http://suaraanaknegeri.com | Di tengah hiruk-pikuk Kota Manila, Filipina, suasana hening menyelimuti Central Seminary University of Santo Tomas (UST), Jumat (29/5/2026). Dari ruang pembinaan para calon imam Katolik itu, RD. Domincs Baldawins Masriat menyampaikan refleksi rohani bertajuk Sejenak Sabda yang sarat pesan moral tentang iman, integritas, dan kemanusiaan.
Melalui permenungan atas bacaan Injil Markus 11:11-26, Pastor Mahasiswa UST Manila tersebut mengajak umat untuk tidak terjebak dalam simbol dan formalitas keagamaan semata, melainkan menghadirkan iman yang nyata melalui tindakan dan kehidupan sehari-hari.
Iman Harus Menghasilkan Buah
Dalam refleksinya, RD. Domincs menyinggung kisah pohon ara yang tampak hijau dan rimbun, namun tidak menghasilkan buah. Menurut dia, kisah itu menjadi simbol keras terhadap kemunafikan dalam kehidupan beriman. “Penampilan luar atau formalitas agama tidak ada artinya jika tidak disertai dengan buah kehidupan yang nyata, seperti kebaikan, kejujuran, dan kasih,” ungkapnya.
Baca juga: Sekjen ATR/BPN Minta ASN Tak Ragu Ambil Keputusan
Pesan tersebut menjadi refleksi mendalam di tengah realitas sosial modern ketika agama kerap tampil megah secara simbolik, namun kehilangan makna kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama.
Kritik terhadap Penyalahgunaan Tempat Suci
RD. Domincs juga menyoroti kemarahan Yesus di Bait Allah sebagai kritik terhadap penyalahgunaan ruang suci demi kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. “Yesus marah besar karena Bait Allah yang seharusnya menjadi tempat suci untuk bersekutu dengan Tuhan, justru dijadikan ladang bisnis yang memeras orang miskin,” katanya.
Menurutnya, pesan Injil tersebut tetap relevan dengan kehidupan masa kini, termasuk dalam pengelolaan ruang publik, lembaga sosial, hingga institusi keagamaan yang harus dijaga dari praktik korupsi dan eksploitasi spiritual.
Baca juga: Nusron Wahid: Iduladha Momentum Menyembelih Ego dan Keserakahan
Menghadirkan Komunitas yang Inklusif
Dalam refleksi yang sama, ia turut mengingatkan pentingnya membangun komunitas yang inklusif dan terbuka terhadap sesama, terutama mereka yang kecil, tersingkir, dan sedang mencari keadilan. “Kita harus berusaha menjadi pribadi dan komunitas yang inklusif. Jangan sampai kenyamanan, egoisme, atau kesibukan kita sehari-hari justru menutup jalan bagi orang lain yang sedang mencari kedamaian dan keadilan,” ujarnya.
Bagi RD. Domincs, tempat ibadah dan ruang sosial sejatinya menjadi ruang bersama yang menghadirkan rasa aman, damai, dan harapan bagi setiap orang tanpa memandang latar belakang.
Iman yang Fokus pada Solusi
RD. Domincs kemudian mengulas simbol “gunung” dalam Injil yang dimaknai sebagai metafora atas persoalan besar dan sistem yang menindas kehidupan manusia.
“Saat menghadapi tantangan hidup yang tampak sebesar gunung, kita diajak untuk memiliki iman yang aktif dan radikal kepada Allah,” katanya.
Menurut dia, iman tidak boleh berhenti pada doa dan pengharapan semata, tetapi juga harus melahirkan keberanian untuk menghadapi persoalan hidup dengan sikap optimistis dan penuh harapan.
Pengampunan sebagai Jalan Damai
Pada bagian akhir refleksinya, RD. Domincs menekankan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan sesama manusia. “Melepaskan pengampunan kepada orang yang bersalah kepada kita adalah syarat mutlak untuk menerima kedamaian dan pengampunan dari Tuhan,” tuturnya.
Refleksi rohani itu kemudian ditutup dengan doa sederhana namun mendalam, memohon agar setiap umat diberi kemampuan untuk mengampuni sesama dalam kehidupan sehari-hari. “Ya Allah bantulah kami agar kami mampu mengampuni sesama kami,” demikian doa yang dipanjatkan.(jk)





