Sabtu, 10 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Dosa

Yudi Latif

–

Barangkali salah satu hal yang membuat manusia tetap manusia adalah kemampuannya untuk merasa bersalah.

Baca juga: PRIHATIN KUSDINI Pimpin Posbakum Petisi Ahli Tegaskan Komitmen Bantuan Hukum dan Pemberantasan Korupsi

Kita melakukan sesuatu yang kita tahu tidak patut, lalu sesuatu di dalam diri bergetar. Kita malu. Kita berharap tak ada yang melihat. Perasaan itu hadir bahkan sebelum orang lain menghakimi—sebelum pengadilan, sebelum hukuman.

Dosa, pada mulanya, bukan sekadar hukuman yang datang dari luar. Ia adalah peristiwa batin: ketika jiwa tahu bahwa dirinya telah menyimpang.

Dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad ﷺ merumuskannya dengan sangat tajam:

Baca juga: MANUSIAKU

“Dosa adalah sesuatu yang mengusik dalam dadamu, dan engkau tidak suka orang lain mengetahuinya.” (HR. Muslim 2553).

Di situlah dosa pertama-tama bersemayam: sebagai getar jiwa.

Ada sesuatu yang berdesir ketika tangan melakukan yang tak patut, lidah mengkhianati kebenaran, atau kehormatan orang lain diinjak demi kepentingan diri. Kita merasa bersalah. Kita merasa malu. Itulah hati yang masih hidup.

Tetapi manusia dapat membungkamnya.

Mula-mula ia berdosa, lalu mencari pembenaran. Mengulanginya, lalu menyebutnya kebiasaan. Hingga yang salah terasa biasa dan yang tercela terasa wajar.

Kepongahan yang dipelihara dan kedurjanaan yang terus dibenarkan perlahan menggerogoti lentera batin. Cahaya hati surut, suara nurani mengecil, sampai manusia mengalami kematian rasa:

mata masih melihat, tetapi tak mengenali kebenaran; telinga masih mendengar, tetapi tak menangkap nasihat; hati masih berdetak, tetapi tak lagi merasa bahwa dirinya telah salah.

Dalam bahasa wahyu, Allah menutup pendengaran, penglihatan, dan hati mereka.

Dan ada ironi yang menarik: manusia adalah satu-satunya primata yang diketahui mampu menunjukkan visible blushing—wajah yang tampak memerah ketika malu atau tersipu.

Seolah tubuh memiliki bahasa kejujuran sendiri. Ketika mulut berusaha menyembunyikan, wajah kadang masih mengaku: aku malu.

Tetapi apa yang terjadi ketika rasa malu itu sendiri telah mati?

Kamera menyorot. Borgol terpasang. Pakaian pesakitan dikenakan. Nama disebut di hadapan jutaan mata. Namun wajah tetap tenang. Tidak merah. Tidak menunduk. Tidak tampak terusik.

Tentu, wajah bukan ukuran pasti rasa bersalah. Tetapi ada ironi yang sulit diabaikan: seseorang dapat melakukan sesuatu yang tercela di hadapan publik, bahkan telah dinyatakan bersalah, namun tidak lagi menunjukkan tanda-tanda malu yang semestinya menyertai perbuatannya.

Seolah-olah kejahatannya masih hidup, tetapi rasa malunya telah mati.

Kita melihat ironi serupa dalam berbagai perkara korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan: kejahatan yang dipoles menjadi prosedur, gratifikasi yang dinormalisasi, dan penyalahgunaan jabatan yang dianggap bagian dari permainan.

Pada titik itu, persoalannya menjadi lebih dalam daripada hukuman.

Masyarakat tidak hanya rusak ketika banyak orang melakukan dosa, tetapi ketika orang yang melakukan dosa tidak lagi merasa bahwa ia sedang melakukan dosa.

Ketika rasa malu dianggap kelemahan, penyesalan dianggap kekalahan, dan permintaan maaf menjadi strategi.

Maka dosa tak lagi terasa sebagai luka.

Ia berubah menjadi kulit.

Dan ketika kulit telah mati rasa, luka sedalam apa pun tak lagi terasa.

Mungkin itulah azab yang paling mengerikan:

bukan ketika manusia menangis karena dosanya, melainkan ketika ia tak lagi mampu menangis atas sesuatu yang seharusnya membuatnya menangis.

Sebab selama dosa masih mengusik dada, masih ada cahaya. Tetapi ketika dada tak lagi bergetar, wajah tak lagi malu, dan hati tak lagi merasa bersalah, sesungguhnya ia telah mati sebelum kematian datang.

Tubuhnya masih berjalan, suaranya masih terdengar, namanya masih dipanggil—tetapi manusia di dalam dirinya telah lebih dahulu dikuburkan.

Kategori:
Tags:

Terkini