambeku Paulus Pasang Kanan adalah seorang budayawan, maka warisan terbesarnya bukan hanya tulisan, pemikiran, atau pengetahuan tentang kebudayaan. Warisan terbesar seorang budayawan adalah ketika generasi sesudahnya tidak membiarkan kebudayaan itu mati.
Dengan demikian, mengenang seorang budayawan bukan saja memasang nama pada batu nisan atau mengulang cerita tentang masa lalu. Mengenang berarti menghidupkan kembali nilai-nilai yang pernah ia perjuangkan.
Kematian Tidak Menghapus Cinta
Ada hal yang tidak dapat dilakukan oleh kematian: kematian tidak mampu menghapus cinta.
Kematian dapat mengambil tubuh, tetapi tidak dapat mengambil kenangan.
Kematian dapat menghentikan suara, tetapi tidak dapat menghentikan pesan yang pernah disampaikan.
Kematian dapat memisahkan manusia secara fisik, tetapi tidak selalu mampu memutus ikatan batin antara mereka yang pergi dan mereka yang ditinggalkan.
Karena itu, kami tidak ingin mengenang Ambeku hanya dengan kesedihan.
Kami ingin mengenangnya dengan rasa syukur.
Syukur karena pernah memiliki seorang ayah.
Syukur karena pernah mendengar suaranya.
Syukur karena pernah menerima nasihatnya.
Syukur karena pernah berjalan bersamanya dalam sebagian perjalanan hidup.
Dan syukur karena Tuhan pernah mempercayakan seorang manusia bernama Paulus Pasang Kanan untuk hadir dalam kehidupan kami.
Mungkin inilah bentuk amor fati yang paling manusiawi: bukan mencintai kematian, melainkan belajar mencintai seluruh perjalanan hidup, termasuk bagian yang paling menyakitkan darinya.
Selamat Jalan, Ambeku
Tujuh tahun telah berlalu, Ambeku.
Dunia terus berjalan sebagaimana mestinya. Matahari tetap terbit. Hujan tetap turun. Orang-orang terus bekerja, tertawa, menangis, menikah, melahirkan, dan meninggalkan dunia.
Tetapi bagi kami, ada satu bagian dari kehidupan yang selalu memiliki namamu.
Namamu adalah bagian dari sejarah keluarga.
Namamu adalah bagian dari perjalanan kami.
Namamu adalah bagian dari ingatan tentang Tana Toraja dan kebudayaan yang engkau cintai.
Dan namamu adalah bagian dari doa kami.
Kini kami mulai memahami bahwa kematian bukanlah sesuatu yang dapat kami kalahkan dengan pemberontakan. Ia adalah fatum kenyataan yang harus kami terima sebagai bagian dari perjalanan manusia.
Namun iman mengajarkan kami untuk tidak berhenti pada fatum.
Kami bergerak menuju amor fati: menerima dengan cinta, bukan karena kehilangan itu tidak menyakitkan, tetapi karena kami percaya bahwa kehidupanmu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada kematianmu.
Engkau telah pergi dari hadapan mata kami, tetapi tidak dari hati kami.
Engkau telah meninggalkan dunia, tetapi tidak meninggalkan warisan kehidupan.
Dan suatu hari nanti, ketika perjalanan kami juga sampai pada batasnya, kami percaya bahwa kematian bukanlah titik terakhir.
Sebab Kristus telah lebih dahulu berjalan melalui jalan kematian dan keluar menuju kebangkitan.
Karena itu kami percaya:
hidup tidak dilenyapkan oleh kematian; hidup diubah.
Selamat jalan, Ambeku.
Paulus Pasang Kanan.
Tujuh tahun telah berlalu, tetapi cintamu tetap tinggal.
Semoga Tuhan menerima engkau dalam keabadian-Nya, dan semoga warisan hidupmu terus tumbuh dalam diri anak-anak, keluarga, serta generasi yang mengenal dan mencintai kebudayaan Tana Toraja.
Amor fati.
Bukan mencintai kematian.
Melainkan mencintai kehidupan sedemikian dalam, sehingga bahkan ketika kematian datang, cinta tetap menemukan cara untuk tinggal.
Selamat jalan, Ambeku.
Hormat dan cinta dari anakmu,
Paulus Laratmase





