Oleh: Johanis Kopong
RD Ponsianus Ongirwalu Mengajak Umat Menemukan Penyertaan Tuhan di Tengah Benang Kusut Kehidupan
Baca juga: Peringati Hari Kesaktian Pancasila, BRI Cabang Saumlaki Tanamkan Nilai Integritas dan Pengabdian
Saumlaki | suaraanaknegeri.com – Jumat, 2 Oktober 2026. Ada saat-saat tertentu dalam kehidupan ketika seseorang merasa seolah berjalan seorang diri. Masalah datang bertumpuk, pikiran dipenuhi kecemasan, sementara jalan keluar terasa semakin jauh. Dalam keadaan seperti itu, hidup dapat terasa seperti benang kusut yang tidak mudah diurai.
Namun, di tengah keadaan tersebut, ada satu penghiburan iman yang sederhana tetapi mendalam: kita tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Pesan itulah yang menjadi inti refleksi RD Ponsianus Ongirwalu dalam permenungan bertema “Tangan Tuhan yang Tak Terlihat”, bertepatan dengan Jumat, 2 Oktober 2026, ketika umat Katolik memperingati Para Malaikat Pelindung, merayakan Misa Jumat Pertama, sekaligus melanjutkan Novena Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah Hari Ke-2.
Baca juga: BRI Saumlaki Hadirkan Layanan Prima bagi Pensiunan ASN, Utamakan Kenyamanan dan Pelayanan Humanis
Ketika Hidup Terasa Seperti Benang Kusut
Pergumulan manusia tidak selalu tampak dari luar. Seseorang mungkin tetap tersenyum, bekerja, melayani keluarga, berjumpa dengan sesama, dan menjalani aktivitas seperti biasa. Namun, di dalam hati, bisa saja tersimpan beban yang tidak mudah diceritakan.
Dalam refleksinya, RD Ponsianus mengajak umat untuk membawa pengalaman tersebut ke dalam terang sabda Tuhan.
“Pernahkah kita merasa sendirian di tengah masalah yang bertumpuk?” demikian pertanyaan reflektif yang mengawali permenungan.
Pertanyaan itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada persoalan keluarga, pekerjaan, kesehatan, hubungan dengan sesama, kecemasan tentang masa depan, maupun berbagai pergumulan batin yang terkadang hanya dapat dibawa dalam diam kepada Tuhan.
Di tengah semuanya itu, Injil hari ini menghadirkan sebuah pengingat: Engkau tidak pernah berjalan sendirian.
Belajar dari Hati Seorang Anak Kecil
Melalui Injil Matius 18:1-5.10, Yesus mengarahkan perhatian para murid kepada sosok anak kecil.
Menjadi seperti anak kecil, sebagaimana direnungkan RD Ponsianus, bukan berarti kembali menjadi kekanak-kanakan. Sebaliknya, umat diajak menemukan kembali hati yang jujur, tulus, rendah hati, dan memiliki kepercayaan kepada Bapa.
Seorang anak kecil memiliki rasa percaya kepada orang tua. Ia tidak selalu memahami bagaimana kehidupan akan berjalan esok hari, tetapi ia percaya bahwa ada seseorang yang menjaganya.
Demikian pula manusia dalam relasinya dengan Allah.
Ada banyak hal dalam kehidupan yang tidak mampu kita kendalikan. Kita dapat merencanakan, bekerja, berusaha, dan mengambil keputusan, tetapi tetap ada bagian kehidupan yang berada di luar kemampuan manusia.
Di situlah iman mengajarkan kepercayaan.
Ada Penyertaan yang Tidak Selalu Terlihat
Dalam refleksi tersebut, RD Ponsianus mengingatkan bahwa Allah tidak membiarkan manusia berjalan di dunia tanpa perlindungan.
Para Malaikat Pelindung diimani sebagai utusan Allah yang mendampingi, membimbing, dan menjaga perjalanan hidup manusia.
Penyertaan itu tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang dapat dilihat dengan mata. Kadang-kadang pertolongan Tuhan hadir melalui seseorang yang datang pada waktu yang tepat, sebuah nasihat sederhana, kekuatan untuk bertahan, atau bahkan sebuah jalan yang perlahan terbuka ketika sebelumnya terasa tertutup.
Karena itu, ketika kehidupan terasa berat, umat diajak untuk tidak cepat menyimpulkan bahwa Tuhan sedang jauh.
“Langit tidak pernah diam. Ada penyertaan yang bekerja secara tak terlihat untuk keselamatan jiwa kita.”
Kalimat tersebut menjadi salah satu inti permenungan hari ini.
Hati Kudus Yesus dan Ruang untuk Beristirahat
Perayaan Jumat Pertama juga membawa umat kepada Hati Kudus Yesus.
Di tengah kehidupan yang sering kali dipenuhi kesibukan dan tekanan, devosi kepada Hati Kudus Yesus menjadi ruang batin untuk berhenti sejenak, menyerahkan beban, dan kembali menemukan ketenangan.
Manusia tidak selalu membutuhkan jawaban yang segera. Ada kalanya yang paling dibutuhkan adalah tempat untuk meletakkan segala kegelisahan.
Dalam keheningan doa dan perayaan Ekaristi, umat diajak datang kepada Kristus dengan seluruh keadaan dirinya—dengan sukacita, luka, kecemasan, harapan, maupun persoalan yang belum menemukan jalan keluar.
Hati Kudus Yesus menjadi gambaran kasih Allah yang menerima manusia dalam kelemahannya.
Bunda Maria dan Simpul-Simpul Kehidupan
Pada hari kedua Novena Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah, umat kembali diajak melihat kehidupan melalui sosok seorang ibu.
Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dalam satu malam. Tidak semua konflik dapat segera berakhir. Tidak semua kecemasan dapat langsung hilang.
Namun, seperti benang kusut yang membutuhkan kesabaran untuk diurai, demikian pula persoalan kehidupan membutuhkan ketekunan, doa, dan kepasrahan kepada Tuhan.
Dalam refleksinya, RD Ponsianus menggambarkan Bunda Maria sebagai ibu yang sabar, dengan jemari lembut yang membantu merapikan “benang kusut” kehidupan, pikiran, dan keluarga.
Penghayatan tersebut mengajak umat untuk tidak kehilangan harapan ketika menghadapi persoalan yang tampaknya tidak memiliki jalan keluar.
Rendah Hati untuk Belajar Percaya
Pesan Injil hari ini pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang perlindungan Tuhan. Umat juga diajak melihat kembali sikap hati masing-masing.
Menjadi seperti anak kecil berarti belajar meninggalkan kesombongan, membuka hati, dan mempercayakan kehidupan kepada pemeliharaan Tuhan.
Kerendahan hati bukan berarti menyerah tanpa usaha. Sebaliknya, kerendahan hati berarti menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan dan membutuhkan Tuhan.
Karena itu, ketika menghadapi masalah, iman tidak mengajarkan manusia untuk berhenti berusaha. Iman justru mengajak manusia untuk tetap melangkah sambil percaya bahwa ada tangan Tuhan yang bekerja, meskipun tidak selalu terlihat.
Ketika Tidak Tahu Harus Melangkah ke Mana
Ada masa ketika manusia tidak mengetahui apa yang harus dilakukan berikutnya.
Dalam situasi seperti itu, mungkin doa tidak langsung mengubah keadaan. Namun doa dapat mengubah cara seseorang menghadapi keadaan.
Kecemasan perlahan digantikan oleh ketenangan. Ketakutan mulai berhadapan dengan harapan. Dan hati yang sebelumnya merasa sendirian kembali diingatkan bahwa ada Tuhan yang menyertai.
Perayaan Para Malaikat Pelindung, Misa Jumat Pertama, dan Novena Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah pada hari ini menjadi kesempatan bagi umat untuk kembali menata hati.
Bukan karena seluruh persoalan kehidupan telah selesai, melainkan karena umat diajak percaya bahwa dalam setiap perjalanan, Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia sendirian.
Doa di Tengah Perjalanan
Pada akhirnya, seluruh permenungan itu bermuara pada doa sederhana:
“Ya Hati Kudus Yesus, kami percaya pada-Mu. Malaikat Pelindungku, bimbinglah langkahku. Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah, doakanlah kami yang senantiasa membutuhkan pertolonganmu. Amin.”
Doa itu dapat menjadi ungkapan sederhana dari hati yang sedang belajar percaya.
Ketika jalan terasa panjang, ketika persoalan belum menemukan jawaban, dan ketika hati mulai bertanya apakah masih ada harapan, iman mengingatkan kembali sebuah kebenaran yang sederhana:
Kita mungkin tidak selalu melihat tangan Tuhan, tetapi bukan berarti tangan-Nya tidak bekerja.
Dan karena itu, dalam setiap langkah kehidupan, manusia tidak pernah berjalan sendirian. RATU NORKIT MONUK DEDESAR. UBILAA NAFLAHAR ITA DIDTINEMUN. KIDABELA. SALVE.
(Sumber: RD Ponsianus Ongirwalu, Vikaris Episkopal Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan juga sebagai Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar)


