Oleh: Era Nurza
–
Di istana ia bicara angka
Bukan mantra, bukan janji bunga
“Angka tak bisa bohong,” katanya lantang
Kata-kata lah yang pandai berdusta
Baca juga: Kumpulan Puisi Karya Edi S Febri: "IMAJI TAK MENEPATI JANJI"
Ia hantam yang suka main belakang
Ia bongkar laci yang lama mengendap
Dana rakyat bukan untuk ditabung di bank
Tapi untuk rakyat yang lapar dan sesak
Terlalu jujur untuk sebuah panggung
Terlalu lurus untuk jalan yang bengkok
Ia teknokrat tanpa seragam kuning, biru, merah
Maka ia dianggap duri di dalam jongkok
Setahun ia injak gas
Yang lain sibuk injak rem
Ia bicara tentang tumbuh
Mereka bicara tentang helm
Baca juga: RADIO
Lalu datang surat pendek
Tak perlu alasan, tak perlu debat
“Terima kasih, kau sudah bekerja,”
Pulanglah, ini bukan tempatmu yang hebat
kini ia tertawa di kolam belakang
Mancing mujair, nila, dan tanya yang dalam
“Kenapa dipecat?” tanyanya pada air
Air menjawab: “Karena kau tak pandai menyelam.”
Selamat pensiun, Pak Purbaya
Di negeri di mana yang jujur harus curiga
Kau terlalu bersih untuk lumpur
Maka lumpur lah yang memecatmu secara resmi negara
Padang, 20 September 2026


