Cerpen
–
“Hidup dimulai atas sejengkal tanah.” Kata-kata itu selalu diucapkan Tuan Patani kepada para petani yang suka ragu akan hak mereka atas tanah. “Keraguan sumber ketakutan dan ketidakpercayaan.”
Tuan Patani yang hadir di sini menjumpai pembaca, mungkin dapat dipandang oleh yang mulia pembaca sebagai suatu riwayat atau penggambaran sosok tokoh atau petanda sejarah, atau hanya sepotong narasi yang menggugurkan dedaun dan reranting nasib malang petani. Ada pun Tuan Patani ini dikenal sebagai orang yang kerap terlibat dalam aktivisme advokasi bagi kaum tani. Dia secara tekun menelusuri setiap jejak kasus petani dan tanahnya dari masa Orde Baru seperti kasus petani Kedungombo dan Lapindo hingga yang terkini kasus pulau Rempang. Atas pendalaman dan pendangkalan kasus ini dia bilang: “Di bumi agraris ini, sudah selayaknya hukum agraria harus berpihak kepada kaum tani apabila terjadi kasus yang terkait persoalan petani dan tanahnya, dan ini telah menjadi pemetaan dari persoalan tanah nasional,” demikian Tuan Patani.
Tuan Patani dikenal sebagai petani yang pemberani dan pintar. Dia membela dan memperjuangkan hak-hak petani atas tanah dan maju di front terdepan melakukan aksi-aksi bersama kaum tani. Dia juga dinilai memiliki keluasan pikiran dalam soal pertanian, tanah dan hukum serta mengangkat marwah petani pada tiap langkah dan perjuangannya. Dialah satu-satunya petani yang dipanggil dengan sebutan Tuan.
Baca juga: MAMAD
Meski sangat diagugkan dengan sebutan tuan, dia tak punya kepedulian dengan nama. Dia anggap nama hanya sekedar penanda. Toh dia hanya memaknai dirinya sebagai orang biasa, berasal dari keluarga biasa, menjalani hidup dengan cara biasa dan berpikir juga dengan otak biasa. Soal nama baginya hanya urusan enteng, bukan sesuatu yang berat atau serius.
Tapi orang luar sudah terlanjur awal memanggilnya Tuan Patani. Para tetangganya pun jadi ikut memanggilnya Tuan Patani. Bahkan mereka yang berasl sebagai orang keturunan, kaum bangsawan dan tuan tanah ikut memanggil Tuan Patani, meski dengan agak berat hati tentunya. Mereka tak tahu sebab musabab apa memanggilnya Tuan Patani? Mereka hanya tahu setiap orang luar yang datang ke rumah Kobong, orang-orang itu memanggilnya dengan sebutan Tuan Patani. Mereka melihat ada yang istimewa dan hebat dari cara orang-orang luar itu memanggilnya Tuan Patani.
Kepada para tetangganya, Tuan Patani katakan: “Saya tak dapat mencegah atau menolak orang memanggil saya dengan panggilan Tuan Patani, juga tak bangga pun peduli. Tapi saya lebih suka dipanggil orang dengan sebutan Kobong saja.”
Baca juga: POLITISI YANG BERTEMU MALAIKAT DI TENGAH KEBAKARAN HUTAN
—–***—–
Kobong, demikian dia menyebut namanya kepada para petani di desanya. Nama Kobong dibawanya sebagai penanda dirinya yang berasal dari kalangan santri, sebagaimana tempat dia belajar agama di pesantren tradisional- para murid atau santri di sana tinggal di dalam kobong-kobong (gubuk, rumah kecil). Para santri itu kemudian sering dipanggil warga setempat sebagai santri kobong.
Para santri kobong belajar ilmu agama secara tradisional dengan menekuni kitab-kitab klasik atau yang umum disebut kitab kuning. Jumlah santri kobong terbatas, ada yang berjumlah 100 santri, 50 santri atau bahkan di bawah 10 santri. Para santri kobong bila lulus dari pesantren kobong ini mereka semua tidak beroleh ijazah, sehingga tak ada dari mereka yang tersangkut kasus ijazah palsu.
Para santri kobong ini selain belajar, juga punya kebiasaan membantu kyai untuk keperluan sehari-hari, termasuk ikut bekerja menggarap sawah milik kyai atau pesantren. Mereka secara langsung dan tak langsung belajar berinteraksi dengan warga setempat mengikuti adab yang dicontohkan kyai di dalam dan di luar pesantren. Kobong, atau Tuan Patani, dalam perjalanannya belajar mengaji, nyantri dari satu pesantren ke pesantren lain, dari satu guru ke guru lain.
Di pesantren Kobong dikenal sebagai santri yang cerdas dan berani. Selain itu dia juga pandai bicara. Pada awal mulai nyantri, salah seorang temannya Rivai bertanya padanya:
“Masduri, kamu memang mau menjadi kyai belajar di pesantren ini?”
Masduri atau Kobong menjawab: “Saya ingin menjadi Tuan….entah itu Tuan Kyai atau Tuan apa saja.”
Ternyata jawabanya itu memang menjadi kenyataan. Dirinya dipanggil dengan Tuan Patani sekarang.
—–***—–
Masduri kecil dahulunya oleh ayahnya disuruh pergi nyantri belajar ilmu agama di kampung Sabrang, Ayahnya yang seorang petani ingin anaknya dapat menimba ilmu agama supaya Masduri kecil nanti besarnya menjadi santri atau orang alim, syukur-syukur dapat menjadi kyai. Dari pesantren kampung Sabrang di daerah Banten itu, Masduri kemudian pergi melanjutkan nyantri ke daerah Jawa, hingga sampai ke Madura. Dari pembelajarannya nyantri di berbagai pesantren dan banyak kyai, dia berhasil menguasai berbagai ilmu agama. Tapi yang aneh dan mengagumkan, teman-teman dan kalangan pesantren menganggap Masduri memiliki ilmu kebijaksanaan.
Ilmu kebijaksanaan ini tak sembarang orang, tak banyak dimiliki oleh orang atau santri. Para kyai menjelaskan kepada para santri bahwa ilmu kebijaksanaan bukan didapatkan dari pembelajaran. Tapi seperti sebuah berkah yang diberikan Allah SWT kepada seseorang yang terpilih. Dan Masduri dipercaya memiliki ilmu kebijaksanaan itu, sebagai yang tawadhu, tawakal dan tak pamrih.
Lantas apa ilmu kebijaksanaan Masduri itu? Masduri sendiri tak merasa dia punya ilmu setinggi itu. Dia selalu bilang dia hanya orang biasa hidup dengan cara biasa dan berpikir dengan otak biasa. Tapi orang-orang selalu saja percaya Masduri punya kelebihan khusus.
Pertama, kharisma. Dimana pun Masduri berada, di pesantren atau di luar pesantren, dia disukai dan dihormati. Kedua, kepercayaan. Segala yang dikatakan, disikapi dan dilakukan Masduri, orang percaya itu sebagai sesuatu yang benar. Ketiga, dia dapat melihat yang tak dapat dilihat atau dipandang, dan pandangannya jauh ke depan.
Selang waktu, dia meminta izin kepada kyai untuk diberi kesempatan mengurus sawah kyai atau pesantren untuk mengamalkan ilmu agama di bidang pertanian. Alasannya karena pembelajarannya di pesantren hampir tamat dan dia perlu mendalami ilmu hidup, dan kehidupan yang paling dekat adalah menjadi petani.
Kyai Icot pimpinan pesantren kobong kampung Sabrang agak heran mendengar permintaan Masduri. Karena umumnya orang yang semakin berilmu semakin menjauh dari sawah. Tapi muridnya Masduri ingin sepenuhnya mendekat dengan sawah mengurus tanah pertanian.
Teman-teman santri lebih terkaget-kaget. Masduri yang sebentar lagi tamat, semestinya dapat santai menikmati hari-hari kelulusannya dari pesantren. Atau datang ke kyai meminta untuk dicarikan pasangan untuk menikah setelah kelulusannya. Ternyata malah meminta mengurus sawah menjadi petani.
Kepada teman-temannya itu Masduri secara bercanda bilang: “Kita harus berpikir pertama tentang tanah atau sawah, setelah itu berpikir tentang rumah, kemudian baru berpikir menikah.”
Teman-temannya tertawa. Senang. karena dapat pemandangan dengan cara yang menyenangkan. Kyai Icot hanya senyum-senyum dari jauh mendengar percakapan santrinya.
—–*****——
Dunia Kobong seperti angin musim yang pergi ke barat tiba-tiba Masduri bergerak cepat dari dunia santri ke dunia petani. Tak peduli burung-burung terbang hingga ke kutub utara, dia hanya tinggal di pematang-pematang sawah bersama para petani. Menekuni tanah sawah yang suka pergi atau bertukar dari hak petani kepada si penguasa yang senang bertindak sewenang-wenang.
Dia mulai bercakap-cakap bersama kaum tani.
Sejengkal tanah harus dipertahankan, karena itu menyangkut eksistensi negara. Demkian yang sering didengung-dengungkan pembesar negeri. Tapi tanah petani tak memiliki arti untuk ddipertahankan. Petani mudah sekali kehilangan tanahnya, atas nama negara atau pembangunan, termasuk pembangunan lapangan golf atau pembangunan hotel demi alasan kemajuan pariwisata. Nilai tanah selalu kalah dengan nilai mata uang.
Itu ketidakadilan yang sering dihadapi petani, dan membuat petani harus berpikir kenapa arti sejengkal tanah bisa berbeda. Sama-sama tanah. Sama-sama sejengkal. Hanya subjeknya yang berbeda: Negara dan petani. Subjek? Kalau negara berdiri sebagai subjek hukum, petani juga subjek hukum, bukan. Tapi dalam kenyataan, negara dengan mudahnya memposisikan dirinya subjek, sedang petani hanya diposisikan sebagai objek.
Bagaimana membawa petani sebagai subjek? Mungkin petani tahu ini sulit karena mereka sedari dulu dianggap minim pendidikan atau buta huruf, sehingga sulit memposisikan diri sebagai subjek. Tapi Kobong berkata kepada kawan-kawannya pembela kaum tani bahwa pembelaan atas nasib petani harus dilakukan secara langsung turun ke bawah lewat advokasi atas kasus-kasus hukum pertanahan, naik ke atas dengan merumuskan konsep perundang-undangan dan peraturan di bawahnya yang secara tegas berpihak kepada petani dan mampu menciptakan ekosistem petani, penguatan lahan pertanian dan lingkungannya sehingga kehidupan petani terjaga dan taraf penghidupannya meningkat maksimal serta sejahtera.
Tapi advokasi terhadap petani seringkali berhadapan dengan hukum. Pembelaan kepada nasib petani dianggap sebagai tindakana melawan hukum, melawan pemerintah atau negara. Dan mereka dengan mudah atas nama hukum dan kekuasaan dilucuti, dikriminalisasi, dikambinghitamkan, tak terkecuali Tuan Patani.
*****——
“Apa arti kedaulatan pangan saudara-sauaraku kaum tani?” tanya Tuan Patani.
Orang-orang itu, para petani,para tetangga dan kawannya, hanya terpaku diam. Tak ada yang menjawab.
Bagi Kobong ini bukan persoalan mereka tidk mengerti. Tapi kepada persoalan bahasa. Persoalan bahasa bukan sederhana. Bahasa bisa juga menjadi problem untuk menindas. Penindasan atau keterindasan seringkali dimulai dengan ketidaktahuan atau ketidakmengertian, bukan.
Ora opo-opo. Ewisss, kalau begitu apa arti swasembada pangan? Tanya ulang Tuan Patani.
Seseorang di antara mereka menjawab: “Panen berhasil”. Disusul yang lain: “Panen berlimpah.”
Tuan Patani kembali menyakini bahwa bahasa bisa menidas. “Iya cocok semua. Sing mantab jawabannya.”
Kepada teman-temannya dari luar daerah yang datang ke rumahnya Tuan Patani selalu menegaskan tentang konsep perundang-undangan dan konsep bahasa. Bahwa bahasa undang-undang dan peraturan-peraturan di bawahnya harus lebih jelas, sederhana, ringan, mudah dipahami daripada bahasa Undang-Undang Dasar.
—–*****——
Suara Tuan Patani dianggap suara kemerdekaan kaum tani. Dia tak cukup bicara tentang bibit, pupuk dan teknis pertanian. Dia bicara atas nilai-nilai, dan segala yang tak mungkin bagi petani. Ini salah satu percakapan dan pidatonya di depan rapat pleno advokasi kaum tani.
Jangan pernah takut untuk bicara
Karena hanya kentut yang tak pantas
didengar
Persoalan tanah bukan berkurang, tapi semakin bertambah dan krusial di republik ini, dan yang paling sering menjadi objek dari persoalan adalah petani. Banyak kasus tanah yang mengakibatkan kerusuhan, dan petani bukan mendapatkan haknya malahan dikejar-kejar dan diintimdasi.
“Di alam kemerdekaan, semestinya tak boleh lagi hak petani dikangkangi penguasa. Di zaman kolonial Belanda petani kita ditindas habis-habisan. Dipaksa ini itu. Dipaksa kerja paksa, tanam paksa. Nasib petani seperti tercerabut dari dunia ini, miskin dan mienderita. Sekarang pun masih banyak yang miskin dan menderita. Apakah nasib petani ini akan miskin dan menderia selamanya? Masalah yang mendasar adalah kebebasan, ketidakadilan dan potensi kekerasan.
Apa arti kebebasan bagi petani? Bnyak yang tertawa bila petani bicara kebebasan. Untuk apa kebebasan? Yang penting cukup makan, cukup sandang. Kebebasan penting untuk menunjukkan diri sebagai manusia, bukan sapi perah. Alam kemerdekaan harus memanusiakan manusia, bukan memeras manusia.
Bagaimana ketidakadilan terhadap petani? Apa keadilan? Keadialn telah menjadi sesuatu yang mahal dan jauh di negeri ini. Setiap kali kita menuntut keadilan, jawabannya adalah maut. Karenanya kehidupan banyak diwarnai ketakutan oleh terror. Di alam kemerdekaan ini harusnya tak boleh ada lagi ketakutan dan terror. Kita harus menggali dalam-dalam untuk mengubur ketakutan dan semua terror itu.
Dan potensi kekerasan? Jangan pernah toleran kepada kekerasan. Tindak kekerasan dan bahasa kekerasan itu mematikan kebebasan dan melucuti keadilan. Sekarang ini bahasa kekerasan mewabah di mana-mana. Dan itu ada di atas kesadaran dan ketidaksadaran kita. Kalau petani diserang atau ditekan itu kekerasan, kalau petani melawan itu bukan kekerasan, tapi perjuangan.
Petani tempatnya di desa, buruh tempatnya di kota
Buruh terasing di kota, Petani terkugkung di desa
Dua saudara senasib sependerita
—–*****——
Di suatu siang yang panas mentereng, Tuan Patani tiba-tiba merasa lelah, tubuhnya seperti digelayuti sosok-sosok yang menempel ke tubuhnya. Saking lelahnya dia merebahkan diri di kamar dan tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi kedapatan sesuatu yang mencemaskan dan mencekam, dimana suasana yang tergambar menakutkan dirinya, sawah dipenuhi pagar-pagar kawat laksana sebuah kamp penjara, dan tak ada seorang yang memanggil Tuan Patani, tinggal di sana suara-suara di luar menerikan namanya sebagai Si Bisu.
Ketika terbangun dari mimpinya dia benar-benar kaget. Ternyata mimpinya telah mendahului kesadaran dirinya. Siang itu dia tiba-tiba jadi bisu. Tak dapat berkata tak dapat memanggil. Suaranya hilang. Dia lari ke cermin. Memelotinya mulutnya yang tak lagi bisa bicara. Membuka mulutnya memonyong-monyongkannya menekan-nekan menepuk-nepukmya keras-keras dengan tangannya. benar-benar tak ada suara, tak mampu bicara. Dia tarik-tarik kupingnya tak mau bicara, dia tekan-tekan dan tutup hidungnya juga tak mampu bicara.
Dia kesal dia sedih dia marah dia tiba-tiba seperti hilang kesadaran dia pergi ke luar dia buka pintu rumahnya dia kaget pagar rumahnya penuh kawat-kawat, sekeling sawah penuh kawat kawat bahkan tubuhnya sendiri mulai terasa terikat kawat-kawat. Dia mencari orang tak ada orang. Dia memanggil-manggil berteriak-teriak, dia lupa dia sudah tak bisa lagi bicara. Dia meronta-ronta tangan dan tubuhnya menghentak-hentak kakinya terus meronta-ronta terus menghentak-hentak sampai sebuah bogem keras meninju wajahnya.seketika dia tersungkur dan pingsan.
Ketika dia tersadar tubuhnya sudah terikat, terpasung di sangkar besi. Dan tampak di luar suara orang ramai. Orang-orang atau kawan-kawan dan para tetangganya yang datang merasa iba dan sedih Sekumpulan anak-anak tiba-tiba muncul berkerumun di depan sangkar besi melihat sosok aneh dirinya mengendap-ngendap mengerus-ngerus melunta-lunta membuka mulutnya membengkok-bengkokan tanpa suara dan anak-anak itu ramai-ramai memanggilnya: “Si Bisu…si Bisuuu.”
“Dia dipasung karena penyakit ayan yang diderita waktu kecil tiba-tiba kambuh dan dapat membahayakan orang banyak,” demikian seseorang dari keluarganya yang tentara menerangkan kepada khalayak ramai.
“Anda siapanya?” tanya Rivai kawan dekat Masduri saat nyantri.
“Saya kakaknya.”
“Anda tentara?”
“Kenapa tanya-tanya tentara segala?”
“Anda tentara?”
“Ya kalau saya tentara emang urusannya apa?”
“Ya urusannya anda tentara!”
“Mau menuduh? Kamu jangan berpikir yang bukan-bukan ya?”
“Saya kawan Masduri nyantri sejak kecil. Masduri sama sekali tak punya riwayat penyakit, apalagi penyakit ayan.”
“Kamu sok tahu. Kami keluarganya pasti lebih tahu.”
“Kami tak percaya. Ini penyiksaan!”
“Kami keluarganya. Tak mungkin kami menyiksanya.”
“Siapa bilang tak mungkin. Sekarang segala kenyataan mungkin. Orang tua bunuh anak, anak bunuh orang tua. Keluarga sakling bunuh sudah biasa. Ini penyiksaan!”
“Jadi maumu apa?”
“Lepaskan Masduri!”
“Kami keluarganya!”
“Anda tentara!”
“Memagnya kenapa?”
“Kami sudah lama tak percaya.”
“Jadi kamu mau apa?”
“Ini penyiksaan! Kami akan mermbawanya dan membebaskan dari penyiksaan ini.”
“Tidak bisa. Kami keluarganya.”
“Kami akan membawanya, sebelum polisi datang kemari menangkap anda!”
Beberapa saat kyai Icot yang tersohor datang dan mengambil Masduri yang mengendap-ngendap di dalam sangkar besi.
“Kami akan membawanya,” ucap Kyai Icot yang memanggul tubuh Masduri pendek. Tentara itu diam tanpa suara. Tak bergeming.
——*****——
Sebelum pembungkaman dan penyiksaan atas dirinya itu terjadi, Tuan Patani tahu dirinya mulai tak aman. Kemana-mana dia diikuti sesosok bayangan, kemudian bayangan itu muncul, lebih sering lagi secara bersembunyi mengendap di kegelapan.
Melihat situasi semakin tidak aman dan mengancam dirinya, Tuan Patani mengantisipasi kemungkinan yang terburuk atas dirinya segera mengundang kolega-koleganya untuk berkumpul di rumahnya untuk membicarakan hal tersebut.
Kolega-koleganya para petani dari berbagai daerah datang memenuhi undangan. Pertemuan semacam rapat khusus itu membawa Tuan Patani bicara tentang keamanan dirinya sebagai simbol perjuangan dan pergerakan kaum tani.
Kepada para petani dari berbagai daerah yang datang ke rumahnya sore itu dia bilang: “Teman-teman seperjuangan. Jadi, setelah saya bicara dalam rapat pleno kemarin, suara angin di luar seketika mengeras. Bakal ada ujian yang bakal menimpa kepada saya. Sudah mulai ada desas-desus katanya bilang saya orang komunis. Sebelum hal ini melewati sampai batas yang jauh, mengoyak-ngoyak perjuangan kita petani, saya minta kesediaan teman-teman untuk menghadirkan martir-martir Tuan Patani di berbagai tempat, di berbagai daerah di Banten ini, di Pandeglang, Serang, Tangerang, Lebak Malimping, Rngkas Bitung dan sebagainya. Teman-teman ciptakan seribu Tuan Patani menyebar dari Jawa, Bali, Lombok, Sumatera hingga Papua.”
Setelah Tuan Patani selesai bicara pertemuan selesai, dan para petani itu langsung keluar, bergerak menyebar membawa pesan Tuan Patani ke berbagai tempat, daerah dan pelosok. Pesan itu telah menghidupkan perjuangan, telah membangun kekuatan, telah menumbuhkan keberanian dan mencipta martir-martir Tuan Patani. Tuan Patani telah menjadi inspirasi, telah menjadi simbol perjuangan para petani.
Tuan Patani meneguhkan kenyataan atas kenyataan.
Dari sebatang tumbuh berbatang-batang
Dari pematang terbentang tinggi harapan
Kemerdekaan kaum tani
Gerakan dan perjuangan Tuan Patani yang kian meluas sebagai antisipasi atas tekanan dan terror yang dihadapi. Beberapa kali sekelompok orang mendatangi dan mencegatnya di jalan untuk menghentikan aktivismenya membela petani, beberapa kali kecelakaan kecil menimpa dirinya. Sosok-sosok bayang yang mengintai dan menempel dirinya semakin tegas, keluar dari tempat persembunyian. Mereka ingin menghabisi Tuan Patani, namun tak berani ertindak lebih jauh. Kalau komandan-komandan itu berani bertindak jauh menyuruh anak buah. Sebelum itu terlaksana komandan-komandan itu pasti sudah digeser atau dimutasi ke daerah-daerah yang jauh.
Hingga segala seuatunya tentang Tuan Patani dilimpahkan lewat siasat dan urusan keluarga. Si tentara itu yang mematikan hidup Tuan Patani. Dia tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan Tuan Patani, dan mengambil semua mimpi Tuan Patani, dan menggantinya dengan kehancuran yang tiba-tiba. Menutup semua pintu dan jendela rumah Tuan Patani. Membuat Tuan Patani sendiri dan tak bisa keluar. Menghanyutkannya dalam situasi hampa, mencengkramnya lewat terror dan siksaan hingga Tuan Patani menjadi bisu.
Belakangan baru diketahui tekanan dan teror bertubi-tubi datang mengancam nyawa Tuan Patani, setelah dia aktif dalam gerakan Anti-Sawit.
Tuan Patani terlibat dalam gerakan Anti-Sawit setelah melihat perkembangan lahan-lahan hutan dan pertanian berubah menjadi perkebunan sawit yang semakin luas dan membahayakan lingkungan. Sawit menciptakan problem hancurnya keanekaragaman hayati dan kerusakan tanah. Hutan yang memiliki ragam jenis pohon dan tanaman akan hilang dan berganti dengan satu jenis saja: Sawit. Hal ini akan merusak ekosistem dan lingkungan.
Sosok-sosok bayang itu semakin mendekat dan semakin nyata. Tidak lagi bersembunyi di kegelapan. Secara terang-terangan datang kepadanya dan menyerahkan secarik kertas, lantas pergi.
Di dalam kertas berisi tulisan pendek, dengan nada mengancam:
“Hati-hati! Jangan Main-Main Dengan Sawit!”
——*****_____
Masduri dirawat di pesantren dalam pengawasan Rivai, kawan kecilnya. Dalam beberapa minggu kondisi mulai terlihat normal. Badannya mulai berisi tak sekurus yang kemarin. Wajahnya membersitkan harapan hidup
Rivai selalu menemani kawannya itu, bercerita tentang hal-hal tentang masa lalu yang pernah mereka lewati bersama di pesantren, dan mengajak Masduri bercakap-cakap walau dia tahu Masduri tak mungkin bercakap-cakap.
Tiap minggu Kyai Icot memanggil Rivai menanyakan kabar dan kesehatan Masduri.
“Alhamdulillah Kyai. Kesehatannya sudah membaik dan pulih.”
“Apa dia sudah bisa jalan?
“Sudah Kyai. Dia juga sudah mulai.bantu-bantu mengurus keperluan pesantren. Hanya dia tak bisa bicara. Apakah itu tak dapat disembuhkan Kyai?”
“Baik. Kalau begitu besok pagi kau bawa dia kemari menemuiku.”
“Baik Kyai.”
Rivai kemudian mohon izin dan meninggalkan ruangan Kyai Icot. Dia menuju kamar Masduri dan memberitahukan kepadanya besok pagi Kyai ingin bertemu dengannya. Masduri tampak senang mendengarnya dan memeluk kawannya itu sebagai ungkapan kasih dan terima kasih. Masduri merasa senang akan dapat kembali bertemu dan menatap wajah lembut pak Kyai.
Pagi itu Rivai mempertemukan Masduri kepada Kyai.
“Duduk Masduri,” ucap Kyai
Masduri duduk bersila di hadapan Kyai Icot.
“Rivai kau mau ke mana? Duduklah.” Kyai meminta Rivai yang ingin meninggalkan ruangan untuk tetap tinggal di sana.
“Jadi, kamu sudah baikan Masduri sekarang?”
Masduri hanya menjawab dengan tersenyum.
“Jadi, kau suka berada kembali di sini?”
Masduri kembali menjawab dengan tersenyum.
“Jadi, kau mau apa sekarang?”
Kali ini dia tidak tersenyum. Dia hanya menundukkan kepalanya.
“Jawab, Masduri,” kata Kyai.
Masduri menganggat wajahnya. Mencoba membuka mulutnya. Tapi dia tak bisa menjawab.
“Jawab!” ulang Kyai
“Masduri mengatup-ngatupkan mulutnya, menebal-nebalkan bibirnya dengan lidahnya. Tapi tak juga ada suara menjawab.
“Jawab Masduri!” ulang Kyai untuk ketiga kali
“Masduri mencecak-cecakkan lidahnya, menebalkan bibirnya, membuka mulutnya lebar tapi tak juga ada suara menjawab.
Kyai Icot meraih bagian atas kepalanya, membuka sorbannnya.. dalam sejurus gerakan yang demikian cepat, dia lesatkankan kain sorbannya tiga kali mengepret Masduri mengenai bagian mulut, bibir dan lidahnya.
Tubuh Masduri roboh dan pingsan terkena sabetan sorban Kyai Icot yang penuh tenaga dalam, wajahnya tampak terkulai dan lidahnya tertari menjulur ke luar. Kyai Icot meminta Rivai mengambil segelas air putih. Rivai segera membawakannya kepada Kyai Icot. Setelah membacakan surat al-fatihah, Kyai Icot meminta Rivai membangunkan Masduri dari pingsannya dan memberikan segelas air putih untuk diminumnya.
Masduri siuman dan meminum air putih itu. Dia tersandar dan menatap kepada Kyai Icot.
“Maaf Kyai, sakit Kyai.”
Rivai tersenyum dan senang mendengar keluhan bicara kepada Kyai.
“Nah, kau bicara,” ucap Kyai.”
Masduri terkaget dan heran. Diulangnya lagi.
“Nah, saya bicara.,” terdengar suaranya lebih jelas. “Benar, saya bicara. Saya bisa bicara, Kyai.”
Masduri menabrak tubuh Kyai, memeluknya sambil menangis haru.
“Alhamdulillah, bersyukurlah,” ucap Kyai.
Rivai yang terharu melihat adegan itu mengucap syukur, senang., “Alhamdulillah, Iya kau sudah bicara Masduri.”
Masduri datang kepada Rivai dan memeluknya. Rivai balas memeluknya erat-erat.
Kesembuhan Masduri dirayakan dengan syukuran di lingkungan pesantren. Beberapa bulan kemudian Masduri telah diangkat Kyai mengajar di pesantren. Setahun setelah itu Kyai Icot wafat, dan dalam pesan terakhirnya Masduri yang akan menggantikannnya memimpin pesantren.
Orang-orang mulai memanggil Kyai Masduri dengan sapaan Tuan Kyai. Para petani, kawan-kawannya dulu, datang dan juga memanggilnya dengan Tuan Kyai. Kepadanya Rivai berujar dengan kata-kata candaan: “Jadi, Tuan Kyai sekarang. Kemana Tuan Patani?”
Para petani pada geerrr tertawa. Tuan Kyai senyum lebar. Dan sebentar kemudian berkata kepada semua. “Di daerah Banten ini, Petani dan Kyai telah lama bersatu. Sebagai satu tubuh. Yang tak mungkin tercerai berai.”
Kemudian Tuan Kyai bercerita tentang peristiwa pemberontakan petani Banten terhadap penguasa kolonial Belanda di tahun 1880. Pemberontakan petani Banten menentang penindasan kaum kolonial yang melibatkan para bupati itu terjadi karena kesatupaduan petani dan kyai. “Jadi, sekarang saya dipanggil orang Tuan Kyai. Tapi, Tuan Patani juga tidak mati. Dia menjadi seribu Tuan Patani yang menyebar ke berbagai daerah se-nusantara. Martir-martir Tuan Patani.”
——– s e l e s a I ———



