Rabu, 07 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Mitos-Dekonstruktif pada Cerpen-Cerpen Karya Heri Isnaini

Yulia Herliani| Penulis

–

Mitos selalu memiliki hubungan yang menarik dengan sastra. Ia hadir sebagai cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi pada saat yang sama tidak pernah benar-benar berhenti mengalami perubahan. Setiap generasi memiliki cara sendiri dalam menerima, mengingat, dan menafsirkan mitos. Sebab itu, mitos tidak semata-mata dapat dipahami sebagai cerita masa lalu, melainkan sebagai bagian dari ingatan kebudayaan yang terus bergerak mengikuti perubahan masyarakat.

Baca juga: Waropen Sehat, Cerdas, dan Terkoneksi: Visi F.X. Mote–Yoel Boari Mendorong Waropen Keluar dari Ketertinggalan

Ketika seorang pengarang menjadikan mitos sebagai bahan penciptaan, yang dihadapi bukan hanya sebuah alur cerita, melainkan juga seperangkat nilai, simbol, keyakinan, dan konstruksi sosial yang telah melekat pada cerita tersebut.

Kecenderungan semacam itu tampak dalam sejumlah cerpen Heri Isnaini yang mengambil mitos sebagai sumber penciptaan. Cerpen seperti Perahu yang Tidak Pernah Dibuat, Selendang yang Sengaja Kutinggalkan, dan Aku Tidak Pernah Mengejar Timun Mas memperlihatkan cara yang khas dalam memperlakukan cerita-cerita yang telah dikenal masyarakat. Mitos tidak sekadar diceritakan kembali dalam bentuk yang lebih modern, tetapi dipertanyakan dari dalam struktur ceritanya sendiri. Tokoh, peristiwa, simbol, dan hubungan sebab-akibat yang selama ini dianggap mapan mengalami pergeseran sehingga pembaca memperoleh kesempatan untuk melihat mitos melalui perspektif yang berbeda. Kecenderungan inilah yang dapat disebut sebagai mitos-dekonstruktif.

Istilah tersebut menunjuk pada pertemuan antara mitos sebagai sumber narasi dan dekonstruksi sebagai cara membaca. Dalam pemikiran Jacques Derrida, dekonstruksi tidak sesederhana tindakan menghancurkan sebuah teks atau menolak makna yang telah ada. Dekonstruksi justru berusaha memperlihatkan ketidakstabilan makna dengan menemukan kontradiksi, ketegangan, dan hierarki yang bekerja di dalam sebuah teks.

Baca juga: BAYANG-BAYANG PENGGUSURAN

Apa yang selama ini ditempatkan sebagai pusat dapat digeser, sedangkan sesuatu yang berada di pinggiran dapat memperoleh posisi yang lebih penting. Dengan cara tersebut, teks tidak lagi dipandang sebagai bangunan yang memiliki satu makna final, tetapi sebagai ruang yang memungkinkan munculnya berbagai kemungkinan tafsir.

Mitos sangat memungkinkan untuk dibaca melalui perspektif semacam itu sebab keberadaannya selalu bergantung pada proses pewarisan dan pengulangan. Ketika sebuah cerita terus-menerus diceritakan dengan pola yang sama, masyarakat perlahan menganggap pola tersebut sebagai sesuatu yang alamiah dan tidak perlu dipertanyakan. Sangkuriang, misalnya, telah begitu kuat melekat pada kisah tentang Dayang Sumbi, cinta yang terlarang, perahu yang harus selesai dalam satu malam, dan terbentuknya Gunung Tangkuban Parahu.

Demikian pula kisah Timun Mas telah dikenal melalui struktur pengejaran antara seorang gadis dan raksasa. Sementara itu, kisah bidadari dan selendang telah berulang kali hadir dengan pola seorang perempuan dari dunia kayangan yang kehilangan jalan pulang sebab selendangnya disembunyikan oleh manusia.

Namun, justru sebab cerita-cerita tersebut telah begitu dikenal, sastra memperoleh kesempatan untuk mempertanyakan kembali bagian-bagian yang selama ini dianggap sudah selesai. Cerpen Perahu yang Tidak Pernah Dibuat menunjukkan strategi tersebut sejak dari judulnya. Dalam mitos Sangkuriang, perahu merupakan salah satu unsur penting yang menghubungkan keinginan tokoh dengan terbentuknya lanskap yang kemudian dikenal sebagai Tangkuban Parahu. Ketika cerpen Heri Isnaini menghadirkan perahu yang “tidak pernah dibuat”, sebuah kepastian dalam mitos tiba-tiba mengalami gangguan. Peristiwa yang selama ini menjadi bagian dari pengetahuan kolektif tidak lagi diterima sebagai sesuatu yang mutlak.

Ketiadaan perahu kemudian menjadi penting sebab sesuatu yang tidak ada justru memperoleh posisi sentral dalam cerita. Di sinilah permainan dekonstruktif bekerja. Yang dipertanyakan bukan sekadar apakah perahu itu ada atau tidak, tetapi bagaimana sebuah mitos membangun kebenarannya melalui peristiwa tertentu. Ketika satu unsur utama digeser, keseluruhan jaringan makna yang mengelilinginya ikut mengalami perubahan. Sangkuriang tidak lagi hanya menjadi tokoh yang mengulang kisah yang sudah dikenal, tetapi menjadi pintu untuk memasuki kemungkinan lain tentang hubungan antara manusia, ingatan, keinginan, dan mitos.

Strategi yang berbeda tetapi memiliki kecenderungan serupa terlihat dalam Selendang yang Sengaja Kutinggalkan. Kisah tentang bidadari dan selendang biasanya dibangun melalui motif kehilangan. Selendang menjadi benda yang hilang, disembunyikan, atau diambil sehingga sang bidadari tidak dapat kembali ke kayangan. Dalam struktur semacam itu, bidadari cenderung ditempatkan sebagai objek dari tindakan tokoh lain. Kehidupannya berubah sebab keputusan orang lain, sedangkan selendang menjadi simbol yang menentukan kebebasan bergeraknya.

Kata “sengaja” dalam judul cerpen Heri Isnaini mengubah struktur tersebut secara signifikan. Jika selendang sengaja ditinggalkan, maka kehilangan tidak lagi harus dibaca sebagai akibat dari tindakan orang lain. Kehilangan dapat menjadi keputusan personal. Perubahan kecil dalam struktur kalimat tersebut menghasilkan perubahan besar dalam posisi tokoh. Bidadari yang sebelumnya dapat dibaca sebagai korban memperoleh kemungkinan untuk menjadi subjek yang menentukan kehidupannya sendiri. Ia tidak semata-mata kehilangan jalan pulang, tetapi mungkin sedang mempertimbangkan apakah pulang merupakan pilihan yang masih diinginkannya.

Pada titik tersebut, mitos bertemu dengan persoalan kontemporer tentang kebebasan, kehendak, identitas, dan pilihan hidup. Cerita lama memperoleh resonansi baru sebab tokoh yang sebelumnya berada dalam struktur patriarkal dan relasional yang tertentu diberi kesempatan untuk memiliki kehendak. Dengan demikian, dekonstruksi tidak hanya mengubah alur cerita, tetapi juga menggeser relasi kuasa yang terdapat di dalamnya. Pembaca diajak untuk mempertanyakan apakah sesuatu yang selama ini disebut sebagai “kehilangan” memang selalu merupakan kehilangan, atau justru dapat menjadi bentuk pembebasan.

Sementara itu, Aku Tidak Pernah Mengejar Timun Mas memperlihatkan bentuk dekonstruksi melalui permainan perspektif. Cerita Timun Mas selama ini dikenal melalui struktur yang relatif mapan: seorang gadis berada dalam ancaman raksasa dan harus menyelamatkan diri melalui perjalanan yang penuh bahaya. Timun Mas berada pada posisi korban, sedangkan raksasa menempati posisi antagonis. Pembaca kemudian menerima hubungan tersebut sebagai bagian dari struktur moral cerita.

Judul cerpen Heri Isnaini mengganggu struktur tersebut dengan menghadirkan suara yang menyangkal tindakan pengejaran. Pernyataan bahwa “aku tidak pernah mengejar Timun Mas” membuat pembaca mempertanyakan siapa sebenarnya yang berbicara dan bagaimana peristiwa dalam cerita selama ini dibangun. Apabila suara tersebut berasal dari tokoh yang selama ini dianggap sebagai raksasa, maka pembaca mendapatkan kemungkinan untuk melihat cerita dari sisi yang sebelumnya tidak memperoleh ruang.

Yang penting dari strategi ini bukan sekadar kemungkinan bahwa raksasa ternyata baik atau Timun Mas ternyata tidak sepenuhnya benar. Dekonstruksi tidak harus menghasilkan pembalikan moral yang sederhana. Yang lebih penting adalah munculnya kesadaran bahwa pengetahuan pembaca mengenai sebuah cerita selalu dibentuk oleh perspektif tertentu. Ketika perspektif tersebut digeser, kategori seperti pahlawan, korban, penjahat, dan penyelamat tidak lagi tampak sebagai kategori yang sepenuhnya stabil.

Dengan demikian, cerpen-cerpen tersebut memperlihatkan perbedaan antara adaptasi dan dekonstruksi. Adaptasi pada umumnya memindahkan cerita lama ke dalam konteks baru dengan mempertahankan struktur utama yang telah dikenal. Cerita dapat ditempatkan di kota modern, tokohnya dapat menggunakan teknologi, atau konfliknya dapat disesuaikan dengan persoalan masa kini. Mitos-dekonstruktif bergerak lebih jauh sebab yang dipertanyakan bukan hanya bagaimana cerita lama diceritakan dalam konteks baru, melainkan bagaimana cerita lama tersebut selama ini membangun maknanya.

Dalam konteks itu, Heri Isnaini tidak sekadar melakukan retelling, tetapi melakukan re-reading. Mitos dibaca kembali melalui celah-celah yang terdapat di dalamnya. Tokoh yang selama ini berada di pusat dapat dipindahkan, sementara tokoh yang berada di pinggir memperoleh kesempatan untuk berbicara. Benda yang sebelumnya hanya menjadi unsur pendukung dapat berubah menjadi pusat simbolik. Peristiwa yang selama ini dianggap sebagai kepastian dapat dipertanyakan kembali. Proses tersebut membuat mitos menjadi teks yang terbuka terhadap kemungkinan baru.

Kecenderungan mitos-dekonstruktif tersebut pada akhirnya menunjukkan hubungan yang produktif antara tradisi dan kreativitas. Tradisi tidak harus dipelihara hanya dengan cara mengulang cerita lama secara persis. Tradisi juga dapat dirawat dengan cara mempertanyakannya, sebab pertanyaan memungkinkan sebuah warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman. Ketika mitos dibaca ulang, yang terjadi bukan penghapusan terhadap masa lalu, melainkan pertemuan antara ingatan masa lalu dengan kesadaran masa kini.

Dalam cerpen Heri Isnaini, mitos menjadi semacam ruang negosiasi antara cerita yang telah diwariskan dan pengalaman manusia kontemporer. Sangkuriang, bidadari, dan Timun Mas tidak lagi hanya menjadi tokoh yang tinggal di dalam ingatan kolektif, tetapi menjadi figur yang dapat membawa persoalan baru mengenai pilihan, identitas, kekuasaan, ingatan, dan perspektif. Mitos kemudian memperoleh kehidupan kedua melalui sastra.

Pada akhirnya, mitos-dekonstruktif pada cerpen karya Heri Isnaini dapat dipahami sebagai kecenderungan estetik yang menggunakan mitologi sebagai medan untuk mempertanyakan kemapanan makna. Cerpen-cerpen tersebut tidak berusaha menghapus mitos, tetapi membuka kemungkinan agar mitos dapat dibaca melalui sudut pandang yang berbeda. Dengan cara demikian, cerita yang telah dikenal tidak kehilangan masa lalunya, tetapi memperoleh masa depan baru dalam bentuk tafsir.

Barangkali di situlah kekuatan sastra dalam berhadapan dengan mitos. Sastra tidak selalu harus menciptakan cerita yang sama sekali baru. Kadang-kadang ia hanya perlu kembali kepada cerita lama, membuka pintu yang selama ini tertutup, lalu bertanya dengan cara yang berbeda. Dari pertanyaan itulah muncul kemungkinan bahwa apa yang selama ini kita anggap sebagai akhir sebenarnya hanyalah satu versi dari cerita yang masih menyimpan banyak kemungkinan lain.

–

Penulis:

Yulia Herliani lahir di Bandung, 31 Juli. Saat ini dia bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMK Profita Kota Bandung. Tulisan-tulisannya sudah dipublikasi di beberapa media massa daring. Selain menjadi guru, Yulia sangat menikmati perannya sebagai istri dan ibu dari ketiga anaknya. Yulia dan keluarga tinggal di Kota Bandung.

 

 

Kategori:
Tags:

Terkini