Sabtu, 07 November 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

KATA SEKARANG: ILMU

DARI HAL REMEH HINGGA PERKARA BESAR

Perbincangan tentang ilmu kerap kali terjebak dalam menara gading akademik: dipandang sebatas deretan teori rumit di ruang kuliah atau lembar ijazah yang tersimpan rapi di dalam bingkai kaca. Namun, jika ditarik kembali ke akar realitas sosial, ilmu sejatinya adalah senjata bertahan hidup yang paling purba sekaligus paling mutakhir. Untuk memahami betapa krusialnya posisi ilmu dalam menopang peradaban manusia, ada dua kisah kontras yang layak kita renungkan bersama.

Sebagai ilustrasi pertama, mari menengok kisah dalam film Haq. Di sana, seorang istri berhadapan dengan suaminya yang merupakan seorang aparat hukum dan berusaha mempermainkan aturan demi kepentingan sepihak. Ia tidak bersandar pada belas kasihan, tidak pula merengek pada simpati publik. Sebaliknya, ia bersandar pada bacaan dan pemahaman mendalam atas teks-teks hukum serta Al-Qur’an. Dengan keteguhan hati yang luar biasa, ia menapaki jalan berliku hingga ke tingkat pengadilan tertinggi di India, dan akhirnya memenangkan haknya. Kemenangan itu lahir bukan dari ledakan emosi, melainkan dari ilmu yang kokoh sebagai pegangan.

Baca juga: DAVID RUMANSARA HIBAHKAN TANAH TANPA BAYAR UNTUK KOPERASI MERAH PUTIH: DARI HALAMAN RUMAH, TUMBUH HARAPAN BARU KESEJAHTERAAN MASYARAKAT ADAT BIAK

Hal-hal yang hari ini sering kali dianggap remeh oleh masyarakat modern—seperti membaca, memahami, menafsirkan, dan menelaah data—ternyata merupakan kunci utama dalam menghadapi perkara-perkara besar. Dari urusan domestik rumah tangga hingga sidang peradilan tertinggi, ilmu menempati posisi yang tak tergantikan. Ia bukan sekadar hiasan intelektual di atas kertas, melainkan pelita yang menuntun langkah di tengah gelapnya kelicikan. Tanpa ilmu, manusia sangat mudah diperdaya oleh sistem; sebaliknya, dengan ilmu, ia mampu menulis takdirnya sendiri dengan penuh kehormatan.

Refleksi ini tidak hanya berlaku dalam skala mikro individu, melainkan juga dalam skala makro geopolitik sebuah bangsa.

Ambil contoh bagaimana Amerika Serikat dengan segala kedigdayaan teknologi, tipu daya intelijen, serta jaringan sekutunya berulang kali mencoba menundukkan Iran melalui tekanan ekonomi dan politik. Namun, Iran tidak pernah menyerah pada hegemoni tersebut. Propaganda berlapis, blokade ekonomi yang mencekik, hingga eskalasi pertempuran yang memuncak pada Februari 2026 justru memperlihatkan kenyataan yang sebaliknya: rakyat dan pemerintah Iran menjadikan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi strategis sebagai panglima. Mereka tidak sekadar melawan dengan amarah, melainkan membaca dinamika global, memahami peta kekuatan musuh, dan menguasai strategi pertahanan, sehingga mereka tetap berdiri tegak dan tidak mudah ditaklukkan.

Baca juga: DEWAN ADAT PAPUA TETAPKAN 2 NOVEMBER SEBAGAI HARI PERKABUNGAN NASIONAL BANGSA PAPUA: WUJUD PENGHORMATAN ATAS PENGABDIAN MANANWIR YAN PIETER YARANGGA

Baik perjuangan gigih seorang istri di ruang pengadilan maupun keteguhan sebuah bangsa di kancah global menunjukkan satu benang merah yang sama: ilmu bukanlah pilihan sekunder. Ia adalah fardlu ‘ain—sebuah kewajiban mutlak yang menjaga martabat kemanusiaan, membentengi kedaulatan, dan menentukan arah hidup dari perkara yang paling kecil hingga urusan paling besar yang menentukan hidup-mati sebuah peradaban.

Untuk tulisan lain silakan kunjungi:
🌐 Jejak Karya & Platform Yusufachmad Bilintention
• 📺 YouTube → youtube.com/@bilintention
• 📖 Blogspot → yusufachmad-bilintention.blogspot.com
• 📰 Kompasiana → kompasiana.com/yusufachmad7283
• 📷 Instagram → @yusufachmad2018
• 📘 Facebook → facebook.com/profile.php?id=61559794614211
• 🌐 Suara Anak Negeri News → suaraanaknegerinews.com
• ✍️ Medium → medium.com/@yusufachmad2018
• 📑 Flipboard → flipboard.com/@yusufachmad4bpu
• 💼 LinkedIn → linkedin.com/in/yusuf-achmad-3b89632b6
• 🕊️ X (Twitter) → x.com/yusufachma84290

Kategori:
Tags:

Terkini