Oleh Mila Muzakkar
(Founder Generasi Literat)
–
Surga itu terlalu jauh, dan terasa lama, kalau harus menunggu mati dulu untuk merasakannya. Tapi jika definisi surga adalah hal-hal yang terkait dengan keindahan, kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, maka itu sudah ada di dunia. Di jalan Mahoni, Kemayoran, Jakarta Pusat, salah satunya.
Baca juga: Ketika Puisi Sapardi Djoko Damono Mengajarkan Kita Merawat Dunia
Pagi tadi, jam stengah sepuluh pagi, aku sampai di depan rumah berpagar coklat. Oya, ini kali kedua aku berkunjung ke sini. Bunga warna-warni tumbuh dan merambat indah di pagar itu. Begitu membuka pagar, mataku langsung tertuju pada kemeriahan warna-warni interior rumah. Ini kayak rumah-rumah yang biasa direview oleh content creator di Youtube. Suara gemercik air terdengar sopan di telinga. Udara sejuk mengalir bebas ke ubun-ubun. Vibesnya benar-benar menenangkan hati. Ini baru di teras di rumah.
Masuk ke ruang tamu, aroma wangi menyerebak, barang-barang tertata rapih. Macam-macam prakarya dari barang-barang bekas tertempel indah di dinding-dinding. Sambutan hangat dari tuan rumah yang berbaju khas – kain putih- terlihat sederhana, simpel, bersih, menambah ketenangan jiwa. Inilah rumah eden, rumah di mana Komunitas Eden menjalani kehidupan sehari-hari.
Tanpa embel-embel agama, tanpa menyebut nama kitab, juga tanpa harapan imbalan surga dan neraka, mereka menjalani hidup dengan berkhidmat pada Tuhan yang Maha Esa, dengan dua prinsip utama: cinta kasih dalam persaudaraan dan perdamaian.
Baca juga: SIAPAKAH SAUDARAKU (???)
“Tuhan itu dirasakan. Bukan diucapkan.” kata Kak Rachman, tuan rumah yang mewakili komunitas Eden di salah satu sesi diskusi.
Aku pikir betul juga. Manusia seringkali ingin mendefinisikan Tuhan dengan keterbatasannya. Bisa jadi, Tuhan enggak terdefinisikan dengan utuh, dengan sebenar-benarnya. Ia hanya tergambarkan sesuai dengan kemampuan masing-masing manusia.
Dan di sinilah biasanya awal masalahnya. Pengetahuan, pengalaman, lingkungan, cara membaca, cara memahami, setiap orang berbeda. Perbedaaan melahirkan perdebatan, pertengkaran, sampai pembunuhan, kalau enggak mampu disikapi dengan bijak.
Bagaimana dengan rasa? Rasa itu dari dalam qalbu. Dari hati yang paling dalam, yang enggak terlihat dan nggak terbaca oleh siapa pun, selain orang yang merasakannya. Jika Tuhan dirasakan, maka Ia akan lebih utuh, lebih dekat dengan kebenaran.
Dan karena itu ada di dalam rasa setiap orang, rasa itu sulit untuk didefinisikan. Engak akan cukup kata-kata untuk menjelaskannya. tapi ia cukup dirasakan di dalam. Jadi kita enggak akan menganggap rasa orang lain itu salah, apalagi sampai memaksanya untuk merasakan hal yang sama dengan rasa kita. Di situlah letak ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan dengan kehadiran Tuhan.
Kalau enggak dikatakan, bagaimana kita bisa melihat dan merasakan wujud ketuhanan itu dalam diri manusia? Yah, lewat bahasa manusia: pola pikir, perkataan, dan perbuatannya sehari-hari.
Bagi komunitas Eden misalnya, jujur adalah sikap yang sangat dijunjung tinggi. Almarhum Bunda Lia Eden, pemimpin Komunitas Eden, sejak dulu menekankan ini.
Sekarang, bayangkan gimana caranya jujur di negara Indonesia yang sejak dulu kental banget dengan budaya sogok-menyogok. Mau bikin SIM jalur pintas? Bisa banget, asal bayar. Mau masuk kuliah atau lulus instansi tertentu, bayar lagi.
Beberapa anggota komunitas Eden juga menceritakan pengalamannya tentang sulitnya praktek jujur ini. Misalnya, ketika Kak Rachman dipenjara (karena dijerat dengan pasal penodaaan agama), dan ingin dijenguk oleh keluarganya, mereka harus mengalami pergolakan antara melarang keluarganya terlalu sering menjenguk, atau membolehkannya dengan konsekuensi harus menyogok di berbagai pintu tahanan.
Meski berat, Komunitas Eden berkomitmen dalam diri untuk tetap jujur, di tengah dunia yang kacau. Tanpa harus diucapkan, atau divalidasi oleh siapa pun.
Selesai ngobrol dan diskusi sedikit filosofis, kami diajak keliling rumah yang kayak surga ini. Tiba-tiba aku jadi kayak pengawas yang memperhatikan karpet berbulu putih, halus, bersih di beberapa ruangan. “Ini kok bersih amat karpetnya. Setiap apa dibersihinnya?”, tanyaku ke salah satu tuan rumah sambil bercanda.
“Setiap ada tamu,” jawabnya sambil tersenyum. “Yah, nggak dong. Setiap saat dibersihkan.” sambungnya lagi.
Ketika masuk ke kamar mandi, aku merasa sedang berada di hotel bintang 4. Bukan hanya bersih, wangi, dengan fasilitas lengkap, tapi juga indah dengan beberapa prakarya yang dibuat sendiri oleh tuan rumah.
Enggak terasa waktu sudah di angka stengah dua siang. Bel berbunyi. Ternyata itu tanda jam makan siang. Salah satu tuan rumah mengingatkan waktunya makan siang di lantai dua. Ini wujud budaya disiplin mereka sehari-hari, makan siang bersama di jam yang sudah disepakati atau direncanakan.
Tiba di lantai dua, kami diajak menggunakan sandal putih bersih, seperti sandal hotel pada umumnya. Dua meja makan dipenuhi berbagai menu sehat dan menantang lidah.
Meja makan tertata rapih, lengkap dengan sendok, garpu, dan serbet putih. Ruang makan itu sengaja disetting di pelataran teras lantai dua. Semacam setengah rooftop. Tuan rumah mempersilahkan kami lebih dulu mengambil makanan. Sementara mereka berdiri menunggu.
Setelah semua duduk di meja makan, salah satu tuang rumah memimpin doa dengan bahasa universal, bahasa Indonesia. Lalu makanan lezat itu segera bertempur dengan cacing-cacing di perut kami. Hidangan lezat itu ditutup dengan puding buah segar.
Tanpa arahan siapa-siapa, tuang rumah, terutama anak-anak muda Komunitas Eden dengan sigap membersihkan bekas makanan. Di rumah ini, mereka semua, tanpa kecuali, punya tugas dan tanggung jawab untuk membersihkan dan menyiapkan semua kebutuhan rumah.
Kami kembali ke lantai satu. Sambil menyambung diskusi ringan, diselingi banyak canda, tuan rumah kembali menyuguhi kami dengan slice red velvet cake dan cokelat yang diukir Indah berwarna merah putih.
Subhanallah, kenikmatan yang enggak terhingga. Memang benar ya, SURGA itu indah, nikmat, damai, dan menyejahterahkan jiwa raga.
Kami menutup kegiatan Hang Out Kebinekaan – Generasi Literat dengan mendengarkan kesan-kesan peserta, anak-anak muda lintas agama.
Selain mereka menyampaikan bahwa pertemuan ini telah mematahkan stigma yang selama ini mereka dengar tentang Komunitas Eden, beberapa peserta juga bilang: “Saya ingin kembali lagi berkunjung ke rumah Eden.”
Lalu, aku dan Kak Rachman nyeletuk, “Ingat, kalau nanti kesini lagi, harus nyapu.”
Dan kami semua ketawa selepas-lepasnya.
*
Di dalam kereta Jakarta Kota-Bogor, Minggu, 27 Oktober 2026


