Oleh: Rizal Tanjung
—
I — SENJA YANG BERBICARA
Baca juga: Bilingual Poems on Happy World Book Day 2026 by Leni Marlina, Anto Narasoma and Ramli Djafar
Di ufuk yang retak oleh waktu,
matahari menggantung seperti luka yang enggan sembuh.
Zaman berjalan tanpa alas kaki,
menginjak dada manusia yang lupa bernapas dengan jiwa.
Di sini, sejarah bukan lagi cerita—
ia adalah jeritan yang dibungkam oleh kemajuan.
—
Baca juga: Sukses Festival Pantun ASEAN, Penyala Literasi Semesta Siap Gelar PIL-Fest 2026
II — JEJAK DI ATAS DEBU PERADABAN
Langkah manusia menulis dirinya di pasir,
lalu ombak datang membawa nama-nama yang hilang.
Siapa yang tersisa?
Hanya kesombongan yang membatu dalam dada kota.
—
III — HAK DAN BAYANG-BAYANG
Kebenaran berjalan seperti musafir tua,
dipandang asing oleh anak-anak zaman.
Sedang kebatilan berdandan dengan cahaya palsu,
menjual dirinya sebagai matahari baru.
—
IV — DOA YANG TERLUPA
Langit masih terbuka,
tetapi manusia menutup pintunya sendiri.
Doa berubah menjadi gema tanpa arah,
karena hati telah dijual pada keramaian.
—
V — CINTA YANG MENJERAT
Dunia adalah cermin yang licin,
siapa menatap terlalu lama akan tenggelam.
Cinta yang berlebihan menjadi racun,
manis di lidah, pahit di jiwa.
—
VI — KOTA TANPA NURANI
Gedung-gedung menjulang seperti doa yang membatu,
tetapi di dalamnya manusia kehilangan Tuhan.
Lampu-lampu kota adalah bintang buatan,
yang tak pernah mengerti gelap.
—
VII — AKHLAK YANG TERKUBUR
Di bawah beton dan transaksi,
akhlak dikubur tanpa nisan.
Manusia berdiri tegak,
tetapi jiwanya telah lama roboh.
—
VIII — PERANG DALAM DIRI
Tidak ada dentuman meriam,
namun dada manusia adalah medan perang.
Antara nafsu dan nurani,
antara ingin dan benar.
—
IX — ANAK ZAMAN TANPA AKAR
Mereka lahir dari layar,
dibesarkan oleh cahaya buatan.
Tak mengenal tanah,
tak mengenal asal.
—
X — SURAU YANG SEPI
Azan menggema,
namun manusia sibuk dengan bayang-bayangnya sendiri.
Surau menjadi rumah sunyi,
ditinggalkan oleh langkah yang kehilangan arah.
—
XI — PASAR YANG MENJUAL SEGALANYA
Di pasar zaman ini,
iman pun bisa ditukar.
Harga ditentukan oleh nafsu,
bukan oleh nilai.
—
XII — MANUSIA SEBAGAI BARANG DAGANGAN
Tubuh dipajang,
pikiran dijual,
dan harga diri ditimbang
dengan jumlah yang tak pernah cukup.
—
XIII — OLIGARKI BAYANG-BAYANG
Kekuasaan tidak lagi tampak,
ia bersembunyi di balik layar.
Menggerakkan dunia seperti boneka,
tanpa pernah terlihat wajahnya.
—
XIV — PERADABAN YANG LAPAR
Perut dunia tak pernah kenyang,
meski telah menelan gunung emas.
Ia terus meminta,
hingga manusia menjadi santapannya sendiri.
—
XV — GENERASI TANPA MAKNA
Mereka tahu segalanya,
kecuali arti hidup.
Mereka punya dunia di genggaman,
tetapi kehilangan arah pulang.
—
XVI — BISING TANPA SUARA
Zaman ini penuh suara,
tetapi kosong makna.
Semua berbicara,
tak ada yang mendengar.
—
XVII — TEKNOLOGI DAN KESEPIAN
Mesin menjadi teman,
manusia menjadi asing.
Semakin dekat layar,
semakin jauh hati.
—
XVIII — ILMU TANPA HIKMAH
Buku bertumpuk tinggi,
tetapi kebijaksanaan mengering.
Pengetahuan menjadi angka,
tanpa ruh yang menghidupkan.
—
XIX — PEMIMPIN TANPA CAHAYA
Mereka berdiri di atas panggung,
namun tak tahu arah langkah.
Kekuasaan menjadi mahkota,
tanpa amanah di dalamnya.
—
XX — RAKYAT TANPA SUARA
Mereka banyak,
tetapi tak terdengar.
Seperti buih di lautan,
indah namun tak berdaya.
—
XXI — ALAM YANG MENANGIS
Gunung retak,
laut mengamuk,
bumi berbicara dengan bencana—
tetapi manusia menutup telinga.
—
XXII — CINTA YANG TERDISTORSI
Cinta bukan lagi pengorbanan,
melainkan transaksi.
Ia kehilangan kesucian,
menjadi bayangan yang retak.
—
XXIII — IDENTITAS YANG HILANG
Manusia lupa siapa dirinya,
terlalu sibuk menjadi orang lain.
Ia kehilangan akar,
dan terbang tanpa arah.
—
XXIV — SENJA PERADABAN
Langit mulai redup,
warna-warna kehilangan makna.
Peradaban berdiri di tepi jurang,
menunggu langkah terakhir.
—
XXV — CAHAYA YANG TERSISA
Namun di antara gelap,
masih ada titik cahaya.
Kecil,
tetapi cukup untuk menuntun.
—
XXVI — PANGGILAN PULANG
Zaman memanggil dengan sunyi,
mengajak manusia kembali.
Ke akar,
ke Tuhan,
ke diri.
—
XXVII — PERLAWANAN SUNYI
Tidak dengan senjata,
tetapi dengan akhlak.
Tidak dengan teriakan,
tetapi dengan keteguhan.
—
XXVIII — IMAN SEBAGAI LENTERA
Di tengah gelap,
iman adalah cahaya.
Ia tidak membakar,
tetapi menerangi.
—
XXIX — FAJAR YANG DIJANJIKAN
Setiap malam memiliki batas,
setiap gelap memiliki akhir.
Fajar tidak pernah lupa,
untuk kembali.
—
XXX — KEMENANGAN CAHAYA
Pada akhirnya,
yang benar akan tetap berdiri.
Yang palsu akan runtuh
oleh beratnya sendiri.
Karena cahaya
tidak pernah kalah oleh bayang-bayang—
ia hanya menunggu
waktu untuk kembali bersinar.
—
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.



