Jumat, 23 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Dari Aksara Lontara Jadi Produk Fesyen, UMKM Makassar Ini Tumbuh Bersama linkumkm by BRI

Oleh: Johanis Kopong

Didorong Pelatihan linkumkm by BRI, UMKM Makassar Kembangkan Bisnis Sekaligus Rawat Budaya Lokal

​Saumlaki | suaraanaknegeri.com – Jumat, 23 Oktober 2026 — Pelestarian budaya lokal dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk menggabungkan warisan tradisi dengan produk fesyen modern. Inilah yang dilakukan As’ad Fadli, pemilik Ripuji Lontaratta, sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang mengangkat aksara Lontara melalui produk tas dan topi dengan desain kekinian.

Baca juga: Sekda Kepulauan Tanimbar Brampi Moriolkossu Sambut Kedatangan Uskup Seno Ngutra

​Berdiri sejak 2019, Ripuji Lontaratta bergerak di bidang fesyen dan kerajinan (craft). Usaha ini menghadirkan produk yang memadukan gaya modern dengan motif khas Sulawesi Selatan, khususnya aksara Lontara. Sejumlah produknya, antara lain Malebbi Totebag dan Maraja Bucket Hat, menjadi pilihan pelanggan yang ingin tampil modis sekaligus mengenal identitas budaya daerah.

​Berawal dari Kepedulian terhadap Budaya Lokal

​Gagasan membangun usaha tersebut berawal dari keprihatinan As’ad terhadap semakin berkurangnya pengenalan aksara Lontara di kalangan generasi muda Makassar. Ia melihat peluang untuk memperkenalkan kembali warisan budaya tersebut melalui produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda.

​”Kami melihat anak muda sekarang, khususnya di Kota Makassar, sudah mulai tidak mengenal lagi aksara Lontara. Di sisi lain, mereka memiliki minat terhadap tas dan topi yang bisa menunjang fesyen. Karena itu, kami membuat usaha ini dengan tujuan menjaga warisan budaya masyarakat Makassar namun tetap bisa tampil keren,” ujar As’ad.

Baca juga: RD Ponsianus Ongirwalu: Kunjungan Uskup Jadi Berkat bagi Umat Katolik Tanimbar

​Melalui pendekatan tersebut, aksara Lontara tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan budaya, tetapi juga dihadirkan dalam bentuk produk yang dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

​Memperluas Pasar dan Meningkatkan Kapasitas Usaha

​Seiring perkembangannya, Ripuji Lontaratta kini memiliki lima orang tenaga kerja. Pemasaran dilakukan melalui berbagai saluran, mulai dari gerai luring (offline), media sosial, kerja sama antarbisnis atau business to business (B2B), hingga pameran dan berbagai kegiatan promosi.

​Jangkauan pasarnya pun tidak terbatas di Makassar. Produk Ripuji Lontaratta telah menjangkau konsumen dari berbagai kota hingga antarpulau.

​Dalam mengembangkan bisnis, As’ad menyadari bahwa keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk dan pemasaran, tetapi juga kemampuan mengelola manajemen, sumber daya manusia, serta legalitas usaha.

​As’ad pertama kali mengenal platform linkumkm by BRI saat berkunjung ke Rumah BUMN Makassar. Setelah memperoleh informasi mengenai manfaat dan program yang tersedia, ia memutuskan bergabung untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan usahanya.

​”Setelah saya bergabung dengan linkumkm by BRI dan mendapat program pelatihan, usaha saya mengalami perkembangan terutama di bagian legalitas dan manajemen sumber daya manusia. Saya mendapat ilmu bagaimana mengatur usaha agar bisa berkembang dan bagaimana mengatur tim supaya lebih produktif,” kata As’ad.

​Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penguatan kapasitas pelaku UMKM tidak hanya berkaitan dengan akses pemasaran, tetapi juga peningkatan kemampuan dalam mengelola bisnis secara lebih terarah dan berkelanjutan.

​linkumkm by BRI Jangkau 17,6 Juta Pelaku UMKM

​Platform linkumkm by BRI merupakan bagian dari ekosistem pemberdayaan UMKM yang menyediakan akses terhadap berbagai sarana pengembangan kapasitas usaha, termasuk pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pelaku bisnis.

​Hingga September 2026, jumlah pelaku UMKM yang telah memanfaatkan platform tersebut tercatat mencapai 17,6 juta. Angka ini menggambarkan luasnya jangkauan layanan digital dalam mendukung pengembangan kapasitas pelaku usaha.

​Bagi As’ad, dukungan pengembangan usaha tersebut berjalan seiring dengan tujuan utama Ripuji Lontaratta, yakni menjadikan produk fesyen sebagai media untuk memperkenalkan dan menjaga keberadaan aksara Lontara.

​”Dalam setiap produk kami ada sebuah misi untuk melestarikan budaya aksara Lontara yang sudah mulai dilupakan anak muda. Kami bukan hanya menghadirkan tas dan topi untuk menunjang selera fesyen pelanggan, tetapi juga bercerita melalui motif aksara Lontara bahwa inilah identitas kita yang harus kita lestarikan dan banggakan,” ungkap As’ad.

​QRIS BRI Permudah Transaksi Pelanggan

​Selain mengembangkan produk dan memperluas pemasaran, Ripuji Lontaratta juga memanfaatkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) BRI untuk mendukung transaksi pembayaran.

​Menurut As’ad, penggunaan QRIS BRI memberikan kemudahan bagi pelanggan saat melakukan pembayaran. Pemanfaatan pembayaran digital ini menjadi salah satu langkah untuk menyesuaikan kegiatan usaha dengan kebutuhan konsumen yang semakin beragam.

​Meski demikian, perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus. As’ad mengaku pernah menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari pesanan khusus (custom) yang dibatalkan secara tiba-tiba hingga persaingan usaha yang dinilainya kurang sehat.

​Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki proses bisnis dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang muncul dalam perjalanan usaha.

​BRI Dorong Pemberdayaan UMKM secara Menyeluruh

​Senior Executive Vice President (SEVP) Micro Business Empowerment BRI, M. Candra Utama, menyampaikan bahwa pemberdayaan UMKM perlu dilakukan secara menyeluruh. Menurutnya, tantangan pelaku usaha tidak hanya berkaitan dengan permodalan, tetapi juga mencakup kemampuan manajerial, legalitas, pemasaran, digitalisasi, hingga pemahaman terhadap peluang pasar.

​”BRI melihat bahwa UMKM memiliki potensi besar untuk terus tumbuh apabila mendapatkan ekosistem pendukung yang tepat. linkumkm by BRI menjadi salah satu platform yang kami hadirkan untuk membantu pelaku UMKM belajar, beradaptasi, dan berkembang sesuai kebutuhan usahanya,” pungkas Candra.

​Kisah Ripuji Lontaratta memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian budaya. Melalui perpaduan desain modern, pemanfaatan teknologi digital, dan peningkatan kemampuan pengelolaan usaha, aksara Lontara memiliki ruang untuk terus dikenal oleh generasi muda tanpa kehilangan nilai identitas lokalnya.

​(Sumber: Augi, Kantor Cabang BRI Saumlaki.)

Kategori:
Tags:

Terkini