Sabtu, 31 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

KETIKA SUARA MENJADI DOA: KEEROM MENGGEMA DI PUNCAK MAZMUR DEWASA PESPARANI II PAPUA

BIAK, PAPUA — SUARA ANAK NEGERI| Ada saat ketika suara tidak saja terdengar, tetapi menjelma menjadi doa. Ada nada yang tidak hanya mengalun di antara dinding gereja, tetapi juga membawa pesan iman yang menyentuh ruang batin manusia. Itulah makna yang terasa dalam Lomba Mazmur Dewasa Pesparani II Tingkat Provinsi Papua, Jumat (30/10/2026), di Aula Paroki Kerahiman Ilahi, Biak.

Di tengah persaingan empat kontingen, Kabupaten Keerom tampil sebagai pemilik suara terbaik. Dengan perolehan nilai 81,53, Keerom berhasil meraih predikat Emas 1, sekaligus menempatkan dirinya di puncak kompetisi Mazmur Dewasa.

Angka itu tertulis dalam lembar penilaian dewan juri. Di baliknya terdapat ketekunan berlatih, kemampuan mengendalikan suara, ketepatan membaca melodi, serta keberanian menghadirkan penghayatan dalam setiap larik mazmur.

Baca juga: Kota Jayapura Memimpin Klasemen Medali Pesparani II Papua 2026, Biak Numfor Tunjukkan Daya Saing

Kabupaten Biak Numfor menyusul dengan predikat Emas 2, memperoleh nilai 81,00. Kota Jayapura menempati posisi Emas 3 dengan nilai 80,00, sedangkan Kabupaten Waropen meraih Perak 1 dengan nilai 78,65.

Selisih 0,53 poin antara Keerom dan Biak Numfor memperlihatkan betapa tipis jarak di antara para peserta terbaik. Dalam kompetisi seperti ini, kemenangan sering kali ditentukan oleh detail-detail kecil: satu tarikan napas, satu ketepatan pengucapan, satu penggalan frase, hingga kemampuan menjaga kejernihan suara ketika nada bergerak menuju puncaknya.

Namun, di balik kompetisi, para juri menyampaikan pesan yang lebih mendalam: mazmur harus dinyanyikan dengan benar, melalui suara yang dihidupkan.

Baca juga: GEMA KALATIDHA DI GEDUNG-GEDUNG KERTAS

Napas Diafragma, Ketika Teknik Menjadi Kekuatan Suara

Ketua Dewan Juri, Alexander Lodeweyk Kolatlena, memberikan perhatian khusus pada teknik pernapasan diafragma. Baginya, kemampuan seorang pemasmur tidak cukup diukur dari keindahan warna suara, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan napas agar setiap frase dapat disampaikan secara utuh.

Pernapasan diafragma menjadi fondasi penting untuk menjaga kestabilan suara, menghasilkan sonoritas yang baik, serta mempertahankan kejernihan artikulasi.

Ia mengingatkan para pelatih agar memberikan perhatian serius terhadap aspek tersebut, terutama dalam mempersiapkan peserta yang kelak mewakili daerah pada jenjang kompetisi berikutnya.

Namun, Kolatlena tidak berhenti pada urusan teknis. Ia juga menggarisbawahi pentingnya ekspresi dan penghayatan jiwa.

Dengan demikian, keindahan mazmur tidak hanya terletak pada suara yang merdu, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan makna melalui nyanyian.

Suara yang Baik Membutuhkan Artikulasi dan Dinamika

Anggota Dewan Juri, Redi Fatubun, melihat adanya perkembangan positif dalam kualitas vokal para peserta. Secara umum, kemampuan suara mulai menunjukkan peningkatan, meskipun masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperkuat.

Artikulasi, dinamika, dan pengelolaan frase menjadi beberapa catatan penting dalam evaluasinya.

Menurut Fatubun, suara yang baik harus disertai kejelasan pengucapan. Dinamika juga perlu dikelola secara tepat agar nyanyian memiliki kehidupan, tetapi tidak kehilangan karakter liturgisnya.

Ia turut menyoroti kegugupan yang kerap menjadi penghalang bagi peserta untuk menampilkan kemampuan terbaik. Persiapan panjang dalam latihan terkadang tidak seluruhnya muncul ketika seseorang berhadapan dengan panggung dan perhatian penonton.

Kepercayaan diri, menurutnya, perlu dibangun secara proporsional. Tidak boleh terlalu rendah hingga melahirkan ketakutan, tetapi juga tidak berlebihan sehingga mengganggu konsentrasi.

Pesannya sederhana, tetapi mendalam: kemampuan harus dipersiapkan melalui latihan, sementara ketenangan harus dibangun melalui penguasaan diri.

Pastor Bernard: Jangan Biarkan Gugup Mengalahkan Kemampuan

Anggota Dewan Juri lainnya, Pastor Bernard Antonius Rahawarin, Pr., mengingatkan peserta agar tidak membiarkan rasa takut mengalahkan kemampuan yang telah dipersiapkan melalui latihan.

Menurutnya, kegugupan dapat mengganggu konsentrasi, terutama ketika peserta menghadapi nada-nada tinggi dan bagian mazmur yang membutuhkan pengaturan pernapasan secara cermat.

Akibatnya, suara yang seharusnya dapat dikeluarkan secara maksimal justru kehilangan kekuatannya. Frase yang semestinya mengalir utuh dapat terputus karena pengendalian napas yang kurang baik.

Pastor Bernard juga mengingatkan pentingnya memahami karakter mazmur yang dibawakan. Ketepatan teks, artikulasi, kesinambungan melodi, dan pengaturan pernapasan harus menjadi satu kesatuan.

Terlebih untuk mazmur bercorak Gregorian, peserta perlu memahami kekhasan nyanyiannya. Kesinambungan melodi dan kejernihan pengucapan harus dijaga tanpa memberikan ekspresi maupun dinamika yang berlebihan.

Namun, ada pesan lain yang tidak kalah penting dari evaluasi dimaksud.

Lomba, menurut semangat pembinaan yang disampaikannya, bukanlah akhir perjalanan. Kekurangan yang ditemukan justru menjadi ruang untuk belajar. Peserta tidak perlu berkecil hati ketika belum mencapai hasil terbaik, sebab setiap pengalaman di atas panggung merupakan bagian dari proses pertumbuhan.

Dalam pelayanan gerejawi, kemenangan bukan hanya tentang siapa yang berdiri paling tinggi, melainkan siapa yang bersedia terus belajar dan mempersembahkan kemampuan terbaiknya.

 

Kategori:
Tags:

Terkini