Rabu, 07 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Investasi Hulu Migas Butuh Kepastian Regulasi

Oleh: Johanis Kopong

​

​Potensi Investasi Hulu Migas Masih Terbuka Lebar

Baca juga: RD Ponsianus Ongirwalu Ajak 15 Anak Hebat Terus Bertumbuh dalam Kasih

Saumlaki | suaraanaknegeri.com – Rabu, 7 Oktober 2026. ​Peluang peningkatan investasi sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia masih terbuka lebar. Besarnya potensi sumber daya yang belum dikembangkan menjadi salah satu alasan perlunya investasi terus didorong, terutama melalui dukungan kebijakan dan kepastian regulasi.

​Dukungan pemerintah melalui penyempurnaan kebijakan serta fleksibilitas skema kontrak dinilai menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya tarik investasi hulu migas.

​Kolaborasi antara pemerintah, regulator, dan pelaku usaha juga dinilai perlu terus diperkuat untuk mendorong kegiatan eksplorasi, menemukan cadangan baru, meningkatkan produksi, sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.

Baca juga: BRI Resmi Luncurkan BRImo Taiwan, Perluas Akses Layanan Keuangan bagi Diaspora Indonesia di Taiwan

​Pelaku Usaha Siap Meningkatkan Investasi

​Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Bayu Kusuma Dewanto, mengatakan pelaku usaha pada dasarnya memiliki keinginan untuk meningkatkan investasi di sektor hulu migas.

​Menurut Bayu, besarnya investasi hulu migas Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sektor tersebut masih memiliki ruang pertumbuhan.

​”Pelaku usaha sebenarnya mau investasi besar-besaran. Kalau bicara angka investasi hulu US15 miliar atau Rp276 triliun. PHE 2025 itu spend US5 miliar. Apa yang dibutuhkan? Kerja sama yang bagus,” ujar Bayu dalam konferensi pers menuju Forum Ekonomi Hulu Migas 2026, Selasa (6/10).

​PHE sendiri disebut berencana meningkatkan belanja investasinya hingga sekitar 1,5 kali lipat dibandingkan 2025. Langkah serupa, menurut Bayu, juga berpotensi ditempuh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk mempertahankan maupun meningkatkan investasinya.

​Tantangan Produksi Minyak

​Kebutuhan investasi hulu migas diperkirakan semakin besar seiring tantangan menjaga produksi minyak nasional.

​PHE saat ini juga menggarap sejumlah proyek besar, termasuk pengembangan enhanced oil recovery (EOR) berbasis chemical serta pengembangan migas nonkonvensional.

​”PHE ada beberapa yang besar, paling besar Rokan MNK dan EOR chemical. Karena produksi minyak konvensional tidak sejalan dengan kebutuhan. Kebutuhan minyak grafiknya menunjukkan curam, sementara produksi hampir stagnan,” kata Bayu.

​Menurutnya, investasi hulu migas tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan produksi, tetapi juga meningkatkan cadangan melalui kegiatan eksplorasi.

​Dari sekitar 128 cekungan migas yang ada di Indonesia, masih terdapat sekitar separuh cekungan yang belum tersentuh kegiatan eksplorasi secara signifikan.

​”Kita coba menyentuh itu, kita coba tapping ke situ dengan uang yang siap kita investasikan,” ujarnya.

​Eksplorasi Membutuhkan Kepastian

​Namun, investasi eksplorasi memiliki karakteristik berbeda karena membutuhkan modal besar, waktu panjang, serta menghadapi risiko yang tinggi.

​Setelah pengeboran eksplorasi dilakukan dan ditemukan potensi minyak atau gas, hasil penemuan tersebut masih membutuhkan waktu sebelum dapat dikembangkan dan diproduksikan secara komersial.

​Karena itu, kepastian regulasi dan keekonomian proyek menjadi pertimbangan penting bagi pelaku usaha ketika menentukan keputusan investasi.

​Bayu menekankan bahwa besarnya modal yang dibutuhkan serta panjangnya periode pengembalian investasi membuat konsistensi kebijakan menjadi faktor penting.

​”Kita spend US$15 miliar di 2025 ini sangat-sangat besar. Jadi tanpa ada kepastian hukum dan kepastian kebijakan akan sangat sulit bagi pelaku usaha apa pun itu untuk bisa menginvestasikan uangnya,” tegasnya.

​Iklim Investasi Dinilai Membaik

​Sementara itu, pengamat migas Universitas Trisakti sekaligus Founder Reforminer Institute, Pri Agung Rakhmanto, menilai iklim investasi hulu migas Indonesia dalam lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan positif.

​Menurut Pri Agung, pemerintah telah melakukan sejumlah pembenahan fundamental dalam kebijakan kontrak bagi hasil, terutama melalui pemberian fleksibilitas yang lebih besar dalam skema kontrak.

​“Lima tahun terakhir iklim investasi Indonesia membaik. Pasca gross split, 2020 sampai sekarang pemerintah sudah melakukan perbaikan fundamental, paling baik fleksibilitas kontrak,” ujar Pri Agung.

​Menurut dia, perbaikan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku usaha karena Indonesia masih diperhitungkan sebagai salah satu negara tujuan investasi migas di kawasan Asia Pasifik.

​”Di Asia Pasifik, Indonesia selalu dilirik. Termasuk papan atas kompetitifnya,” katanya.

​Masih Ada Sejumlah Catatan

​Meski demikian, Pri Agung menyebut masih terdapat sejumlah persoalan yang menjadi catatan bagi investor. Sebagian persoalan tersebut, menurutnya, berada di luar kewenangan langsung lembaga yang melakukan pengawasan sektor hulu migas.

​“Beberapa hal jadi catatan, tapi itu di luar jangkauan pihak yang melakukan pengawasan. Misalnya ketidakpastian UU Migas, ketidakpastian DMO,” ujarnya.

​Selain aspek regulasi, tekanan fiskal juga menjadi tantangan tersendiri dalam pemberian insentif bagi industri hulu migas.

​Menurut Pri Agung, pandangan bahwa industri migas sangat bergantung pada dukungan keuangan negara dapat memengaruhi ruang pemerintah dalam memberikan insentif fiskal.

​“Ada tekanan fiskal. Cara pandang industri ini menggunakan uang negara sering memberikan kekakuan dalam memberikan insentif fiskal,” katanya.

​Karena itu, perbaikan iklim investasi tidak hanya bergantung pada kinerja regulator sektor hulu migas. Konsistensi kebijakan secara lebih luas juga menjadi bagian penting untuk menjaga daya saing investasi Indonesia.

​Kepastian kerangka hukum, kewajiban pemenuhan kebutuhan domestik atau Domestic Market Obligation (DMO), serta fleksibilitas fiskal menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam menghadapi persaingan investasi migas di kawasan.

​Sinergi Semua Pihak Diperlukan

​Direktur Eksekutif Indonesia Petroleum Association (IPA), Marjolijn Wajong, turut menekankan pentingnya sinergi seluruh pihak dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.

​Menurutnya, tantangan investasi menjadi semakin besar ketika produksi migas mengalami penurunan, sementara potensi sumber daya yang masih tersedia membutuhkan investasi eksplorasi dalam skala besar.

​”Ciptakan investasi hari ini jauh lebih sulit. Misalnya kita sudah declining, tapi potensi masih besar. Ini eksplorasi yang besar-besar butuh investasi besar. Di Forum Ekonomi Hulu Migas kita bisa temukan solusinya,” ujar Marjolijn.

​Dorongan investasi hulu migas dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan besarnya modal yang tersedia, tetapi juga menyangkut kepastian hukum, fleksibilitas kontrak, keekonomian proyek, serta sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha.

​Dengan potensi sumber daya yang masih besar, keberlanjutan investasi menjadi salah satu faktor penting dalam upaya menjaga produksi, menemukan cadangan baru, dan memperkuat ketahanan energi nasional.

​(Sumber: Pernyataan narasumber dalam konferensi pers menuju Forum Ekonomi Hulu Migas 2026, Selasa, 6 Oktober 2026, diolah dan disesuaikan/ fani pandawa)

Kategori:
Tags:

Terkini