Oleh:Ilhamdi Sulaiman
Aku mengenal banyak orang di bawah cahaya lampu panggung.
Sejak muda aku hidup bersama tepuk tangan. Wajah-wajah asing datang dan pergi setelah tirai ditutup. Seusai pertunjukan, mereka menjabat tanganku, memelukku, mengucapkan selamat, lalu menghilang bersama malam. Bertahun-tahun menjadi aktor dan orang teater mengajariku bahwa tidak setiap jabat tangan melahirkan persahabatan, sebagaimana tidak setiap tepuk tangan meninggalkan kenangan.
Namun, pada usia ketika rambut mulai menyimpan warna abu-abu dan panggung tak lagi sesering dulu memanggil namaku, aku justru menemukan seorang sahabat yang tak pernah sekalipun menggenggam tanganku.
Namanya Paulus Laratmase.
Ia tinggal di Timur, di tanah yang lebih dahulu disapa matahari setiap pagi. Aku tinggal di Barat, tempat senja sering datang membawa rindu. Kami dipisahkan ribuan kilometer, dipagari laut yang membentang seperti lembaran sejarah bangsa ini. Tetapi sastra mempunyai cara yang tak pernah diajarkan peta. Ia menjahit jarak dengan kata-kata.
Setiap malam, ketika rumah telah tenggelam dalam sunyi, aku membuka laptop yang telah menemaniku bertahun-tahun. Di sanalah panggungku kini berdiri. Tidak ada lampu sorot. Tidak ada penonton. Yang terdengar hanyalah bunyi lembut jemariku menari di atas papan ketik, sementara cerita demi cerita lahir dari kenangan, kegelisahan, dan harapan.
Jika dahulu aku menunggu tepuk tangan setelah pertunjukan usai, kini aku hanya menunggu satu bunyi kecil dari surat elektronik yang masuk.
Kadang hanya beberapa kata.
“Naskah diterima.”
Atau lebih sering lagi:
“Teruslah menulis.”
Aneh. Dua kata itu jauh lebih lama bergema di dalam dadaku daripada riuh tepuk tangan yang pernah memenuhi gedung-gedung pertunjukan.
Sejak itulah aku percaya, ada orang-orang yang tidak hadir untuk bertepuk tangan di hadapan kita. Mereka hadir untuk menjaga agar api dalam diri kita tidak padam.
Paulus adalah salah seorang di antaranya.
Di depan laptop beberapa naskah yang kusimpan di dalamnya, aku merasa sedang bercakap-cakap dengan diriku sendiri. Tidak ada penonton yang menilai intonasi. Tidak ada lampu sorot yang memantulkan bayangan tubuhku. Yang ada hanyalah kursor kecil yang berkedip-kedip, seolah bertanya,
“Masih adakah cerita yang ingin kau titipkan kepada zaman?”
Aku mengetik perlahan.
Kadang satu halaman selesai dalam sejam.
Kadang satu kalimat membutuhkan semalam suntuk.
Usia ternyata membuat seseorang semakin berhati-hati memilih kata. Aku tak lagi mengejar banyaknya tulisan. Aku hanya ingin setiap kalimat memiliki denyut kehidupan.
Setelah sebuah cerpen selesai, kubaca kembali seperti seorang ayah yang memandangi anaknya sebelum berangkat merantau. Ada rasa khawatir.
Apakah ia akan diterima?
Apakah ia akan menemukan pembacanya?
Ataukah ia akan pulang dengan luka berupa penolakan?
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menemaniku setiap kali jemari ini mengarahkan penunjuk tetikus ke tombol Kirim.
Di luar sana, dunia sastra tidak selalu ramah. Ada media yang tak pernah menjawab. Ada redaksi yang membiarkan naskah tenggelam dalam kesunyian berbulan-bulan. Ada pula yang mengirimkan penolakan tanpa alasan.
Aku memahami semuanya.
Setiap media mempunyai pertimbangannya sendiri.
Tetapi, sebagai penulis, diam kadang lebih menyakitkan daripada penolakan.
Lalu, di antara sekian banyak alamat surat elektronik yang pernah kusimpan, ada satu alamat yang selalu memberiku keberanian untuk kembali mengirimkan karya.
Alamat itu berasal dari Timur.
Dari media yang dipimpin Paulus Laratmase.
Aku tidak mengenalnya sebagai pemimpin redaksi yang bersembunyi di balik meja. Aku mengenalnya sebagai seseorang yang memahami bahwa di balik setiap naskah ada manusia yang sedang menitipkan sepotong hidupnya.
Mungkin karena itulah jawabannya tak pernah terasa dingin.
Tak panjang.
Tak berbunga-bunga.
Namun cukup untuk membuat seorang penulis percaya bahwa pekerjaannya tidak sia-sia.
“Terima kasih. Cerpennya kami muat.”
Atau kadang hanya,
“Terus berkarya.”
Aku sering tersenyum sendiri setelah membaca pesan-pesan sesingkat itu.
Betapa aneh.
Di dunia teater, aku pernah menerima tepuk tangan dari ratusan orang.
Namun kini, beberapa kalimat dari seseorang yang belum pernah kutemui justru mampu menghadirkan kebahagiaan yang lebih lama tinggal.
Barangkali karena tepuk tangan hanya terdengar oleh telinga.
Sedangkan penghargaan yang lahir dari ketulusan akan menetap di dalam hati.
Sejak itulah aku mulai percaya bahwa sastra mempunyai persaudaraannya sendiri.
Ia tidak menanyakan dari suku apa engkau berasal.
Ia tidak peduli seberapa jauh jarak rumahmu.
Ia tidak mempermasalahkan apakah kita pernah saling berjabat tangan.
Yang dikenalnya hanyalah kejujuran.
Dan mungkin, karena kejujuran itulah, seorang lelaki di Timur sana tanpa pernah kusadari telah menjadi sahabat yang setiap malam kutemui melalui layar laptop.
Kami tidak pernah duduk semeja.
Tidak pernah memandang laut yang sama.
Namun setiap kali buka layar laptopku, rasanya aku sedang membuka sebuah jendela kecil yang menghubungkan dua ujung Indonesia.
Aku di Barat.
Ia di Timur.
Dan di antara kami, kata-kata terus berlayar, tanpa pernah kehabisan arah.
Baca juga: GARWA UTOMO
Jakarta,5 Juli 2026.





