Oleh: Johanis Kopong
RD Ponsianus Ongirwalu: Iman Harus Menghasilkan Buah, Allah Menghendaki Buah Kebaikan
Baca juga: REMBULAN MENEMPEL DI KACA DINDING DAPUR
Saumlaki | suaraanaknegeri.com – Minggu, 4 Oktober 2026. Bacaan Minggu Biasa XXVII mengajak umat beriman merenungkan sebuah metafora yang kuat dan relevan bagi kehidupan iman, yakni kebun anggur.
Melalui bacaan Kitab Yesaya 5:1-7, Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi 4:6-9, serta Injil Matius 21:33-43, umat diajak melihat kembali sejauh mana kehidupan yang telah menerima begitu banyak rahmat dari Allah mampu menghasilkan buah-buah yang berkenan kepada-Nya.
Dalam refleksi tersebut, RD Ponsianus Ongirwalu mengajak umat memandang kehidupan sebagai sebuah kebun yang dipercayakan Allah untuk dirawat dan menghasilkan buah.
Baca juga: RD Ponsianus Ongirwalu Berbagi Kasih untuk 25 Anak Hebat
Allah telah memberikan berbagai rahmat, kesempatan dan tanggung jawab kepada manusia. Karena itu, kehidupan iman tidak cukup hanya diwujudkan melalui rutinitas keagamaan, tetapi harus tampak dalam perbuatan nyata.
Kebaikan Allah dan Tuntutan Keadilan
Dalam Kitab Yesaya, Allah digambarkan sebagai pemilik kebun anggur yang penuh kasih. Ia mencangkul tanah, membuang batu-batunya, menanam pokok anggur pilihan dan membangun menara penjagaan.
Semua dilakukan agar kebun tersebut menghasilkan anggur yang baik. Namun, ketika saat panen tiba, yang ditemukan justru anggur asam.
Gambaran tersebut menjadi refleksi bagi kehidupan manusia. Allah telah memberikan banyak rahmat, antara lain kesehatan, keluarga, pekerjaan, kesempatan, serta bimbingan iman.
Namun, pertanyaan pentingnya adalah apakah semua rahmat tersebut telah menghasilkan buah yang baik dalam kehidupan.
Apakah manusia membalas kebaikan Allah melalui kehidupan yang menghadirkan keadilan, kebenaran, kasih dan kepedulian? Ataukah justru menghasilkan “buah asam” berupa keegoisan, ketidakpedulian, kemarahan, kesombongan dan iri hati?
Karena itu, Allah tidak hanya mencari rutinitas ritual, tetapi juga menghendaki buah pertobatan yang nyata dalam kehidupan umat.
Manusia Dipanggil Menjadi Penggarap yang Setia
Dalam Injil Matius 21:33-43, Yesus melanjutkan gambaran tentang kebun anggur melalui sebuah perumpamaan mengenai para penggarap.
Para penggarap dipercaya mengelola kebun tersebut. Namun, ketika pemilik mengutus orang-orang untuk menerima hasil kebun, mereka justru bertindak serakah.
Mereka merampas hak pemilik, menganiaya para utusan dan bahkan membunuh anak sang pemilik dengan harapan dapat menguasai warisan tersebut.
Perumpamaan ini menjadi peringatan bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia sesungguhnya merupakan titipan dari Allah.
Bakat, jabatan, keluarga, waktu, pekerjaan, kemampuan dan berbagai kesempatan dalam kehidupan bukanlah milik mutlak manusia.
Manusia hanyalah penggarap yang dipercayakan untuk mengelolanya dengan penuh tanggung jawab.
“Kita hanyalah penggarap,” menjadi salah satu inti permenungan yang disampaikan dalam refleksi tersebut.
Karena itu, ketika manusia menjadi serakah, menolak kehendak Allah dan hanya mengejar kepentingan diri sendiri, manusia dapat kehilangan kesadaran bahwa dirinya hanyalah pengelola atas apa yang dipercayakan Tuhan.
Buah Kehidupan yang Berkenan kepada Allah
Kerajaan Allah, sebagaimana ditegaskan dalam perumpamaan tersebut, diberikan kepada mereka yang mau bekerja sama dengan kehendak Allah dan menghasilkan buah sesuai dengan panggilan hidupnya.
Buah yang dimaksud bukan semata-mata keberhasilan material, tetapi buah kehidupan yang dapat dirasakan oleh sesama.
Kasih, keadilan, kebenaran, kesabaran, kemurahan hati, kepedulian, pengampunan dan pelayanan merupakan bagian dari buah kehidupan yang diharapkan tumbuh dari iman.
Dengan demikian, iman tidak berhenti pada pengakuan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan.
Rasul Paulus: Jangan Khawatir, tetapi Berdoalah
Dalam Surat kepada jemaat di Filipi 4:6-9, Rasul Paulus memberikan jalan praktis bagi umat agar dapat menjalani kehidupan dengan hati yang lebih tenang.
Paulus mengingatkan agar manusia tidak dikuasai oleh kekhawatiran. Sebaliknya, segala persoalan hendaknya disampaikan kepada Allah melalui doa dan ucapan syukur.
Doa menjadi jalan untuk menyerahkan berbagai pergumulan kepada Tuhan sekaligus memelihara hati dan pikiran dalam damai sejahtera-Nya.
Kehidupan yang penuh kekhawatiran dan kecemasan dapat membuat manusia kehilangan ketenangan dalam mengambil keputusan.
Karena itu, umat diajak untuk terus membangun relasi dengan Allah melalui doa.
Apa yang Dipikirkan Akan Memengaruhi Perbuatan
Rasul Paulus juga memberikan perhatian pada apa yang memenuhi pikiran dan hati manusia.
Umat diajak untuk memikirkan hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, manis dan sedap didengar.
Nasihat tersebut mengandung pesan bahwa apa yang ditanam dalam pikiran dan hati dapat memengaruhi perkataan serta tindakan seseorang.
Jika hati dipenuhi kebencian, iri hati dan kemarahan, buah yang muncul dalam kehidupan juga dapat menjadi buruk.
Sebaliknya, apabila hati dipenuhi kasih, kebenaran, pengampunan dan damai, maka kehidupan akan lebih mudah menghasilkan buah yang baik bagi sesama.
Pemeriksaan Batin: Buah Apa yang Dihasilkan?
Refleksi Minggu Biasa XXVII juga mengajak umat melakukan pemeriksaan batin.
Pertanyaan sederhana namun mendalam dapat diajukan kepada diri sendiri:
Jika Tuhan “memanen” kehidupan saya hari ini, buah apakah yang akan ditemukan-Nya?
Apakah buah kasih, kesabaran, kemurahan hati dan kepedulian?
Ataukah justru buah kemarahan, kesombongan, iri hati, keegoisan dan ketidakpedulian?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi orang lain, tetapi menjadi kesempatan untuk melihat diri sendiri secara jujur di hadapan Tuhan.
Menjadi Penggarap yang Setia
Umat juga diajak menyadari bahwa apa yang dimiliki merupakan titipan Tuhan.
Karena itu, setiap karunia yang diberikan hendaknya digunakan untuk melayani sesama dan memuliakan nama-Nya.
Jabatan, kemampuan, harta benda, pekerjaan dan berbagai kesempatan tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggikan diri atau menguasai orang lain.
Sebaliknya, semuanya dapat menjadi sarana untuk menghadirkan kebaikan.
Menjadi penggarap yang setia berarti mampu menjaga, mengembangkan dan menggunakan apa yang dipercayakan Tuhan dengan penuh tanggung jawab.
Menjaga Hati dan Pikiran
Dalam kehidupan sehari-hari, umat diajak mempraktikkan nasihat Rasul Paulus dengan mengurangi kekhawatiran melalui doa dan ucapan syukur.
Selain itu, umat perlu menjaga tutur kata, pikiran dan tindakan agar tidak menjadi sumber keresahan bagi orang lain.
Setiap orang dipanggil untuk menghadirkan kata-kata yang membangun, tindakan yang membawa damai serta sikap yang mencerminkan kasih Kristiani.
Dengan demikian, buah iman tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga oleh keluarga, komunitas, Gereja dan masyarakat.
Kebun Anggur yang Harus Berbuah
Minggu Biasa XXVII menjadi momentum bagi umat untuk kembali melihat kehidupan masing-masing.
Allah telah memberikan rahmat dan kesempatan. Karena itu, setiap orang dipanggil untuk tidak menyia-nyiakan apa yang telah dipercayakan kepadanya.
Kehidupan adalah anugerah, tetapi sekaligus tanggung jawab.
Manusia dipanggil menjadi kebun anggur yang subur dan penggarap yang setia. Buah yang dihasilkan hendaknya bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah seberapa banyak yang telah kita terima, melainkan seberapa banyak buah kebaikan yang telah kita hasilkan dari apa yang Tuhan percayakan kepada kita.
Semoga pada Minggu Biasa XXVII ini, umat semakin diperbarui untuk menjadi kebun anggur Tuhan yang subur dan senantiasa menghasilkan buah-buah kebaikan bagi sesama.
Amin. Ratu Norkit Monuk Dedesar. Ubilaa Naflahar Ita Didtinemun. Kidabela. SALVE…
(Sumber: RD Ponsianus Ongirwalu, Vikaris Episkopal Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan juga sebagai Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar)


