Kamis, 22 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

RERASAN: MAK

SECANGKIR KOPI CAK MUS – 22.10.26

–

SURABAYA – SUARA ANAK NEGERI| Mak, senyampang masih bisa melihat senyummu, njenengan adalah surga bagiku. Namun, bila bertemu aku menciptakan neraka di jiwamu. Sebagai lelaki seharusnya aku bisa menyimpan air mata dan menyembunyikan derita. Hidup memang tidak selalu indah, dan aku menumpahkan segala keruwetan di ruang hatimu. Njenengan selalu tersenyum, namun aku tahu sudut matamu menahan pedih air mata. Tak semestinya aku menuangkan racun nelangsa di hatimu. Seharusnya aku menyuguh madu bahagia di sanubarimu. Menutup rapat-rapat cerita masalah, mengungkap betapa indah menjalani hidup bahagia.

Baca juga: Mengukir Sejarah dari Kota Wisata: KYM Kota Batu dan SATUPENA Gelar 'Nubar' Puisi Bersama Mendikdasmen RI

Namun, selalu saja serentak tubi sambatan menebas nuranimu. Lidahku pedang menjulur betapa keruwetan melilit tubuhku. Manusia yang dilanda aral tak henti berlalu. Padahal tak ada manusia tanpa diuji suka dan duka. Yang selalu kuingat hanya kehilangan: sakit, ekonomi cingkrang, anak bermasalah, dan sebagainya. Kulupakan semua pemberian-Nya tanpa perhitungan. Melupakan semua anugerah kebaikan, menjadikan Mak hanya sebagai wadah keluhan.

Sebelum pulang, aku selalu mohon doa-doa njenengan. Selalu saja telingaku mendengar: tanpa kamu minta, Mak tak pernah berhenti berdoa untukmu dan keluargamu. Padahal selalu sering kulupa mendoakan njenengan. Robbighfirlii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa robbayaani shoghiiro. Kasih anak sepanjang galah, kasih Mak sepanjang masa.

Mohon maafku, Mak, durhakaku menyia-nyia njenengan. Kecewa demi kecewa memenuhi ruang prihatin njenengan. Aku tidak menjadi anak sejuk dipandang. Tak ada kebanggaan yang indah diceritakan. Aku belum bisa membahagiakan. Namun, sebenarnya hatiku tangis mengungkapkan:

Baca juga: GADIS CORONA

MAK

Mak,
laut kasihmu tak bertepi
mentari sayangmu hangat mengabadi
tutur doamu semakbul para wali
tangis malammalammu mengguncang bumi
kau letih tak pernah berperih
kau lelah tak pernah tengadah
pada anakmu, segala kisah pedih
kau rangkum dalam senyum bidadari

Mak,
bukan sekadar telapak kaki
jiwa ragamu surga utuhku
purnama ikhlasmu menyilau aibku
tak ada retak pada kaca riwayat anakmu
sebinal aku, kau selalu berkata pada orang-orang:
“dia masih anak-anak, kujaga doaku selalu
Tuhan mengampuni, manusia merelai”

Mak,
jika pun kupunya dunia seisinya
takkan sanggup membalas jasa
hanya doa ampunan diseluruhkan
hanya doa rahmat dilimpahkan
surga diliputi kebungahan
untukmu
abadi

Lamongan, 22 -10-2026

Kategori:
Tags:

Terkini