Oleh: Ririe Aiko| Penulis dan konten kreator
–
Awal Januari 2026 menjadi titik ketika saya memutuskan untuk lebih serius berkarya di media sosial. Sebagai seorang penulis, saya merasa sudah saatnya tidak hanya menulis di halaman buku atau media, tetapi juga hadir di ruang yang setiap hari dipenuhi jutaan anak muda: Instagram dan TikTok.
Saya mulai membuat konten tentang puisi esai, narasi kemanusiaan, dan berbagai isu sosial. Sejak awal, saya tidak pernah duduk sambil membayangkan, “Bagaimana caranya agar video ini viral?” Saya juga tidak menghitung berapa banyak pengikut yang akan datang setelah satu konten diunggah.
Tujuan saya sederhana.
Saya ingin menulis.
Saya ingin menyampaikan.
Saya ingin menghadirkan suara-suara yang sering kali tenggelam di tengah riuhnya media sosial.
Bagi saya, media sosial hanyalah jalan. Yang ingin saya antarkan adalah pesan.
Hari demi hari saya terus membuat konten. Ada yang hanya ditonton ratusan orang, ada yang ribuan tapi bagi saya itu tidak masalah. Saya putuskan tetap membuat konten dengan ritme yang sama. Tidak ada yang berubah.
Pekerjaan apapun selalu saya upayakan untuk konsisten dan profesional, terlepas apapun hasil didepannya.
Saya juga percaya bahwa setiap apa yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, pasti akan menggiring kita pada jalan kesuksesan.
Sampai memasuki pertengahan tahun 2026, sesuatu yang tidak saya duga mulai terjadi.
Jumlah pengikut perlahan instagram pelan-pelan bertambah hingga mencapai puluhan ribu. Tayangan video pun meningkat. Beberapa pihak mulai ada yang menghubungi saya untuk berkolaborasi. Bahkan, tawaran pekerjaan sebagai content creator mulai banyak berdatangan.
Tentu saya bersyukur.
Namun, rasa syukur itu bukan semata karena angka.
Beberapa waktu lalu saya mengunggah puisi esai berjudul Ayahku Hanya Mencuri Dua Ekor Ayam, Bukan Emas Batangan. Tanpa saya sangka, salah satu konten itu meledak hanya dalam sehari. Puluhan ribu orang menontonnya. Notifikasi TikTok saya terus berbunyi. Angkanya terus bergerak naik.
Jujur, saya senang.
Siapa pun tentu akan senang melihat karyanya diapresiasi.
Tetapi setelah rasa senang itu lewat, saya bertanya pada diri sendiri, “Lalu apa?”
Kalau viral hanya berhenti pada angka, besok orang akan lupa.
Kalau viral hanya menambah pengikut, lusa akan datang konten lain yang menggantikannya.
Yang jauh lebih penting adalah apakah tulisan itu mampu membuat seseorang berhenti sejenak, merenung, lalu melihat dunia dengan cara yang sedikit berbeda.
Apakah ada satu orang yang menjadi lebih berempati?
Apakah ada satu orang yang tersentuh untuk berbuat baik?
Apakah ada satu orang yang akhirnya peduli pada persoalan yang selama ini diabaikan?
Bagi saya, itulah ukuran keberhasilan sebuah karya.
Hari ini media sosial dipenuhi perlombaan mengejar perhatian. Semua orang berlomba menjadi yang paling cepat, paling ramai, paling viral. Padahal, perhatian adalah sesuatu yang sangat singkat. Hari ini kita dibicarakan, besok kita sudah tergantikan.
Karena itu saya memilih mengejar sesuatu yang lebih panjang usianya.
Saya ingin mengejar nilai.
Nilai yang hidup di dalam tulisan.
Nilai yang tinggal di hati pembaca.
Nilai yang mungkin membuat seseorang mengambil keputusan yang lebih baik setelah selesai menonton sebuah video.
Nilai yang akan memberikan kita bekal kebaikan.
Sebagai generasi yang hidup di era digital, kita memiliki cara sendiri untuk berdakwah. Tidak semua orang harus berdiri di atas mimbar. Ada yang berdakwah melalui pendidikan, ada yang melalui karya, ada yang melalui tulisan, dan ada pula yang melalui media sosial.
Dan saya memilih mengambil bagian di media sosial, media yang saat ini paling dekat dengan kita semua.
Saya percaya bahwa satu puisi yang lahir dari kejujuran bisa mengetuk hati lebih lama daripada seribu konten yang hanya mengejar sensasi.
Jika suatu hari karya saya kembali viral, saya akan bersyukur.
Kalau tidak viral pun, saya akan tetap menulis.
Sebab sejak awal, tujuan saya bukan menjadi yang paling ramai diperbincangkan.
Saya hanya ingin menjadi satu suara kecil yang terus mengingatkan bahwa di balik derasnya arus algoritma, masih ada kemanusiaan yang layak diperjuangkan.
Karena pada akhirnya, viral hanyalah bonus. Sedangkan nilai adalah warisan kebaikan.






