Senin, 11 Mei 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Gustri Bhre & Mangkunegaran Run 2026 yang Bikin Gagal Move On

Oleh Amelia Fitriani| Pendiri Rumah Baca Serayu

“People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”

Baca juga: KRISIS INDUSTRI MEDIA, GEMERLAP DUNIA MODE DAN KEKUASAAN YANG MELEMBUT

Kutipan populer dari salah satu penulis favorit saya, Maya Angelou itu rasanya mampu menggambarkan perasaan saya setelah mengikuti Mangkunegaran Run 2026 di Solo. Hampir satu minggu telah berlalu sejak garis finish itu saya lewati. Medali sudah disimpan. Jersey sudah dicuci. Foto-foto race sudah diunggah ke Instagram.

Tetapi ada satu hal yang masih tertinggal dan membuat saya gagal move on, yaitu perasaannya. Perasaan hangat ketika berlari di tengah Kota Solo yang pagi itu terasa hidup oleh musik, budaya, dan ribuan manusia yang datang dari berbagai daerah. Perasaan bahwa saya tidak sedang mengikuti event lari biasa, melainkan sedang menjadi bagian dari pengalaman budaya yang dirancang dengan sangat personal, emosional, dan penuh identitas.

Saya menyadari bahwa perasaan atau impresi yang membekas semacam itu bukan datang tiba-tiba. Melainkan buah dari visi besar sosok di baliknya, yaitu KGPAA Mangkunegara X, atau juga populer dengan nama Gusti Bhre.

Baca juga: CARILAH MINYAK HINGGA KE LAUT DALAM DENGAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE

Saya pribadi memiliki kekaguman tersendiri pada sosok Gusti Bhre. Mungkin ini mirip seperti perempuan-perempuan yang mengidolai artis K-pop. Bedanya, saya mengidolai seorang pemimpin budaya Jawa yang berhasil membuat tradisi terasa sangat hidup dan relevan bagi generasi hari ini.

Saya pertama kali bertemu Gusti Bhre di Ubud Writers & Readers Festival tahun 2024. Saat itu saya juga sedang menempuh pendidikan S2 Business and Communication Management di LSPR Institute Jakarta. Pada saat itu saya menyampaikan satu hal kepadanya:

“Mas Bhre, boleh nggak saya menulis tentang Mangkunegaran untuk jurnal ilmiah saya?”

Saya pikir pertanyaan itu akan berhenti sebagai percakapan singkat di sebuah festival sastra. Tapi ternyata tidak. Beliau menyambutnya dengan sangat terbuka. Hangat. Bahkan suportif. Dari situ lahirlah jurnal ilmiah saya yang kemudian dipublikasikan di JCPR (Journal of Communication and Public Relations) dengan judul Mangkunegara X’s Communication Strategy in Promoting Solo’s Creative Economy through Mangkunegaran Run 2025.

Ajuan saya pada Gusti Bhre saat itu bukan celetukan kosong semata. Saya memang kagum padanya, terutama visi besar yang dia bawa sejak memimpin Mangkunegaran, yakni Culture-Future. Dengan visi tersebut, Gusti Bhre membawa transformasi pada Pura Mangkunegaran untuk menjadi pusat kebudayaan modern, dinamis, dan relevan bagi generasi muda. Visi ini memadukan kelestarian tradisi luhur dengan teknologi digital, termasuk AI, untuk menciptakan ekosistem seni dan budaya yang adaptif.

Salah satu implementasi dari visi tersebut adalah kegiatan rutin tahunan yakni Mangkunegaran Run, yang digelar sejak 2023. Kegiatan ini digelar bersamaan dengan Adeging Mangkunegaran atau perayaan sejarah berdirinya Pura Mangkunegaran.

Saya sendiri baru dua kali mengikuti Mangkunegaran Run, yaitu tahun 2025 dan 2026. Jujur, saya masih gagal move on dari Mangkunegaran Run 2026 yang digelar pada Minggu, 3 Mei 2026 lalu.

Bukan karena medali finisher. Bukan karena jersey-nya. Bukan juga semata karena suasana race yang meriah. Tetapi karena perasaan yang tertinggal setelahnya.

Di tengah menjamurnya event lari di Indonesia, Mangkunegaran Run menurut saya berhasil menghadirkan sesuatu yang jauh lebih sulit dibuat, yaitu jiwa kebudayaan yang kuat.

Banyak event olahraga terasa megah. Banyak yang rapi secara teknis. Banyak yang viral di media sosial. Tetapi hanya sedikit yang mampu membuat pesertanya merasa punya emotional attachment dengan sebuah tempat. Mangkunegaran Run berhasil melakukan itu.

Dan menurut saya, di situlah kekuatan branding seorang Gustri Bhre terlihat sangat kuat. Gusti Bhre tampaknya paham bahwa hari ini budaya tidak bisa hanya disimpan di museum, dibicarakan di seminar, atau dipertontonkan secara seremonial. Budaya harus hadir di ruang hidup generasi sekarang. Harus bisa dirasakan. Harus bisa dialami.

Running menjadi medium yang cerdas. Karena lari hari ini bukan lagi sekadar olahraga. Ia sudah menjadi lifestyle, identitas sosial, bahkan budaya urban baru. Orang rela datang lintas kota dan mengeluarkan dana jutaan rupiah untuk ikut race. Orang bangga mengunggah jersey dan medal. Orang mencari pengalaman, bukan hanya garis finish.

Gustri Bhre berhasil masuk ke ruang itu tanpa kehilangan akar budaya Jawanya. Itulah yang saya rasakan di Mangkunegaran Run 2026. Budaya tidak ditempel sebagai ornamen, atau sekedar tema. Melainkan menjadi ruhnya.

Sebanyak 7.750 pelari dari berbagai daerah yang ikut meramaikan event dengan kategori 5K, 10K, dan Half Marathon diajak masuk ke “dimensi” Mangkunegaran dengan ragam suguhan pengalaman budaya. Seperti cheering point yang diisi puluhan komunitas seni dengan berbagai pertunjukan budaya di sepanjang jalur race. Ada juga permainan musik dan tari tradisional. Juga UMKM lokal yang manjajakan jajanan khas Solo.

Saya teringat salah satu bagian yang saya tulis dalam jurnal saya di JCPR, bahwa Mangkunegaran berhasil diposisikan sebagai living cultural institution, bukan sekadar situs budaya yang diam dan seremonial.

Dan saya rasa itu benar-benar terasa. Visi Culture–Future yang selama ini dibawa oleh Gusti Bhre bukan berhenti sebagai slogan. Ia diterjemahkan menjadi pengalaman nyata yang bisa dirasakan publik.

Mulai dari visual jersey dan medali yang sarat simbol budaya, keterlibatan komunitas lokal, aktivasi ruang kota, hingga cara event ini dikemas dengan sangat modern namun tetap punya identitas Jawa yang kuat.

Sebagai seseorang yang belajar komunikasi dan cultural branding, saya melihat ini sebagai sesuatu yang menarik secara akademik.

Tetapi sebagai peserta, saya melihatnya sebagai sesuatu yang menyentuh secara emosional. Dan mungkin itu alasan kenapa banyak orang gagal move on dari Mangkunegaran Run.

Karena yang dibawa pulang bukan hanya race pack atau foto-foto estetik untuk Instagram. Melainkan rasa. Rasa bahwa budaya ternyata bisa terasa dekat. Bisa terasa keren. Bisa terasa relevan. Dan bisa hidup berdampingan dengan generasi hari ini tanpa kehilangan akarnya.

Mungkin itu sebabnya saya mengagumi Gustri Bhre. Karena di tengah dunia yang bergerak sangat cepat, beliau tidak hanya menjaga budaya tetap hidup. Tetapi juga berhasil membuat anak muda jatuh cinta lagi padanya.

Dan pada akhirnya, mungkin di situlah kekuatan terbesar sebuah budaya: bukan pada seberapa lama ia bertahan, melainkan pada bagaimana ia mampu membuat orang merasa terhubung secara emosional dengannya.

Seperti kutipan Maya Angelou di awal tulisan ini, orang mungkin akan lupa siapa yang paling cepat mencapai garis finish di Mangkunegaran Run 2026. Orang mungkin lupa pace, catatan waktu, bahkan detail acaranya. Tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana event itu membuat mereka merasa disambut hangat. *

Kategori:
Tags:

Terkini